Bab Liburan di Sumbawa Barat

Masih banyak yang sering salah antara Sumbawa dan Sumba. Yang satu Nusa Tenggara Timur, yang lainnya Nusa Tenggara Barat. Kalau masih bingung juga, Sumba itu yang jadi lokasi syuting film Pendekar Tongkat Emas, dan Sumbawa yang jadi lokasi film Serdadu Kumbang.

Nah kali ini saya jalan-jalan ke Sumbawa, tepatnya Sumbawa Barat. (pantau hashtag #KSBTrip di sosial media).

Ke Sumbawa Barat

Menuju Sumbawa Barat bisa dilakukan dengan beberapa cara. Saya memilih cara termudah yaitu naik pesawat sampai ke Lombok, kemudian lanjut naik mobil sampai pelabuhan Kayangan untuk kemudian menyeberang ke Sumbawa Barat.

Pelabuhan Kayangan ini sebenarnya khusus untuk karyawan perusahaan tambang Newmont yang bisa ditumpangi masyarakat umum kalau sedang tidak penuh. Sedangkan pelabuhan umum, ada Labuan Lombok yang terletak tak jauh dari Kayangan.

Di Pelabuhan Kayangan, saya naik speedboat menuju Pelabuhan Benete yang memakan waktu hanya 1,5 jam (normalnya dengan kapal biasa memakan waktu hingga 3 jam).


Ada apa di Sumbawa Barat?
Yang pasti banyak pemandangan indah! Begitu tiba di Benete menuju desa Taliwang, saya bersama Sasha, Nico, Tika, dan Naimah sering berhenti di tengah jalan karena menemukan banyak spot cantik yang tidak boleh luput dari jepretan kamera (dan pose-pose ala Instagram). Juga pantai-pantai indah berpasir putih yang sangat menggoda.

Pada kesempatan ini saya juga mampir ke Desa Taliwang, sepintas melewati pasar tradisional dan melihat roda perekonomian yang terjadi di sana. Tak jauh dari pasar, saya singgah di salah satu rumah warga. Di sana banyak ibu-ibu warga setempat berkumpul sembari membuat jajanan tradisional.

Palopo dan Gogos
Dua diantara jajanan tradisional yang saya cicip adalah palopo dan gogos. Gogos yang serupa dengan lemper, lebih banyak dijumpai di daerah lain, sedangkan palopo lebih “otentik” dari Sumbawa Barat. Terbuat dari susu kerbau, gula merah, dan para (semacam terong berduri). Karena aroma yang terlalu menusuk, saya kurang bisa menikmati makanan lokal ini.

Sembari makanan lokal yang lebih familiar seperti nagasari, saya berbincang dengan ibu-ibu setempat ini. Mereka sengaja membuat perkumpulan ibu-ibu untuk membuat jajanan lokal dengan tujuan dijual di pasar dan mendapat uang tambahan. Sedangkan modalnya, mereka dibiayai oleh Newmont, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan 100% tanpa modal.

Sop Sum-Sum Kerbau

Saya belum pernah ngeliat sop sum-sum yang tulangnya GEDE BANGET kayak gini. Awalnya sempat syok sama ukurannya. Pas nyicipin, ternyata enak. Perut pun kenyang. Usai makan, kami berbincang-bincang dengan mas Ari dan mas Yoyok – tour guide kita selama di Sumbawa, sembari berusaha mencari sinyal handphone yang agak malu-malu.

Banyak cerita menarik yang saya tangkap dari percakapan itu, seperti misalnya kalau di Sumbawa itu lebih terbiasa “memagari” sawah daripada mengandangkan kuda-kudanya. Walaupun berkeliaran bebas, sebagian kuda-kuda yang kita lihat di Sumbawa Barat sudah menjadi milik warga setempat.

Saya bertanya penasaran, “bagaimana kuda-kuda ini mengenali tuannya, dan kembali lagi kalau dibiarkan lepas di alam bebas?”

Mas Ari menjawab, “banyak peternak yang menggunakan metode seperti ini. Ketika muda, kuda-kuda itu diberi minum air garam. Kemudian setelah terbiasa, ketika kuda tersebut minum air yang rasanya berbeda, mereka akan bingung, dan kemudian kembali lagi ke tempat mereka minum air garam tersebut.”

Cara tradisional yang ampuh, menurut saya. Saya enggan googling lebih lanjut apakah air garam, aman bagi kuda atau tidak.

Ayam Taliwang
Tidak afdol kalau sudah ke desa Taliwang, tapi nggak makan ayam Taliwang. Bersama mas Ari dan mas Yoyok, kami menuju rumah warga Taliwang yang memang sering masak-masak. Di sanalah kami bertemu Bu Timah yang sedang memasak ayam taliwang untuk kami. Dari dapurnya yang sederhana, terciptalah makanan super enak dengan tingkat kepedasan luar biasa. Biasanya kalau di restoran taliwang, kita makan ayam bumbu taliwang menggunakan sayur plecing, maka di rumah Ibu Timah kami menikmati kepedasan ayam taliwang bersama sop panas yang segar.

Lembah Reklamasi
Sebenarnya nggak ada yang namanya lembah reklamasi. Dalam perjalanan kali ini, saya berkesempatan masuk ke dalam wilayah tambang Newmont dan melakukan wisata di dalam tambang. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah lembah reklamasi ini. Awalnya saya kurang paham kenapa kawasan reklamasi ini begitu istimewa, sampai saya melihat sendiri. Jadi perusahaan ini punya komitmen untuk mengembalikan ekosistem yang sebelumnya menjadi lokasi eksploitasi tambang seperti semula.

Nah di lembah ini saya bisa melihat bukit yang masih asli, bukit dari hasil reklamasi, lembah yang masih dalam proses reklamasi, dan daerah yang belum direklamasi. Dari perbandingan itu, saya melihat hampir nggak ada bedanya antara bukit asli, dan bukit hasil reklamasi, yang artinya upaya yang dilakukan cukup berhasil.

Cerita lain dari proses reklamasi ini adalah, perusahaan membutuhkan coconet untuk menguatkan tanah dan penyebaran bibit. Coconet ini terbuat dari jalinan sabut kelapa. Kemudian saya baru tahu kalau coconet ini dibuat manual oleh ibu-ibu daera sekitar pertambangan. Jadi dalam setahun, ibu-ibu ini bekerja mempersiapkan coconet yang kemudian dibeli oleh Newmont untuk dipakai dalam proses reklamasi. (Dan saya ikutan nyoba bikin coconet ini. Hihihi)

Pit Tour
Salah satu kesempatan langka adalah berkunjung ke pit, dan melihat haul truck yang segede robot transformer berseliweran ke sana ke sini. Untuk bisa di sini, kita wajib mengikuti semua peraturan yang berlaku demi keselamatan sendiri

DSCF0789

 

DSCF0881

 

 

 

Concentrator Visit
Setelah melihat proses penambangan, saya berkesempatan melihat proses pengolahan hasil tambang demi menghasilkan konsentrat. Saya belajar banyak sekali (sesekali teringat pelajaran jaman sekolah dulu) tentang proses pengolahan tambang. Perusahaan tambang ini mengolah konsentrat hingga 95% di Batu Hijau, Sumbawa Barat.

DSCF0888

Pantai Maluk
Pasir putih, laut biru dengan perairan tenang, latar belakang bukit-bukit hijau, dan sederet warung lokal yang menjajakan es kelapa muda segar. Semua kriteria tempat favorit saya ada di sini! Di tambah posisi Pantai Maluk menghadap ke arah barat, sehingga bisa jadi spot yang keren buat lihat sunset.

 

j j j

Bab Router DWR 116, Si Penyelamat Berjaringan 4G

Happy New Year 2015!

Alhamdulillah bisa mengakhiri tahun 2014 dan mengawali 2015 dengan menyenangkan: “pulang kampung” ke Jogja dan traveling ke Sumbawa Barat & Thailand (blog menyusul). Tapi nggak ada yang lebih nyaman selain tidur di kamar sendiri, setuju?

Begitu kembali dari traveling yang saya lakukan adalah:

  1. Unpacking
  2. Masukin cucian kotor
  3. Transfer foto-foto dari kamera ke laptop
  4. Upload foto-foto ke semua sosial media
  5. Nulis blog

Oke, kegiatan 1,2, dan 3 berhasil dilakukan. Tapi begitu mau upload foto ke media sosial dan posting blog, ternyata internet di kamar mati. Usut punya usut, router di rumah kos saya sudah berumur cukup tua dan sering bermasalah saat memancarkan sinyal wifi dari modem.

DSCF9181

Setelah berapa kali diutak-atik, ternyata router lama ini memang harus segera pensiun. Saya pun melakukan serah terima tugas dan jabatan dari router lama ke router baru: D-Link Wireless N300 Multi-WAN Router. Proses pemindahan dari router lama ke yang baru pun ternyata punya cerita sendiri.

Proses Serah-Terima

Nah, sebagai orang yang jarang gonta-ganti router, tentu saya lupa dan tidak punya data internet yang dibutuhkan agar router dengan modem bisa tersingkronisasi. Maka sebelum menggantinya, kita bisa melakukan 2 cara ini:

  1. Melakukan clone MAC address dari router lama, kemudian datanya tinggal copy-paste ke router baru. Setelah melakukan clone, jangan lupa rebooting modemnya agar bisa berhasil connect dan internet bisa digunakan.
  2. Kalau cara pertama dirasa terlalu geeky, alternatif lain adalah: telepon provider internetnya, minta semua data-data yang dibutuhkan ketika melakukan set up router pertama kali. Setelah semua data terisi dengan benar, niscaya internet bisa bekerja dengan semestinya.

Perlu diperhatikan dengan teliti ketika sedang melakukan setting pertama pemasangan wireless ini, karena mungkin bukan hal yang sederhana bagi orang awam, tapi cukup mudah dilakukan ketika kita mengikuti semua panduannya.

Testimoni Tentang D-Link Wireless N300 Multi-WAN Router

DSCF9193

DSCF9198

DSCF9197

Ini pertama kalinya saya memakai wireless yang bisa menerima internet, tidak hanya dari kabel LAN, tetapi juga dari USB mobile broadband. USB mobile broadband ini biasa dikeluarkan provider internet berjaringan GSM/CDMA. Nah, kebetulan router ini sudah bisa menerima dan menyebarkan teknologi 4G (walau sayangnya, belum banyak provider di Indonesia yang sudah punya teknologi 4G).

Menariknya, kalau kita punya internet kabel dan juga internet mobile, kita bisa menggunakan kedua jaringan ini di router yang sama. Jadi begitu salah satu internet mati (misalnya internet dari mobile providernya mati) secara otomatis, internet dari kabel LAN akan tersambung sebagai back up (bisa berlaku sebaliknya, tergantung jaringan mana yang kita pakai sebagai jaringan utama).

DSCF9200

Selain itu antena router ini ada 2 (sedangkan router lama saya hanya 1) dan langsung terasa bedanya karena sinyal wifi lebih kuat dan stabil.

Sekarang, karena kuatnya sinyal wifi dari D-Link Wireless N300 Multi-WAN Router, di kamar mandi saja sekarang saya bisa wifi-an. Happy!

Kalau mau lihat spesifikasi produknya, bisa cek sendiri ke: http://www.dlink.co.id/ Atau facebook fanpagenya: https://www.facebook.com/DlinkIndonesia

j j j

Bab Rekening Virtual

 

IMG_0862 (1) Raline 2 (1)

Semasa SD, pergi ke bank dan menabung adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Waktu itu saya merasa pergi ke bank dan mengantri di teller adalah pekerjaan yang paling keren, karena bisa mengantri bersama orang dewasa lainnya untuk menabung tentunya di rekening saya sendiri.

Namun, nampaknya kesenangan mengantri di bank lambat laun memudar sesuai pertambahan usia saya. Semakin gede, semakin males. Apalagi sekarang… Bukan apa-apa, namanya juga sudah besar, sudah kerja, punya kesibukan yang padat (jiyee padat) jadi susah banget kalo mau ke bank. Mesti izin kantor dulu, nyari bank nya, riweuh, keburu males. Padahal tujuannya paling cuma buat ngeprint rekening koran.

Selain itu tren di kalangan pergaulan saya, apa-apa mainnya sudah transfer. Contohnya pas makan siang:

X: “Eh gue nggak bawa cash nih, bayarin dulu dong, gue transfer sekarang”
Y: “Gue juga juga bayarnya pake kartu sih, yaudah ntar lo transfer ke gue aja ya”

Percakapan di atas sering banget saya alami. Bukan karena males bayar, tapi lebih males bawa cash dan males ngambil duit di ATM (buset, ke ATM aja males). Jadinya, sejak semua punya smartphone, dan kartu debit atau kartu kredit, makan aja maunya tinggal gesek (apalagi kalau ada promo diskon. Hihihi). Di smartphone saya paling nggak ada 3 aplikasi perbankan yang mempermudah kegiatan transfer-transferan. Dan ini juga terjadi sama teman-teman saya lainnya. Masalah transfer-transferan ini pun akhirnya menimbulkan problematika baru: beda bank! Akhirnya, saya perlu nambahin Rp. 5000 – Rp. 7500 perak lagi buat bayar biaya transfer antar bank. Kalau diitung-itung dalam sebulan kan lumayan banget.

Terus saya bilang, “lo buka rekening di bank yang kayak gue dong, biar transfernya gratis”. Malah nyuruh-nyuruh, hahaha. Eh doi malah nyamber dengan anggun “makanya pakai bank yang kalau mau transfer antar bank, sama transaksi lainnya gratis”.

Emang dasarnya saya nggak mau rugi, saya malah fokus sama bank yang dikasih tahu teman saya ini. Emang ada? Atas rekomendasi teman saya yang bilang kalau bank nya bebas biaya transaksi kalau saldo minimal sejuta, browsing lah saya tentang CIMB Niaga. Terus cari tahu bank ini punya tabungan apa aja. Awalnya agak males sih, karena mikir harus pergi ke bank dulu untuk buat rekening baru. Tapi… JRENG! Ada 1 tabungan yang bikin buat saya tertarik banget, namanya ON Account. Soalnya bisa buka rekening TANPA HARUS KE BANK dan nggak ada biaya adminnya! Oke, saya baca syarat dan langkah-langkahnya. Nggak ribet kok. Tinggal registrasi online, trus ntar bakal didatengin sama pegawai bank nya. Singkat cerita, setelah saya daftar, besoknya saya ditelfon sama CIMB Niaga, trus janjian ketemu petugasnya buat ngasih dokumen dan ngasih setoran awal. Ketemuannya bisa di kantor, atau di kafe, atau di mana aja (nggak mungkin di jalan sih). Kemudian, besoknya bener lho, si petugasnya datang ke Pizza e Birra, tempat kita janjian (ini jelas bukan blind date ya). Dan saya cuma tanda tangan, ngasih setoran tunai (yang bisa debit dari kartu ATM bank lain), trus langsung dapet kartu ATM nya deh. Canggih!

Sesuai janji masnya, katanya kalau buka On Account, kita langsung dapet Poin Xtra. Nah poin ini bisa dipakai buat macem-macem kayak bayar bill di kafe, atau nonton. Nah kemarin saya sudah pakai nonton di XXI, dan beneran bisa! Yay! Jadi intinya, saya sekarang punya rekening CIMB Niaga tapi belum pernah ke bank nya sama sekali karena buka account nya via online. Statement bulanan pun tinggal tunggu diemail saja. Yang penasaran sama ON Account, dan cara-caranya bisa klik www.cimbniaga.com

As a foodie, dan orang yang gemar makan bareng temen-temen yang punya kebiasaan nggak bawa cash atau ngandalin promo kartu kredit, jelas sih ini berguna banget. Apa boleh buat, namanya juga anak muda, perlu gaul dan senang makan. Kebayang kan kalo lagi tanggal tua bisa tetep jadi foodie dengan bermodal Poin Xtra itu asik banget? Ini pertama kalinya saya punya rekening bank baru yang nggak pake ribet, dan manfaatnya sesuai dengan yang saya butuhkan saat ini. Mudah-mudahan ke depannya CIMB lebih banyak menawarkan promosi dengan Poin Xtra dan fitur On Account jadi makin keren!

 

j j j

Bab Rasa dan Estetika

IMG_0566.JPG

IMG_9684.JPGIMG_0107.JPGIMG_0319.JPG

Begitu saya meninggalkan kota Jogja ada satu kekhawatiran yang muncul di benak saya: rindu kuliner-kuliner lokal lezat yang tersebar di penjuru kota.

Betul. Saya sangat rindu dengan semua masakan manis-pedas yang begitu otentik itu. Namun, di ibukota yang keras ini, saya menemukan petualangan lain untuk lidah saya. Petualangan kuliner yang mengawinkan keindahan estetika.

Saya memilih kata kawin, karena ini yang saya rasakan hampir di setiap restoran masakan Indonesia di Jakarta. Ketika kita berbicara hubungan 2 variabel, pasti akan berhadapan dengan toleransi, adaptasi, dan konsekuensi berkomitmen untuk saling menyeimbangkan.

Sewaktu melihat sajian-sajian cantik yang terhidang di meja, saya tidak berekspektasi menemukan kelezatan yang begitu orisinil, otentik, yang membuat kesepakatan sempurna antara lidah dan otak mengenai rasa. Lezat, tentu saja. Tapi ada batasan yang tak bisa dilewati karena menurut teori saya ini adalah bentuk toleransi rasa pada visual.

Berbeda dengan menu-menu lokal di Jogja (atau warung-warung pinggir jalan) yang begitu egois pada rasa, mengabaikan visual, sehingga kepuasan yang terjadi adalah kepuasan satu pihak.

Namun saya tetap menikmati perjalanan kuliner saya. Menikmati makanan lezat yang disempurnakan dengan presentasi cantik di ruangan bercitarasa interior desainer. Kecantikan yang mudah terekam oleh kamera, namun perlu sedikit effort agar terekam kuat di lidah dengan begitu banyaknya tempat sejenis.

Laksana budaya Jawa, selalu ada hikmah dari setiap cerita. Instagram feed saya semakin ramai berisi sejumlah foto pengguhah selera. Yumm!

j j j

Bab Sweet Dreams Walking Tour, Melbourne

Untuk ukuran kota Melbourne di musim gugur, cuaca cerah di hari Sabtu pagi adalah hal yang berharga. Karena semua orang tahu, kondisi cuaca ini bisa saja berubah dalam hitungan menit. Tapi saya beruntung, karena cuaca cerah hingga sore hari, dan menjadi hari yang tepat untuk saya mengikuti Sweet Dreams Walking Tour. (Ps: tur ini sangat saya rekomendasikan kalau kamu suka kuliner, terutama dessert)

Pergilah saya ke daerah South Yarra dan bertemu dengan tour guide sekaligus penggagas Sweet Dreams Walking Tour ini: Andrew Prior. Kalau kamu mengikuti acara reality show Master Chef Australia, Andrew ini adalah salah satu kontestannya. Perawakannya besar, dan sangat ramah. Andrew banyak menjelaskan bagaimana ia memulai bisnis tur ini pasca kepulangannya dari TV Show Masterchef, dan bagaimana ia didukung oleh pemilik kafe dan cake shop di Melbourne, bahkan didukung oleh Tourism Victoria hingga tur nya ini masuk dalam daftar list resmi situs Visit Melbourne.

Seperti namanya, di tur ini kami berjalan dari cake shop satu, ke cake shop lainnya sembari mencicip menu terbaik yang ditawarkan. Petualangan saya dimulai oleh satu cake shop mungil yang pemiliknya adalah kewaraganegaraan Malaysia: LuxBite. Apa yang saya temukan? Sederet macarons dengan gradasi warna super cantik, seperti melihat katalog kain, atau cat tembok, tapi semuanya bisa dimakan.

Selanjutnya kami beranjak ke Traiteur. Sebuah bakery shop kecil, tapi cantik banget tidak jauh dari LuxBite. Di sana saya disuguhkan eclairs aneka rasa dan semuanya enak. Saya paling suka rasa kelapa dan dark chocolate. Yummm…

Setelah makan eclairs yang nyaris bikin kenyang. Kamipun beranjak ke cake shop selanjutnya kami melanjutkan tur menuju Zumbo. Tempatnya cantik banget! Sayang saya terlalu kenyang untuk mencicip kudapan manis yang ada di sini. Akhirnya cuma foto-foto tempatnya aja. Setelah Zumbo, kami singgah di Burch & Purchese untuk membeli coklat kemasan, dan aneka camilan menggugah selera. B&P ini tempat yang cocok buat belanja oleh-oleh. Soalnya selain jenis coklatnya beragam, kemasannya memungkinkan untuk dibawa perjalan jauh, plus ini memang made in Melbourne.

Tidak membuang-buang waktu lagi. Kami secepat kilat sudah memasuki A La Folie Melbourne, salah satu cake shop di Melbourne yang sangat terkenal dengan macarons nya. Bahkan malam sebelumnya, Michael Buble sempat mampir untuk membeli sekotak macarons.

Nah, sampailah kita pada pemberhentian terakhir (perut rasanya sudah mau meledak, saking kenyangnya. Tapi anehnya mulut nggak capek-capek buat ngunyah). Tempat terakhir ini, memang cocok jadi tempat penutup: Ganaché Chocolate. Selain menawarkan coklat yang kayak diturunin dari surga, kita juga bisa belajar bikin coklat sendiri dengan standar kafe ini. Sayang, waktu saya tidak cukup untuk belajar bikin coklat karena saya sudah mendaftar tur lain yang jadwalnya sangat berdekatan.

Tapi saya sungguh puas dengan Sweet Dreams Walking Tour ini. Apalagi Andrew orangnya lucu dan sangat informatif mengenai kafe-kafe hits dan recommended di Melbourne.

Kalau lagi di Melbourne, dan mau reservasi bisa kunjungi webnya di sini.

 

j j j

Bab Open Door, Jakarta

Beberapa akhir pekan yang lalu, saya mencoba “kabur” dari rutinitas nongkrong saya yang seputaran Menteng, Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Senopati, dan Senayan. “Pengen nyoba sesuatu yang baru,” niat saya. Lalu, saya kabur ke daerah Jakarta Barat, daerah Central Park. Di sana saya menemukan 1 tempat lucu buat nongkrong: Open Door!

Tempatnya menyenangkan. Lokasinya ada di seberang lobby apartment Royal Mediterania Garden, samping Central Park. Tema interiornya lebih ke industrial dengan banyak spot foto lucu yang saya bilang sebagai “instagram material”. Walaupun tempatnya keren, saya tidak merasa saltum dan terintimidasi kalau datang dengan pakaian santai. Kenapa? Karena banyak penghuni apartment yang turun ke sini untuk makan siang, ngopi, bahkan cari hot spot. So homey! 

Makanannya? Saya paling suka crispy baby calamary (IDR 40). Calamary nya digoreng kering dan nggak berminyak, plus bumbu pedes yang bikin tangan saya nggak berhenti ngambil. Recommended.

Kalau makanan berat kemarin saya nyobain Kimchi Kalbi Burger (IDR 60). Kayak namanya, burger ini nggak pake daun selada, tapi pake kimchi sebagai sayurannya. Selain itu ada beef patty, dan sunny side up yang bikin menu ini cocok buat brunch atau lunch (ya nggak apa-apa juga sih kalau mau dinner).

Selain itu saya juga sempat nyicipin Grilled Spring Chicken (IDR 80). Langsung jadi favorit saya sebagai anak yang lagi giat-giatnya ke gym (yea rite) tapi pengen makan enak, di tempat enak, tapi sehat dan nggak terlalu ngerusak diet.

Dessert yang perlu kamu coba di sini adalah Tokyo Banana (IDR 42). Enggak tahu apakah beneran impor dari Jepang, atau bikin sendiri, tapi yang jelas rasanya ENAK! Will come back again for this dessert.

Kalau saya lihat menunya, ada banyak pilihan Asian atau Western (atau fusion Asian-Western) yang enak buat dicicip, seperti nasi goreng tengah kota (IDR 38), atau es campur Panna Cotta (IDR 32).

See! Nggak rugi kan jalan-jalan ke luar daerah “kekuasaan” kita. Paling nggak, sekarang saya tahu harus nongkrong ke mana kalau sedang di seputaran Central Park.

Info tempat:

Open Door
Apartment Royal Mediterania Garden Lobby
Jalan Letjen S. Parman Kav 28
Tanjung Duren, Jakarta Barat
+62 21 2942 7007
www.opendoorjkt.com

j j j

Bab: Edelman x ART|JOG|14

Saya senang sekali, tahun ini saya mewakili kantor bisa ikut terlibat dalam membantu pelaksanaan ART|JOG|14. Ini adalah video testimoni tamu, seniman, dan orang-orang yang ada dibalik art fair terbesar di Yogyakarta (mungkin juga Indonesia).

Dalam pengerjaannya, tim Edelman dibantu oleh Nico Wijaya sebagai videografer untuk project ini.

j j j

Bab GAZI Restaurant, Melbourne

Tahu George Calombaris? Juri MasterChef Australia ini sering saya tonton di Star World. Di Melbourne, saya punya kesempatan mencicip menunya di salah satu restoran miliknya yang ada di Melbourne: GAZI. Mari kita nilai, apakah makanannya seenak komentarnya.

Restoran GAZI ini menjadi salah satu restoran Greek yang paling populer di Melbourne. Lokasinya di CBD yang sangat dekat dengan Federation Square membuat tempat ini sangat mudah dicari. Begitu saya masuk ke dalam, saya lumayan tercengang dengan ratusan pot tergantung di langit-langitnya. Cantik!

Lalu, saya memperhatikan dinding-dindingnya. Saya tidak tahu apakah dulu sebelum dibangun restoran, tempat ini adalah bangunan yang penuh berisi mural dan graffiti, atau memang desainnya yang sengaja menampilkan graffiti “usang” tapi menimbulkan detail yang apik. Selain itu, dinding-dindingnya seolah menyatu dengan tembok-tembok lain di luar restoran ini.

Saya duduk di meja panjang menghadap jendela besar dengan pemandangan jalanan Melbourne yang ramai. Tidak hanya menu dari Yunani, cara makan kami pun menjadi “Greek Style”: sharing menu. Karena di Yunani biasanya mereka makan tengah, dan mencicip makanan satu dengan yang lainnya (mirip di Indonesia sih)

Okaysekarang mari melihat menunya:

Aku memesan beberapa menu seperti salad Horiatiki ($12.50), Souvlakakia chicken ($8.50), Dips ($9.50 / buah atau $19.00 / 3 buah), dan Loukomathes – perpaduan madu, nutella, dan hazelnuts ($12.50). Sampai sekarang aku masih kebayang dessertnya. Enak banget!

Ini salah satu pengalaman yang “cukup” otentik menikmati sajian Yunani di Melbourne. Meja yang selalu penuh menunjukkan bahwa tempat ini recommended untuk dicoba, dan harus pesan meja agar kamu tidak perlu mengantri.

GAZI Restaurant
2 Exhibition Street,
Melbourne, Victoria 3000
Tel: +61 3 9207 7444
www.gazirestaurant.com.au

j j j

Bab Taxi Kitchen, Melbourne

Begitu mendarat di Melbourne dan selesai dengan urusan check in hotel, saya berjalan ke arah Federation Square – landmark populer kota ini. Setelah foto-foto layaknya turis, saya memasuki satu restoran yang posisinya ditengah-tengah Federation Square: Taxi Kitchen.

Restoran ini ada di lantai 2 yang sekelilingnya berlapis kaca, menyuguhkan pemandangan Federation Square 180 derajat. Karena lapar dan butuh asupan setelah terbang 13 jam, saya langsung memesan menu utama dan dessert.

Seared salmon, warm sea lettuce & artichoke salad with a black garlic dressing ($32.00)

Seared salmon, warm sea lettuce & artichoke salad with a black garlic dressing

Salmonnya cooked well done, dan lembut. Semakin fresh dengan siraman lemon segar di atasnya. Menu siang yang tidak terlalu berat dan cukup mengenyangkan.

Herb roasted chicken with wild mushrooms ($35.00)

Herb roasted chicken with wild mushrooms

Kalau mau menu aman (di semua restoran) pesanlah roasted chicken. Tapi yang boleh saya bilang sauce nya ini enak!

Walaupun secara visual dan presentasi kedua menu di atas terlihat sangat western, tapi dari segi rasa banyak terpengaruh dengan Japanese dan Asian cuisine.

Untuk dessert, saya memesan:

Lemon meringue pie – frozen like Nan’s ($13.50)

Lemon meringue pie – frozen like Nan’s

Wow! One of the best lemon meringue pie I’ve ever tasted. Saya nggak bisa berkata banyak dengan ini.

Salah satu tempat seru yang cocok untuk jadi meeting point di Melbourne – karena semua orang tahu Federation Square di mana.

 

Taxi Kitchen
Federation Square
Swanston Street
Melbourne VIC 3000
Tel: +61 3 9654 8808
www.transporthotel.com.au

j j j

Bab Melbourne Street Art

Salah satu hal yang membuat kota Melbourne lebih “hidup” adalah kehadiran seni yang terasa sampai ke pelosok jalan. Graffiti, mural, stensil, semuanya membaur dengan apik di sepanjang dan sudut-sudut kota, seolah-olah tembok-tembok kosong itu memang disiapkan untuk “dikaryakan”.

Ada yang bilang begini, “Kalau melihat jalanan yang penuh graffiti, dan mural di Melbourne, aku nggak berasa takut. Tapi kalau aku ngeliat ini di Jakarta, aku jadi was-was.” Begitu kata seorang teman. Saya hendak membantah, tapi setelah dipikir lagi, mungkin memang benar. Jalanan yang penuh mural dan graffiti di Jakarta kebanyakan (tidak semua ya) berada di tempat-tempat yang kurang kondusif untuk dipakai jalan. Wait, hampir kebanyakan jalanan di Jakarta tidak kondusif dipakai jalan kaki, kecuali daerah Sudirman. Hahahaha. Miris ya.

Tidak seperti di Melbourne, kehadiran mural dan graffiti ini justru sepertinya “didukung” pemerintah setempat. Bahkan di Melbourne ada “Melbourne Street Art Tour.” yang dijadikan sebagai salah satu tur wisata di Melbourne. Beruntung, saya berkesempatan mencoba “Melbourne Street Art Tour” ini.

Saya bertemu dengan David di 7-Eleven dekat Federation Square. Tempat yang aneh untuk bertemu dengan seorang tour guide. Tapi begitu saya melihat David, 7-Eleven begitu “normal” dibanding penampilan tour guide saya ini. The most hipster-artsy tour guide I’ve ever had. Kacamata limited edition yang ia dapat di sebuah local shop di Sydney, topi printed yang masih ada price tag seharga 2 dollar, jaket ngejreng, semakin mencolok dengan jenggot tebal. Seorang teman berkomentar: “Mirip hobo tapi stylish, ya”.

Kami pun menelusuri jalanan-jalanan Melbourne yang penuh dengan coretan keren di sepanjang dindingnya. Mulai dari Hosier Lane, sampai berakhir di Franklin Street tempat Blender Studio – organisasi yang mengadakan tur ini berada.

Di Hosier Lane, kami melihat banyak turis yang sama seperti saya, ikutan street art tour ini. Tour guide menyebutkan banyak nama seniman-seniman jalanan yang berjasa menghiasi jalanan Melbourne. Saking banyaknya saya sampai lupa siapa saja mereka. Tapi saya berhasil menemukan stensil terakhir yang ditorehkan Banksy di kota ini. Yay!

Kalau dilihat lebih detil lagi, sebenarnya tidak hanya graffiti, mural, atau stencil saja yang bertebaran di dinding kota Melbourne, tapi ada juga artworks lain yang tersembunyi, seolah-olah mengajak kita untuk bermain mencari harta karun. Sepanjang jalan saya, selain mengamati graffiti, saya juga mencari-cari karya seni lain yang mungkin ditorehkan senimannya. Ini beberapa yang saya temukan.

Terakhir kami berkunjung Blender Studio. Art Studio ini sungguh menyenangkan. Percaya atau tidak, banyak street artists dari mancanegara yang “tinggal” di sini selama beberapa waktu saat mengunjungi Melbourne. Mereka numpang tidur, sekalian main, kalau beruntung juga ikut “berkarya” di sini. Semacam ada ikatan yang erat antara seniman-seniman jalanan di Melbourne dengan negara lainnya termasuk Indonesia. David sendiri, ia pernah stay di New York beberapa waktu dan menorehkan beberapa karya di jalanan New York. Mungkin bisa dijadikan alternatif tempat tinggal, kalau kamu berkunjung ke Melbourne. Tapi syaratnya kamu seniman graffiti atau mural, dan sudah kenal mereka sebelumnya lewat berbagai forum seni yang ada.

Info Melbourne Street Art Tours:

Blender Studios 110 Franklin St,
Melbourne 3000
Tel: +61 3 9328 5556
www.melbournestreettours.com

j j j

Bab Sunday Brunch at the Hardware Société

Hari Minggu pagi di Melbourne. Agak sulit menjelaskan apakah pagi itu cerah atau mendung. Saat keluar hotel saya disambut angin kencang dan hujan. Awalnya saya sempat ragu untuk pergi. Tapi karena punya pengalaman dengan cuaca di sini yang suka berubah-ubah, saya memutuskan untuk tetap berangkat ke The Hardware Société yang terletak di 120 Hardware St, Melbourne di daerah CBD.

Hari sebelumnya, saya diberi tahu seorang rekan kalau tempat yang akan saya kunjungi ini adalah salah satu spot wajib untuk brunch, karena punya menu makanan enak dan yang pasti kopi yang lezat (Walaupun kalau boleh jujur, susah banget untuk memutuskan tempat mana yang kopinya paling enak di Melbourne, karena semua begitu… spesial).

5 menit jalan dari Somerset on Elizabeth Hotel, saya sudah berdiri bertemu dengan waiter yang kalau tidak salah namanya Adam (saya lupa-lupa ingat namanya, tapi nanti coba saya cari lagi kartu namanya). Saya dikenalkan sama Adam hari sebelumnya oleh rekan saya. Adam menyarankan saya untuk datang sebelum jam 10 pagi agar bisa dapat table tanpa perlu antri panjang. Saat bertemu Adam, sayang sekali, ternyata saya ada di dalam daftar tunggu yang lumayan panjang. Tapi dia berjanji, akan memberikan tempat duduk kepada saya dalam waktu sekitar 20 menit.

Okelah saya pikir. Kapan lagi saya ke sini. Selama 20 menit saya berdiri di pinggir jalan, menunggu nama saya dipanggil. Bukan hal yang membosankan sebenarnya, karena saya jadi punya banyak waktu mengamati orang-orang yang rela mengantri demi menikmati menu di kafe ini. Tidak hanya anak muda saja, tapi orang-orang usia paruh baya juga banyak yang mengantri. Semakin penasaran.

20 menit berlalu, Adam memanggil nama saya dan memberikan saya meja. Waiter memberikan beberapa menu, inilah yang saya pilih: Pork Belly. One of the best brunch menu di sini. Dan pastinya flat white, kopi favorit orang Melbourne. Rasanya? Hahaha! Pastinya enak banget! Memang benar, ini salah satu tempat wajib untuk brunch, atau ngopi. Sebenarnya saya tidak sengaja memesan menu ini. Ketika saya duduk, pesanan di meja sebelah saya baru datang. Secara presentasi tampilannya sungguh menggoda. Lalu saya pun tergoda memesan yang sama.

Buat nggak bisa makan babi, ada banyak sekali menu brunch yang tidak mengandung babi, seperti egg benedict, tuna omelet, scrambled egg with salmon, dan yang lainnya.

Tempatnya menyenangkan sekali, waiters dan waitresses nya ramah ke kita dan juga… ke piaraan kita. Tempat yang tepat mengawali hari Minggu di Melbourne.

 

Info tempat:

The Hardware Société
120 Hardware St
Melbourne, Victoria, 3000
(03) 9078 5992

j j j