Bab Kuliner

Bab Open Door, Jakarta

Beberapa akhir pekan yang lalu, saya mencoba “kabur” dari rutinitas nongkrong saya yang seputaran Menteng, Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Senopati, dan Senayan. “Pengen nyoba sesuatu yang baru,” niat saya. Lalu, saya kabur ke daerah Jakarta Barat, daerah Central Park. Di sana saya menemukan 1 tempat lucu buat nongkrong: Open Door!

Tempatnya menyenangkan. Lokasinya ada di seberang lobby apartment Royal Mediterania Garden, samping Central Park. Tema interiornya lebih ke industrial dengan banyak spot foto lucu yang saya bilang sebagai “instagram material”. Walaupun tempatnya keren, saya tidak merasa saltum dan terintimidasi kalau datang dengan pakaian santai. Kenapa? Karena banyak penghuni apartment yang turun ke sini untuk makan siang, ngopi, bahkan cari hot spot. So homey! 

Makanannya? Saya paling suka crispy baby calamary (IDR 40). Calamary nya digoreng kering dan nggak berminyak, plus bumbu pedes yang bikin tangan saya nggak berhenti ngambil. Recommended.

Kalau makanan berat kemarin saya nyobain Kimchi Kalbi Burger (IDR 60). Kayak namanya, burger ini nggak pake daun selada, tapi pake kimchi sebagai sayurannya. Selain itu ada beef patty, dan sunny side up yang bikin menu ini cocok buat brunch atau lunch (ya nggak apa-apa juga sih kalau mau dinner).

Selain itu saya juga sempat nyicipin Grilled Spring Chicken (IDR 80). Langsung jadi favorit saya sebagai anak yang lagi giat-giatnya ke gym (yea rite) tapi pengen makan enak, di tempat enak, tapi sehat dan nggak terlalu ngerusak diet.

Dessert yang perlu kamu coba di sini adalah Tokyo Banana (IDR 42). Enggak tahu apakah beneran impor dari Jepang, atau bikin sendiri, tapi yang jelas rasanya ENAK! Will come back again for this dessert.

Kalau saya lihat menunya, ada banyak pilihan Asian atau Western (atau fusion Asian-Western) yang enak buat dicicip, seperti nasi goreng tengah kota (IDR 38), atau es campur Panna Cotta (IDR 32).

See! Nggak rugi kan jalan-jalan ke luar daerah “kekuasaan” kita. Paling nggak, sekarang saya tahu harus nongkrong ke mana kalau sedang di seputaran Central Park.

Info tempat:

Open Door
Apartment Royal Mediterania Garden Lobby
Jalan Letjen S. Parman Kav 28
Tanjung Duren, Jakarta Barat
+62 21 2942 7007
www.opendoorjkt.com

Standard
Bab Kuliner, Bab Traveling

Bab GAZI Restaurant, Melbourne

Tahu George Calombaris? Juri MasterChef Australia ini sering saya tonton di Star World. Di Melbourne, saya punya kesempatan mencicip menunya di salah satu restoran miliknya yang ada di Melbourne: GAZI. Mari kita nilai, apakah makanannya seenak komentarnya.

Restoran GAZI ini menjadi salah satu restoran Greek yang paling populer di Melbourne. Lokasinya di CBD yang sangat dekat dengan Federation Square membuat tempat ini sangat mudah dicari. Begitu saya masuk ke dalam, saya lumayan tercengang dengan ratusan pot tergantung di langit-langitnya. Cantik!

Lalu, saya memperhatikan dinding-dindingnya. Saya tidak tahu apakah dulu sebelum dibangun restoran, tempat ini adalah bangunan yang penuh berisi mural dan graffiti, atau memang desainnya yang sengaja menampilkan graffiti “usang” tapi menimbulkan detail yang apik. Selain itu, dinding-dindingnya seolah menyatu dengan tembok-tembok lain di luar restoran ini.

Saya duduk di meja panjang menghadap jendela besar dengan pemandangan jalanan Melbourne yang ramai. Tidak hanya menu dari Yunani, cara makan kami pun menjadi “Greek Style”: sharing menu. Karena di Yunani biasanya mereka makan tengah, dan mencicip makanan satu dengan yang lainnya (mirip di Indonesia sih)

Okaysekarang mari melihat menunya:

Aku memesan beberapa menu seperti salad Horiatiki ($12.50), Souvlakakia chicken ($8.50), Dips ($9.50 / buah atau $19.00 / 3 buah), dan Loukomathes – perpaduan madu, nutella, dan hazelnuts ($12.50). Sampai sekarang aku masih kebayang dessertnya. Enak banget!

Ini salah satu pengalaman yang “cukup” otentik menikmati sajian Yunani di Melbourne. Meja yang selalu penuh menunjukkan bahwa tempat ini recommended untuk dicoba, dan harus pesan meja agar kamu tidak perlu mengantri.

GAZI Restaurant
2 Exhibition Street,
Melbourne, Victoria 3000
Tel: +61 3 9207 7444
www.gazirestaurant.com.au

Standard
Bab Kuliner, Bab Traveling

Bab Taxi Kitchen, Melbourne

Begitu mendarat di Melbourne dan selesai dengan urusan check in hotel, saya berjalan ke arah Federation Square – landmark populer kota ini. Setelah foto-foto layaknya turis, saya memasuki satu restoran yang posisinya ditengah-tengah Federation Square: Taxi Kitchen.

Restoran ini ada di lantai 2 yang sekelilingnya berlapis kaca, menyuguhkan pemandangan Federation Square 180 derajat. Karena lapar dan butuh asupan setelah terbang 13 jam, saya langsung memesan menu utama dan dessert.

Seared salmon, warm sea lettuce & artichoke salad with a black garlic dressing ($32.00)

Seared salmon, warm sea lettuce & artichoke salad with a black garlic dressing

Salmonnya cooked well done, dan lembut. Semakin fresh dengan siraman lemon segar di atasnya. Menu siang yang tidak terlalu berat dan cukup mengenyangkan.

Herb roasted chicken with wild mushrooms ($35.00)

Herb roasted chicken with wild mushrooms

Kalau mau menu aman (di semua restoran) pesanlah roasted chicken. Tapi yang boleh saya bilang sauce nya ini enak!

Walaupun secara visual dan presentasi kedua menu di atas terlihat sangat western, tapi dari segi rasa banyak terpengaruh dengan Japanese dan Asian cuisine.

Untuk dessert, saya memesan:

Lemon meringue pie – frozen like Nan’s ($13.50)

Lemon meringue pie – frozen like Nan’s

Wow! One of the best lemon meringue pie I’ve ever tasted. Saya nggak bisa berkata banyak dengan ini.

Salah satu tempat seru yang cocok untuk jadi meeting point di Melbourne – karena semua orang tahu Federation Square di mana.

 

Taxi Kitchen
Federation Square
Swanston Street
Melbourne VIC 3000
Tel: +61 3 9654 8808
www.transporthotel.com.au

Standard
Bab Seni, Bab Traveling

Bab Melbourne Street Art

Salah satu hal yang membuat kota Melbourne lebih “hidup” adalah kehadiran seni yang terasa sampai ke pelosok jalan. Graffiti, mural, stensil, semuanya membaur dengan apik di sepanjang dan sudut-sudut kota, seolah-olah tembok-tembok kosong itu memang disiapkan untuk “dikaryakan”.

Ada yang bilang begini, “Kalau melihat jalanan yang penuh graffiti, dan mural di Melbourne, aku nggak berasa takut. Tapi kalau aku ngeliat ini di Jakarta, aku jadi was-was.” Begitu kata seorang teman. Saya hendak membantah, tapi setelah dipikir lagi, mungkin memang benar. Jalanan yang penuh mural dan graffiti di Jakarta kebanyakan (tidak semua ya) berada di tempat-tempat yang kurang kondusif untuk dipakai jalan. Wait, hampir kebanyakan jalanan di Jakarta tidak kondusif dipakai jalan kaki, kecuali daerah Sudirman. Hahahaha. Miris ya.

Tidak seperti di Melbourne, kehadiran mural dan graffiti ini justru sepertinya “didukung” pemerintah setempat. Bahkan di Melbourne ada “Melbourne Street Art Tour.” yang dijadikan sebagai salah satu tur wisata di Melbourne. Beruntung, saya berkesempatan mencoba “Melbourne Street Art Tour” ini.

Saya bertemu dengan David di 7-Eleven dekat Federation Square. Tempat yang aneh untuk bertemu dengan seorang tour guide. Tapi begitu saya melihat David, 7-Eleven begitu “normal” dibanding penampilan tour guide saya ini. The most hipster-artsy tour guide I’ve ever had. Kacamata limited edition yang ia dapat di sebuah local shop di Sydney, topi printed yang masih ada price tag seharga 2 dollar, jaket ngejreng, semakin mencolok dengan jenggot tebal. Seorang teman berkomentar: “Mirip hobo tapi stylish, ya”.

Kami pun menelusuri jalanan-jalanan Melbourne yang penuh dengan coretan keren di sepanjang dindingnya. Mulai dari Hosier Lane, sampai berakhir di Franklin Street tempat Blender Studio – organisasi yang mengadakan tur ini berada.

Di Hosier Lane, kami melihat banyak turis yang sama seperti saya, ikutan street art tour ini. Tour guide menyebutkan banyak nama seniman-seniman jalanan yang berjasa menghiasi jalanan Melbourne. Saking banyaknya saya sampai lupa siapa saja mereka. Tapi saya berhasil menemukan stensil terakhir yang ditorehkan Banksy di kota ini. Yay!

Kalau dilihat lebih detil lagi, sebenarnya tidak hanya graffiti, mural, atau stencil saja yang bertebaran di dinding kota Melbourne, tapi ada juga artworks lain yang tersembunyi, seolah-olah mengajak kita untuk bermain mencari harta karun. Sepanjang jalan saya, selain mengamati graffiti, saya juga mencari-cari karya seni lain yang mungkin ditorehkan senimannya. Ini beberapa yang saya temukan.

Terakhir kami berkunjung Blender Studio. Art Studio ini sungguh menyenangkan. Percaya atau tidak, banyak street artists dari mancanegara yang “tinggal” di sini selama beberapa waktu saat mengunjungi Melbourne. Mereka numpang tidur, sekalian main, kalau beruntung juga ikut “berkarya” di sini. Semacam ada ikatan yang erat antara seniman-seniman jalanan di Melbourne dengan negara lainnya termasuk Indonesia. David sendiri, ia pernah stay di New York beberapa waktu dan menorehkan beberapa karya di jalanan New York. Mungkin bisa dijadikan alternatif tempat tinggal, kalau kamu berkunjung ke Melbourne. Tapi syaratnya kamu seniman graffiti atau mural, dan sudah kenal mereka sebelumnya lewat berbagai forum seni yang ada.

Info Melbourne Street Art Tours:

Blender Studios 110 Franklin St,
Melbourne 3000
Tel: +61 3 9328 5556
www.melbournestreettours.com

Standard
Bab Kuliner, Bab Traveling

Bab Sunday Brunch at the Hardware Société

Hari Minggu pagi di Melbourne. Agak sulit menjelaskan apakah pagi itu cerah atau mendung. Saat keluar hotel saya disambut angin kencang dan hujan. Awalnya saya sempat ragu untuk pergi. Tapi karena punya pengalaman dengan cuaca di sini yang suka berubah-ubah, saya memutuskan untuk tetap berangkat ke The Hardware Société yang terletak di 120 Hardware St, Melbourne di daerah CBD.

Hari sebelumnya, saya diberi tahu seorang rekan kalau tempat yang akan saya kunjungi ini adalah salah satu spot wajib untuk brunch, karena punya menu makanan enak dan yang pasti kopi yang lezat (Walaupun kalau boleh jujur, susah banget untuk memutuskan tempat mana yang kopinya paling enak di Melbourne, karena semua begitu… spesial).

5 menit jalan dari Somerset on Elizabeth Hotel, saya sudah berdiri bertemu dengan waiter yang kalau tidak salah namanya Adam (saya lupa-lupa ingat namanya, tapi nanti coba saya cari lagi kartu namanya). Saya dikenalkan sama Adam hari sebelumnya oleh rekan saya. Adam menyarankan saya untuk datang sebelum jam 10 pagi agar bisa dapat table tanpa perlu antri panjang. Saat bertemu Adam, sayang sekali, ternyata saya ada di dalam daftar tunggu yang lumayan panjang. Tapi dia berjanji, akan memberikan tempat duduk kepada saya dalam waktu sekitar 20 menit.

Okelah saya pikir. Kapan lagi saya ke sini. Selama 20 menit saya berdiri di pinggir jalan, menunggu nama saya dipanggil. Bukan hal yang membosankan sebenarnya, karena saya jadi punya banyak waktu mengamati orang-orang yang rela mengantri demi menikmati menu di kafe ini. Tidak hanya anak muda saja, tapi orang-orang usia paruh baya juga banyak yang mengantri. Semakin penasaran.

20 menit berlalu, Adam memanggil nama saya dan memberikan saya meja. Waiter memberikan beberapa menu, inilah yang saya pilih: Pork Belly. One of the best brunch menu di sini. Dan pastinya flat white, kopi favorit orang Melbourne. Rasanya? Hahaha! Pastinya enak banget! Memang benar, ini salah satu tempat wajib untuk brunch, atau ngopi. Sebenarnya saya tidak sengaja memesan menu ini. Ketika saya duduk, pesanan di meja sebelah saya baru datang. Secara presentasi tampilannya sungguh menggoda. Lalu saya pun tergoda memesan yang sama.

Buat nggak bisa makan babi, ada banyak sekali menu brunch yang tidak mengandung babi, seperti egg benedict, tuna omelet, scrambled egg with salmon, dan yang lainnya.

Tempatnya menyenangkan sekali, waiters dan waitresses nya ramah ke kita dan juga… ke piaraan kita. Tempat yang tepat mengawali hari Minggu di Melbourne.

 

Info tempat:

The Hardware Société
120 Hardware St
Melbourne, Victoria, 3000
(03) 9078 5992

Standard
Bab Traveling

Bab Four Seasons in One Day

Salah satu yang terkenal dari Melbourne adalah cuacanya yang tidak menentu. Orang-orang menyebutnya four seasons in one day. Karena bisa saja pagi harinya panas, siangnya hujan, sorenya berangin, malamnya panas lagi, trus tiba-tiba kembali hujan.

Semua orang yang tinggal di Melbourne paham betul dengan cuaca seperti ini.

Saya berkunjung ke Melbourne saat sedang autumn. Daun-daun sudah berwarna kuning-kemerahan. Cantik! Suhu rata-rata sekitar 9-18 derajat celcius, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari itu. Cuma yang pasti, dengan suhu sesejuk itu, dalam sehari saya bisa terkena terik matahari, hujan lebat (walaupun tidak pernah selebat hujan di daerah tropis), berangin, dan berawan. Cukup ekstrim sih perubahannya.

Pengalaman saya dengan four seasons in one day ini hampir terjadi sepanjang minggu, selama saya ada di Melbourne. Tapi, saya tidak akan mengeluh dengan semua romantisme yang muncul ketika hujan di Melbourne. Lagian, kapan lagi kita bisa traveling di negeri 4 musim, dan merasakan 4 musim (tentu saja tanpa salju) dalam sehari?

Trik menghadapi suhu yang berubah-ubah seperti ini adalah dengan selalu menyediakan payung atau poncho di dalam tas, membawa shawl yang bisa dipakai kalau lagi dingin, dan yang pasti sepatu anti slip. Oh iya, pastikan kamu membawa pelindung air buat gadgetmu yang belum punya fitur waterproof.

Standard
Bab Traveling

Bab Melbourne 1

Jadi ingat pertama kali “terbang” ke luar negeri tahun 2011 kemarin.

Waktu itu, saya baru tergerak untuk membuat paspor gara-gara kompetisi IT Travelers Go yang diadain sama TAITRA. Ternyata masuk jadi 4 peserta dari Indonesia yang diberangkatkan jalan-jalan ke 3 negara: India, Vietnam, dan Taiwan. Gratis (Plus 18 gadget dari merk Taiwan). Itulah 3 negara pertama yang menghiasi halaman cap imigrasi paspor saya.

Kemarin… Saya terbangun dengan pemandangan garis horizon dari balik pesawat Qantas menuju Melbourne via Sydney. Ini pertama kalinya, saya ke luar benua Asia sejak pertama kali punya paspor. (Lagi-lagi) gratis. Kali ini, bukan karena lomba atau menang kompetisi. Tapi karena kerja. Alhamdulillah.

Standard
asiatri
Bab Eksis, Bab Seni

Bab AsiaTri (1)

Salah satu keinginan saya sebelum meninggalkan Jogja adalah nonton AsiaTri. Sebuah dance festival yang diselenggarakan oleh 3 negara: Jepang, Korea, dan Indonesia.

Setiap tahun, AsiaTri selalu diselenggarakan di 3 negara itu dengan mengundang seniman-seniman dari berbagai negara. AsiaTri untuk Indonesia hampir selalu diadakan di Jogja, tepatnya di Museum Ullen Sentalu. Nah, ini pengalaman pertama saya menonton event internasional itu. Semangat, pasti! Apalagi setelah menyaksikan performance hari pertama ini. Sebuah hiburan gratis yang berkualitas. Oh iya, ini acara gratis. Cuma butuh effort lebih aja untuk menempuh 24KM menanjak ke arah Merapi. Tapi apa yang kita tonton sungguh sepadan.

Kalau kamu ada di Jogja sampai tanggal 4 Oktober 2012 besok, jangan lupa untuk nonton acara ini, gratis. Mulai dari jam 7 malem sampe selesai.

Foto-foto ini adalah pertunjukan terakhir hari pertama. Saya lupa nama-namanya. Yang jelas mereka adalah seniman dari Jepang yang mengajak 2 penari kita untuk berkolaborasi (Salah satunya Mila Rosinta, kenalan saya). Mereka layak dijadikan penutup. Luar biasa keren!

 

Standard
Bab Eksis

Bab SmarTEST

Setelah tahun lalu saya berhasil jalan-jalan gratis ke 4 negara lewat IT Travelers Go, tahun ini TAITRA dalam campaign TAIWAN EXCELLENCE nya ngadain program lagi dengan hadiah yang lebih gede: smarTEST.

Kayak namanya, smarTEST ini kuis adu pintar yang nyari orang “terpintar” di 4 negara (Indonesia, India, Vietnam, dan Cina) untuk diadu di Taiwan.

Kompetisi ini udah mulai sejak bulan Juli kemarin. Tahap awal, para peserta diminta menjawab 1000 soal dalam 24 jam, lalu dicari jawaban dengan skor tertinggi, dan dalam waktu tercepat. 10 finalis akan masuk ke tahap 2.

Di tahap 2 ini, 10 finalis mendapat tantangan setiap minggunya. Mereka diminta mengerjakan tantangan menggunakan SMART PRODUCTS dari TAIWAN EXCELLENCE dan menuliskannya, diperkuat dengan foto juga merekamnya dalam video. Setiap minggu, satu finalis dengan vote terendah (iya, vote terendah) akan dieliminasi.

6 besar yang lolos, diundang ke Jakarta tanggal 15-16 September 2012 untuk mengikuti final. Kalau selama tahap eliminasi awal para peserta kuat-kuatan di vote, di 4 tantangan terakhir para peserta baru benar-benar diadu kepintaran, kekreativitasnya, dan keberaniannya melalui tantangan offline.

Tantangan offline ini dimulai dari menjadi Guest Manager di Mangga Dua Mall, dan Mall Ambassador. Para finalis ditantang untuk menjelaskan SMART PRODUCTS dari Taiwan Excellence, dan jika memungkinkan melakukan Selling. Finalis yang mendapat vote offline terendah yang tereliminasi (Taufik).

Keesokan harinya, para finalis ditantang kembali menjawab pertanyaan berupa TTS seputar Taiwan Excellence. Finalis dengan nilai terendah harus gugur (Azmiah).

Tantangan berlanjut ke presentasi dan menjawab pertanyaan dari Juri. Pada tantangan ini finalis diminta untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan “Jika Aku Menjadi Taiwan Excellence Brand Ambassador”, dan menjawab pertanyaan dari juri. Satu finalis dengan nilai penjurian paling rendah harus tereliminasi (Arya).

Nah tersisalah 3 orang yang sudah resmi menjadi Tim Indonesia di ajang SmarTEST. Mereka akan beradu pintar dengan tim dari negara lainnya. Tapi sebelum itu, ketiga finalis ini dites lagi melalui soal cerdas cermat untuk mendapatkan titel Taiwan Excellence Brand Ambassador dan memenangkan US$ 5000. Dan pemenangnya adalah Willyanto alias Fufu, finalis termuda dari Indonesia dengan usianya yang baru 17 tahun!

Next

Tanggal 12 Oktober mendatang, Fufu, Hendri, dan Eldhy akan berangkat ke Taiwan untuk memperebutkan hadiah US$ 30.000!

Saya sebagai wakil Indonesia di IT Travelers Go tahun lalu mendapat kehormatan diminta menjadi juri untuk SmarTEST di Indonesia kemarin. Senang dan bangga sih, bisa ngejuri bareng Cathy Sharon dan Mr. Wayne segala :D

Saya berharap Tim Indonesia SmarTEST bisa memberikan yang terbaik! Selamat menikmati TAIPEI teman-teman! :D

 

Standard