Bab Menjelajah Kawah Ijen

Keimpulsifan kami berlanjut dari Malang, Bromo, dan kini menuju Ijen.

Nah… Sebenarnya kami nggak tahu banyak tentang Ijen selain kawah yang cantik dan blue flame legendarisnya. Tapi dengan modal tekad dan kelengkapan informasi di internet, kami dengan mantap meluncur ke Bondowoso sekitar pukul 10 pagi. Langsung setelah keluar dari Bromo.

Sepanjang perjalanan kami mencoba browsing tentang Ijen, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang lokasi wisata tersebut. Kami baru menemukan fakta bahwa untuk menuju Ijen, harus trekking sejauh 3KM (sekitar 1 sampai 1,5jam menuju puncak).

Permasalahan awal dimulai dari teman saya yang hanya membawa sepatu loafer. Sekali lagi… loafer. Hahahaha! Saya sendiri pakai boots. Tapi yaudah, kami toh sudah terlanjur basah dan sudah terlalu bersemangat ingin melihat Ijen.

Sekitar pukul 4 sore, kami tiba di kawasan Bondowoso. Nah, berdasarkan informasi driver kami, ada 2 lokasi bermalam yang bisa dipilih. Salah satunya adalah Arabica Homstay. Saya langsung tertarik mendengar nama homestay tersebut.

Ternyata benar dugaan saya, Arabica Homestay berada di tengah-tengah perkebunan kopi Ijen (well kalau abis nonton Filosofi Kopi, mungkin perkebunan kopi ini yang dimaksud). Homestaynya sendiri murah banget, jadi jangan berharap banyak dengan tingkat kenyamanannya. Tempat tidurnya agak berdebu, kamar mandinya sedikit kotor (untung air panasnya berfungsi), dan kamarnya lembab. Tapi untuk kamar seharga 200 ribu rupiah di kawasan Ijen, ini nggak masalah bagi kami. Toh jam 1 pagi kami sudah check out.

Tapi pemandangan sekitar homestay bagus banget! Homestaynya bahkan punya lapangan basket! Kalau sempat, coba jalan-jalan ke rumah warga di depan homestay. Rumahnya mungil, bersih, apik, tapi kebunnya spektakuler. Mengingatkan saya sama game harvest moon. Rapi, cantik, dan cukup lengkap. Saya suka sekali dengan kebun-kebun mereka. Mungkin asal ada wifi kencang, saya bisa tinggal di rumah sini selama beberapa hari. Tapi sayang sinyal XL benar-benar mati total di sini. Sedangkan telkomsel, sinyalnya ada hanya untuk telfon dan SMS saja alias sinyal internetnya juga nggak berfungsi.

Pukul 1 pagi, kami bangun dan berangkat ke Kawasan Wisata Ijen. Di sana kami bertemu dengan pemandu trekking kami, yang baik banget namanya mas Luki. Setelah cerita-cerita tentang medan yang akan kami tempuh, berangkatlah kami menuju puncak Ijen berbekal tas backpack.

Pukul 2 lewat, kami tiba di blue flame yang terkenal itu! Wow bagus banget asli! Sayangnya foto-foto saya ngeblur semua :( Tapi bagus banget.

Setelah puas melihat blue flame, maka saya dan teman saya turun ke bawah. Melihat lokasi tambang yang terletak di sisi kawah. Bau belerang yang begitu kuat, membuat saya sedikit pusing. Tapi pemandangan di Ijen bagus banget. Nggak rugi saya impulsif sampai ke sini. Kami menghabiskan waktu hingga 3-4 jam di atas menikmati pemandangan Ijen yang luar biasa. Pukul 9 pagi, kami sudah kembali ke bawah.

Tips:

Olahraga sebelum mendaki gunung itu wajib hukumnya untuk menjaga stamina.

Pakai sepatu trekking yang bener. Atau paling nggak, sepatu olahraga.

Jaket tebel boleh, tapi ntar pas trekking kita bakal keringetan, terus gerah, akhirnya jaket cuma jadi pemberat aja.

JANGAN BAWA LAPTOP DI DALAM TAS. Berat banget! Iya, kebodohan saya sebagai city boy adalah memasukkan laptop 14 inch ke dalam tas gunung saya yang akhirnya malah seperti batu bata karena berat.

Satu setengah jam berlalu dengan penuh perjuangan, akhirnya kami melihat blue flame ijen yang terkenal itu! BAGUS BANGET!

Setelah puas foto-foto, kami lanjut turun ke bawah. Menunggu langit terang, dan ngeliat cantiknya kawah ijen yang warna biru kehijauan.

Cerita Penambang Ijen

Yang menarik dari perjalanan Ijen sebenarnya bukan bagaimana saya berjuang mendaki gunung 3KM, tetapi sepanjang saya mendaki dan turun gunung, banyak sekali mas-mas, bapak-bapak, hingga kakek-kakek yang memikul keranjang berisi batu belerang.

Cerita miris pun saya dengar dari mas Luki yang memang kalau tidak ada tamu, kerjaannya adalah penambang belerang. Para pria di kawasan ini banyak yang berprofesi sebagai penambang, sekali angkut mereka mampu membawa 60KG batu belerang. Perlu diketahui, memanggul batu belerang seberat itu dengan medan pegunungan seperti Ijen tidaklah mudah. Ditambah, mereka hanya memakai pengaman seadanya yaitu masker biasa untuk meminimalisir efek aroma belerang.

Perjuangan keras mereka hanya dihargai sekitar 900 rupiah per KG (bahkan 1000 rupiah pun nggak sampai). Dalam sehari, mereka hanya mampu bolak-balik 2 kali, sehingga maksimal batu belerang yang mereka dapatkan per hari adalah 120KG. Dalam sehari bapak-bapak ini mengantongi sekitar 108 ribu rupiah.

Mungkin bapak-bapak ini sudah terbiasa naik turun gunung dengan memikul 60KG di bahu mereka, tetapi jika terjadi kecelakaan (amit-amit) siapa yang akan menanggung? Karena saya baru tahu mereka adalah pekerja lepas yang tidak terikat kontrak.

Bapak-bapak ini menambang belerang hampir tiap hari kecuali Jumat, karena terpotong Sholat Jumat, dan hari istirahat bersama keluarga. Cerita mereka sudah pernah terekam dalam video dokumenter Perancis yang membuat kawasan ini banyak dihadiri turis dari Eropa tersebut.

j j j

Bab Wisata Gunung Bromo

Perubahan rencana yang cukup mendadak, membuat kami benar-benar memanfaatkan internet dan testimoni para sahabat untuk riset sebelum berangkat ke Bromo.

Dari hasil riset tersebut, kami memberanikan diri untuk tidak memakai jasa tour and travel. Lalu kami memilih cara yang paling nyaman, masuk akal, dan cukup murah yang bisa ditemukan saat itu. Begini kira-kira itinerary singkatnya:

Kami menyewa mobil Innova di Malang dari rekomendasi teman kami dengan harga 600 ribu/hari. Tentu sewa mobil ini akan lebih murah kalau kita beramai-ramai.

Dari rekomendasi beberapa blog backpackers, kami memutuskan berangkat dari kota Malang tengah malam (sekitar pukul 12 malam) sehingga tidak perlu menyewa kamar untuk bermalam saat di Bromo.

Selama perjalanan kami numpang tidur di mobil, dan bangun-bangun sudah sampai di kaki Bromo! Yay! Sekitar pukul 2 pagi, kami langsung mengunjungi rumah penyewaan mobil jeep (kebetulan mobil rentalan yang kami sewa punya kenalan di Bromo, jadi kami tidak perlu mencari penyewaan jeep lagi). Harga rental jeep itu 600 ribu/mobil untuk 4 spot Bromo (sunrise, kawah, pasir berbisik, bukit teletubbies). Lagi, semakin banyak orang, tentu harga sewanya semakin lebih murah.

Perjalanan kami menggunakan jeep dimulai pukul 3 pagi. Spot pertama adalah sunrise point. Setelah berbincang dengan driver/tour guide kami, sebenarnya waktu terbaik datang ke Bromo adalah antara Juli-Agustus. Kalau bulan-bulan musim hujan seperti sekarang ini, bisa-bisa kita tidak dapat sunrise karena tertutup awan. “Tapi ya untung-untungan mas. Kadang dapet, kadang enggak,” ungkap si bapak.

Ternyata hari itu kita sangat beruntung! Kami berhasil melihat sunrise di Bromo yang cantik banget! Setelah cukup terang, kami beranjak menuju kawah, disusul pasir berbisik dan bukit teletubbies. Sebenarnya kalau sudah sampai Bromo, orang-orang setempat bisa langsung memandu kita, tanpa perlu kebingungan.

Total biaya transportasi dari Malang ke Bromo adalah:

Rental Mobil 600.000

Rental Jeep    600.000

Tiket masuk   35.000 (kalau nggak salah kami dapat diskon, dari si bapak pemandu kami)

Total: 1.235.000 untuk 2 orang (hingga 4 orang). Alias 617.000 per orang kalau berangkat berdua, atau 309.000 kalau berempat.

Dari Bromo, entah kesambet apa, kami malah tidak jadi kembali ke Surabaya untuk terbang ke Bali. Tapi kami justru lanjut ke… Ijen!

j j j

Bab Bermain Paralayang di Batu, Malang

Setelah 2 hari menyelesaikan jalan-jalan di Jawa Timur Park Complex, saya memutuskan menambah satu hari lagi untuk berkeliling di kota Batu.

Mumpung masih di sini, saya ingin memenuhi 1 bucket list saya: bermain paragliding di Gunung Banyak, Songgoriti, Batu. Saya sebelumnya menelfon penyedia layanan paralayang, Mas Surya Futol yang saya dapat dari hasil googling. Dari mas Surya ini, saya dihubungkan dengan Mas Ardi, orang yang jadi tandem (plus pemandu) saya selama di udara. Nah ketika menelepon mas Surya, dia belum bisa memastikan saya bisa terbang atau tidak, karena cuaca beberapa hari sebelumnya tidak menentu.

Saat hari H, saya mendapat SMS dari mas Surya kalau angin siang itu mendukung untuk terbang. HORE! Langsung saja kami tancap gas ke Gunung Banyak menggunakan aplikasi Waze, dan arahan dari penduduk lokal.

Di perjalanan kami sempat ragu dengan medan yang ternyata cukup sulit untuk dilalui. Sepeda motor yang kami kendarai sampai kewalahan mengantar kami hingga puncak. Untung pemandangannya bagus, jadi beberapa kali kami berhenti buat mengambil gambar. Sampai di puncak, saya bertemu dengan Mas Ardi dan langsung siap-siap untuk terbang (tanpa mengantri). Di sini saya merasakan enaknya booking online, karena pengunjung yang lain harus mengantri panjang sampai 14 orang. Harga untuk bermain paralayang ini: 350 ribu/orang.

Bermain paragliding itu seperti bermain surfing. Kita harus  sabar menunggu angin berhembus ke arah yang tepat. Kalau tidak ada bantuan angin, kita tidak akan bisa terbang. Saya mendapat giliran pertama untuk terbang, baru disusul oleh teman saya. Pas di udara… rasanya…. SUMPAH SERU BANGET!

Rasanya kayak beban hidup selama ini ikutan terbang semua. Oke yang barusan lebay. Tapi memang itu pengalaman pertama saya main paragliding dan menyenangkan sekali.

Let your #imagination takes you where you want to be.. #vsco #vscocam #travel #liveauthentic

A photo posted by Ivan Loviano (@iphann) on

Jeda antara saya dengan teman saya itu sekitar 20 menit. Namun ternyata, 20 menit itu bisa mengubah semua rencana kami. Angin dan cuaca mendadak kurang bersahabat. Teman saya terpaksa menunggu angin berhembus dari arah yang tepat. Sayang… Hingga sore, angin tidak memberi kesempatan kedua untuk hari itu. Kami terpaksa kembali, dan teman saya tidak jadi terbang.

Tapi walau tidak jadi terbang, teman saya sudah banyak mendapat foto-foto bagus selama di puncak Gunung Banyak. Dan kami tetap happy sehingga memutuskan untuk… menunda kepulangan kami dan lanjut ke Gunung Bromo! Horeee!


Tips:

  • Booking online lebih dulu sangat disarankan
  • Periksa prakiraan cuaca sebelum datang, kalau bisa datang pada musim panas.
  • Bawa kamera gopro! yang sudah ada tongsisnya. Kalau nggak punya kamera GoPro, pake handphone aja, nanti kita dipinjemin tongsis yang sudah dilengkapi dengan alat pengaman agar tidak jatuh.
j j j

Bab Jawa Timur Park 1 & Museum Angkut+

Hari Kedua: Jawa Timur Park 1

Di Kompleks Jawa Timur Park 1 ini ada 3 wahana yang perlu dikunjungi: Jatim Park 1, Museum Tubuh, dan Batu Eco Park.

Batu Eco Park.
Taman ini menyenangkan sekali! Gabungan antara Bali Bird Park, dan Taman Pintar Yogyakarta. Di sini banyak satwa burung (lengkap banget, terus bisa diajak foto-foto). Dan ada wahana lainnya kayak spot khusus yang menjelaskan proses biogas, pengembangbiakan jamur, sampai wahana rumah terbalik (kalau di dufan adanya rumah miring), dan flying fox. Semua itu bisa kita nikmati gratis tanpa biaya tambahan. Biaya tambahan hanya untuk foto bareng sama burung-burung sebesar 5 ribu rupiah.

DSCF1520

DSCF1489

Museum Tubuh
Satu-satunya alasan kenapa kita perlu ke museum tubuh, karena di sini ada satu-satunya instalasi mayat yang dikuliti dan diawetkan di Indonesia. Semua mayatnya sudah melalui proses plastinasi. Seram? Sedikit, tapi saya lebih banyak kagumnya. Kita bisa skip semua lantai Museum Tubuh ini (karena ini lebih ditujukan ke pengunjung yang masih sekolah) dan langsung masuk ke bagian instalasi mayat yang sudah di plastinasi ini.

Jatim Park 1
Dibanding semua tempat di kompleks Jatim Park, Jatim Park 1 yang paling kurang menarik minat saya karena memang ditujukan untuk keluarga dan anak-anak. Isinya banyak miniatur budaya Indonesia (semacam TMII) dan ada wahana permainan di rute akhirnya.

Hari Kedua: Museum Angkut+

Sebelum saya mulai bercerita tentang Museum Angkut+ Movie Star Studio, tempat ini KEREN BANGET dan cocok buat kita yang suka foto-foto dan narsis. Kenapa?

Karena Museum+ ini selain menampilkan koleksi otomotif yang didisplay sesuai tema (misalnya transportasi Jakarta, transportasi perang, Jepang, Italia, dll) tempat ini juga seperti studio foto yang luaaaaaas banget. Sepanjang museum, ada beberapa kendaraan yang bisa kita naiki dan foto-foto di dalamnya. Semakin seru dengan konsep tematik dipikirkan dengan sangat detil dan niat. Satu tempat yang nggak boleh dilewatkan saat di Batu, Malang.

j j j

Bab Jawa Timur Park 2 & BNS

Postingan sebelumnya: Bab Traveling Tanpa Rencana…

Hari Pertama: Jawa Timur Park 2

Hari pertama di Batu, kami langsung mengunjungi Jatim Park 2. Kami membeli Tiket Sakti, yaitu tiket terusan untuk 2 hari dan bisa masuk ke semua wahana wisata Kompleks Jawa Timur Park: Jawa Timur Park 1, Jawa Timur Park 2, Museum Angkut, Museum Tubuh, Batu Eco Park, dan Batu Night Spectacular. Untuk yang ingin mengeksplorasi Jatim Park, saya rekomendasikan beli Tiket Sakti ini karena jatuhnya lebih murah yaitu Rp275,000,-.

Karena banyaknya lokasi yang akan kita eksplor, maka rute yang kami rekomendasikan adalah:

Hari Pertama: Jawa Timur Park 2, Batu Night Spectacular

Hari Kedua: Jawa Timur Park 1, Museum Angkut

Oke, di Jatim Park 2 ini terdiri dari 2 wahana: Batu Secret Zoo, dan Museum Satwa. Ini adalah wahana terbaru dari kompleks Jatim Park, dan menurut saya paling keren dan wajib dikunjungi.

Batu Secret Zoo ini bisa dibilang kebun binatang terbaik yang pernah saya kunjungi di Indonesia. Satwanya lengkap, dan terlihat sehat, lalu pengelola juga sadar dengan pengunjung lanjut usia, dan cacat, sehingga menyediakan sepeda listrik yang bisa disewa selama di dalam wahana dengan harga 100 ribu rupiah / 3 jam. Kita juga bisa berfoto bersama binatang-binatang lucu dengan biaya tambahan 5 ribu rupiah. MURAH BANGET! Favorit saya di Batu Secret Zoo ini adalah kolam Flamingo. Saya bisa duduk-duduk di kursi, menikmati es krim, dan memandang kawanan flamingo.

Museum Satwa juga membuat saya berdecak kagum. Bagaimana pengelola museum ini sangat memperhatikan estetika dan posisi peletakan materi museumnya. Semua dibagi berdasarkan kategori tertentu, yang ditata apik, sehingga pengunjung bisa menikmati setiap kategori dengan nyaman. Saya bangga Indonesia punya tempat seperti ini.

Hari Pertama: Batu Night Spectacular

Bayangkanlah pasar malam, tapi lengkap dengan taman lampion, dan beragam permainan seru. Batu Night Spectacular ini cocok banget kalau kamu suka main wahana liburan seperti dufan, cuma dalam versi lebih mini. Cewek-cewek pasti demen ke taman lampionnya buat foto-foto. Sayang, kita harus membayar lagi untuk setiap permainan yang akan kita ikuti. Karena Tiket Sakti hanya untuk tiket masuk saja dan tidak termasuk untuk tiket setiap wahana.

Tips:

  • Sebaiknya datang saat Jatim Park 2 baru buka, yaitu jam 10 pagi, agar tidak kehabisan waktu menikmati semua wahanyanya. 
  • Jangan lupa tanya kepada petugas kapan jadwal foto bareng dengan anak harimau. (Karena jarang-jarang kan foto sama bayi macan)
  • Biasanya akhir pekan lebih banyak acara menarik yang tidak ditemui di hari kerja. Tapi kekurangannya, pengunjung akhir pekan pasti lebih banyak dari hari lainnya.
  • Saat di BNS, wajib naik sepeda layang. Saya kemarin sempat mencoba studio 4D, tetapi kurang suka.
j j j

Bab Traveling Tanpa Rencana…

Sifat impulsif tidak selamanya buruk. Kadang kalau kita traveling tanpa rencana, justru banyak hal yang bisa kita ekslpor dan kepuasan yang saya dapat selama liburan menjadi berlipat ganda.

Itu yang saya alami selama spring break kemarin. Spring break? Hahaha, lebih tepatnya career break. Saya punya waktu sekitar 3 minggu dan memutuskan dipakai buat traveling ke Malang dan Bali.

Satu hari sebelum keberangkatan, saya memeriksa semua jadwal penerbangan yang tersedia dari Jakarta ke Malang dengan membandingkan harga di www.tiket.com dan www.traveloka.com. Dari pengalaman tersebut, saya mendapatkan insight kalau traveloka menawarkan tiket lebih murah dari tiket.com untuk tiket Jakarta-Malang. Maka saya menyelesaikan transaksi saya di traveloka membeli tiket Sriwijaya Air. Hore!

Jakarta – Malang

Berangkatlah saya ke Malang bersama satu orang teman saya yang sama gilanya karena mau ikut diajak traveling tanpa rencana. Baiknya lagi, dia langsung nawarin nginep di villa tantenya yang ada di Batu. Jadi kami bisa hemat tempat tinggal selama 3 hari! Yay!

Pukul 15:00 – Kami tiba di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Bandaranya kecil banget!

Tips: Sembari menunggu koper, segeralah memesan taksi kalau tidak ada yang menjemput di Bandara. Sebab, ketersediaan taksi sangat terbatas. Kalau kehabisan taksi, kita bisa menunggu lama untuk taksi selanjutnya datang.

Malang – Batu

Di Malang, saya tidak mengeksplor banyak, karena villa tempat kami menginap itu berlokasi di Batu (Jaraknya kurang lebih 30 menit – 1 jam dari kota Malang). Tapi kami sempat mencicip es krim di Toko Oen, Malang yang rasanya mirip Ragusa di Jakarta, dan Tip-Top di Jogja. Tapi di sini pegawainya niat banget memakai kostum kolonial. Selesai menikmati es krim, kami langsung meluncur ke Batu.

Toko Oen Malang

Toko Oen Malang

Ekslpor Batu – Kompleks Jawa Timur Park

Beruntungnya kami, villa yang kami tumpangi di Batu ternyata hanya berjarak 3 menit saja dari lokasi Jatim Park! Hari pertama di Batu, kami langsung mengunjungi Jatim Park 2. Kami membeli Tiket Sakti, yaitu tiket terusan untuk 2 hari dan bisa masuk ke semua wahana wisata Kompleks Jawa Timur Park: Jawa Timur Park 1, Jawa Timur Park 2, Museum Angkut, Museum Tubuh, Batu Eco Park, dan Batu Night Spectacular. Untuk yang ingin mengeksplorasi Jatim Park, saya rekomendasikan beli Tiket Sakti ini karena jatuhnya lebih murah yaitu Rp275,000,-.

Karena banyaknya lokasi yang akan kita eksplor, maka rute yang kami rekomendasikan adalah:

Hari Pertama: Jawa Timur Park 2, Batu Night Spectacular

Hari Kedua: Jawa Timur Park 1, Museum Angkut

Cerita lengkap selama di Batu angkat dibeberkan dalam postingan berikutnya.

to be continued…

j j j

Bab Liburan di Sumbawa Barat

Masih banyak yang sering salah antara Sumbawa dan Sumba. Yang satu Nusa Tenggara Timur, yang lainnya Nusa Tenggara Barat. Kalau masih bingung juga, Sumba itu yang jadi lokasi syuting film Pendekar Tongkat Emas, dan Sumbawa yang jadi lokasi film Serdadu Kumbang.

Nah kali ini saya jalan-jalan ke Sumbawa, tepatnya Sumbawa Barat. (pantau hashtag #KSBTrip di sosial media).

Ke Sumbawa Barat

Menuju Sumbawa Barat bisa dilakukan dengan beberapa cara. Saya memilih cara termudah yaitu naik pesawat sampai ke Lombok, kemudian lanjut naik mobil sampai pelabuhan Kayangan untuk kemudian menyeberang ke Sumbawa Barat.

Pelabuhan Kayangan ini sebenarnya khusus untuk karyawan perusahaan tambang Newmont yang bisa ditumpangi masyarakat umum kalau sedang tidak penuh. Sedangkan pelabuhan umum, ada Labuan Lombok yang terletak tak jauh dari Kayangan.

Di Pelabuhan Kayangan, saya naik speedboat menuju Pelabuhan Benete yang memakan waktu hanya 1,5 jam (normalnya dengan kapal biasa memakan waktu hingga 3 jam).


Ada apa di Sumbawa Barat?
Yang pasti banyak pemandangan indah! Begitu tiba di Benete menuju desa Taliwang, saya bersama Sasha, Nico, Tika, dan Naimah sering berhenti di tengah jalan karena menemukan banyak spot cantik yang tidak boleh luput dari jepretan kamera (dan pose-pose ala Instagram). Juga pantai-pantai indah berpasir putih yang sangat menggoda.

Pada kesempatan ini saya juga mampir ke Desa Taliwang, sepintas melewati pasar tradisional dan melihat roda perekonomian yang terjadi di sana. Tak jauh dari pasar, saya singgah di salah satu rumah warga. Di sana banyak ibu-ibu warga setempat berkumpul sembari membuat jajanan tradisional.

Palopo dan Gogos
Dua diantara jajanan tradisional yang saya cicip adalah palopo dan gogos. Gogos yang serupa dengan lemper, lebih banyak dijumpai di daerah lain, sedangkan palopo lebih “otentik” dari Sumbawa Barat. Terbuat dari susu kerbau, gula merah, dan para (semacam terong berduri). Karena aroma yang terlalu menusuk, saya kurang bisa menikmati makanan lokal ini.

Sembari makanan lokal yang lebih familiar seperti nagasari, saya berbincang dengan ibu-ibu setempat ini. Mereka sengaja membuat perkumpulan ibu-ibu untuk membuat jajanan lokal dengan tujuan dijual di pasar dan mendapat uang tambahan. Sedangkan modalnya, mereka dibiayai oleh Newmont, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan 100% tanpa modal.

Sop Sum-Sum Kerbau

Saya belum pernah ngeliat sop sum-sum yang tulangnya GEDE BANGET kayak gini. Awalnya sempat syok sama ukurannya. Pas nyicipin, ternyata enak. Perut pun kenyang. Usai makan, kami berbincang-bincang dengan mas Ari dan mas Yoyok – tour guide kita selama di Sumbawa, sembari berusaha mencari sinyal handphone yang agak malu-malu.

Banyak cerita menarik yang saya tangkap dari percakapan itu, seperti misalnya kalau di Sumbawa itu lebih terbiasa “memagari” sawah daripada mengandangkan kuda-kudanya. Walaupun berkeliaran bebas, sebagian kuda-kuda yang kita lihat di Sumbawa Barat sudah menjadi milik warga setempat.

Saya bertanya penasaran, “bagaimana kuda-kuda ini mengenali tuannya, dan kembali lagi kalau dibiarkan lepas di alam bebas?”

Mas Ari menjawab, “banyak peternak yang menggunakan metode seperti ini. Ketika muda, kuda-kuda itu diberi minum air garam. Kemudian setelah terbiasa, ketika kuda tersebut minum air yang rasanya berbeda, mereka akan bingung, dan kemudian kembali lagi ke tempat mereka minum air garam tersebut.”

Cara tradisional yang ampuh, menurut saya. Saya enggan googling lebih lanjut apakah air garam, aman bagi kuda atau tidak.

Ayam Taliwang
Tidak afdol kalau sudah ke desa Taliwang, tapi nggak makan ayam Taliwang. Bersama mas Ari dan mas Yoyok, kami menuju rumah warga Taliwang yang memang sering masak-masak. Di sanalah kami bertemu Bu Timah yang sedang memasak ayam taliwang untuk kami. Dari dapurnya yang sederhana, terciptalah makanan super enak dengan tingkat kepedasan luar biasa. Biasanya kalau di restoran taliwang, kita makan ayam bumbu taliwang menggunakan sayur plecing, maka di rumah Ibu Timah kami menikmati kepedasan ayam taliwang bersama sop panas yang segar.

Lembah Reklamasi
Sebenarnya nggak ada yang namanya lembah reklamasi. Dalam perjalanan kali ini, saya berkesempatan masuk ke dalam wilayah tambang Newmont dan melakukan wisata di dalam tambang. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah lembah reklamasi ini. Awalnya saya kurang paham kenapa kawasan reklamasi ini begitu istimewa, sampai saya melihat sendiri. Jadi perusahaan ini punya komitmen untuk mengembalikan ekosistem yang sebelumnya menjadi lokasi eksploitasi tambang seperti semula.

Nah di lembah ini saya bisa melihat bukit yang masih asli, bukit dari hasil reklamasi, lembah yang masih dalam proses reklamasi, dan daerah yang belum direklamasi. Dari perbandingan itu, saya melihat hampir nggak ada bedanya antara bukit asli, dan bukit hasil reklamasi, yang artinya upaya yang dilakukan cukup berhasil.

Cerita lain dari proses reklamasi ini adalah, perusahaan membutuhkan coconet untuk menguatkan tanah dan penyebaran bibit. Coconet ini terbuat dari jalinan sabut kelapa. Kemudian saya baru tahu kalau coconet ini dibuat manual oleh ibu-ibu daera sekitar pertambangan. Jadi dalam setahun, ibu-ibu ini bekerja mempersiapkan coconet yang kemudian dibeli oleh Newmont untuk dipakai dalam proses reklamasi. (Dan saya ikutan nyoba bikin coconet ini. Hihihi)

Pit Tour
Salah satu kesempatan langka adalah berkunjung ke pit, dan melihat haul truck yang segede robot transformer berseliweran ke sana ke sini. Untuk bisa di sini, kita wajib mengikuti semua peraturan yang berlaku demi keselamatan sendiri

DSCF0789

 

DSCF0881

 

 

 

Concentrator Visit
Setelah melihat proses penambangan, saya berkesempatan melihat proses pengolahan hasil tambang demi menghasilkan konsentrat. Saya belajar banyak sekali (sesekali teringat pelajaran jaman sekolah dulu) tentang proses pengolahan tambang. Perusahaan tambang ini mengolah konsentrat hingga 95% di Batu Hijau, Sumbawa Barat.

DSCF0888

Pantai Maluk
Pasir putih, laut biru dengan perairan tenang, latar belakang bukit-bukit hijau, dan sederet warung lokal yang menjajakan es kelapa muda segar. Semua kriteria tempat favorit saya ada di sini! Di tambah posisi Pantai Maluk menghadap ke arah barat, sehingga bisa jadi spot yang keren buat lihat sunset.

 

j j j

Bab Router DWR 116, Si Penyelamat Berjaringan 4G

Happy New Year 2015!

Alhamdulillah bisa mengakhiri tahun 2014 dan mengawali 2015 dengan menyenangkan: “pulang kampung” ke Jogja dan traveling ke Sumbawa Barat & Thailand (blog menyusul). Tapi nggak ada yang lebih nyaman selain tidur di kamar sendiri, setuju?

Begitu kembali dari traveling yang saya lakukan adalah:

  1. Unpacking
  2. Masukin cucian kotor
  3. Transfer foto-foto dari kamera ke laptop
  4. Upload foto-foto ke semua sosial media
  5. Nulis blog

Oke, kegiatan 1,2, dan 3 berhasil dilakukan. Tapi begitu mau upload foto ke media sosial dan posting blog, ternyata internet di kamar mati. Usut punya usut, router di rumah kos saya sudah berumur cukup tua dan sering bermasalah saat memancarkan sinyal wifi dari modem.

DSCF9181

Setelah berapa kali diutak-atik, ternyata router lama ini memang harus segera pensiun. Saya pun melakukan serah terima tugas dan jabatan dari router lama ke router baru: D-Link Wireless N300 Multi-WAN Router. Proses pemindahan dari router lama ke yang baru pun ternyata punya cerita sendiri.

Proses Serah-Terima

Nah, sebagai orang yang jarang gonta-ganti router, tentu saya lupa dan tidak punya data internet yang dibutuhkan agar router dengan modem bisa tersingkronisasi. Maka sebelum menggantinya, kita bisa melakukan 2 cara ini:

  1. Melakukan clone MAC address dari router lama, kemudian datanya tinggal copy-paste ke router baru. Setelah melakukan clone, jangan lupa rebooting modemnya agar bisa berhasil connect dan internet bisa digunakan.
  2. Kalau cara pertama dirasa terlalu geeky, alternatif lain adalah: telepon provider internetnya, minta semua data-data yang dibutuhkan ketika melakukan set up router pertama kali. Setelah semua data terisi dengan benar, niscaya internet bisa bekerja dengan semestinya.

Perlu diperhatikan dengan teliti ketika sedang melakukan setting pertama pemasangan wireless ini, karena mungkin bukan hal yang sederhana bagi orang awam, tapi cukup mudah dilakukan ketika kita mengikuti semua panduannya.

Testimoni Tentang D-Link Wireless N300 Multi-WAN Router

DSCF9193

DSCF9198

DSCF9197

Ini pertama kalinya saya memakai wireless yang bisa menerima internet, tidak hanya dari kabel LAN, tetapi juga dari USB mobile broadband. USB mobile broadband ini biasa dikeluarkan provider internet berjaringan GSM/CDMA. Nah, kebetulan router ini sudah bisa menerima dan menyebarkan teknologi 4G (walau sayangnya, belum banyak provider di Indonesia yang sudah punya teknologi 4G).

Menariknya, kalau kita punya internet kabel dan juga internet mobile, kita bisa menggunakan kedua jaringan ini di router yang sama. Jadi begitu salah satu internet mati (misalnya internet dari mobile providernya mati) secara otomatis, internet dari kabel LAN akan tersambung sebagai back up (bisa berlaku sebaliknya, tergantung jaringan mana yang kita pakai sebagai jaringan utama).

DSCF9200

Selain itu antena router ini ada 2 (sedangkan router lama saya hanya 1) dan langsung terasa bedanya karena sinyal wifi lebih kuat dan stabil.

Sekarang, karena kuatnya sinyal wifi dari D-Link Wireless N300 Multi-WAN Router, di kamar mandi saja sekarang saya bisa wifi-an. Happy!

Kalau mau lihat spesifikasi produknya, bisa cek sendiri ke: http://www.dlink.co.id/ Atau facebook fanpagenya: https://www.facebook.com/DlinkIndonesia

j j j

Bab Rekening Virtual

 

IMG_0862 (1) Raline 2 (1)

Semasa SD, pergi ke bank dan menabung adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Waktu itu saya merasa pergi ke bank dan mengantri di teller adalah pekerjaan yang paling keren, karena bisa mengantri bersama orang dewasa lainnya untuk menabung tentunya di rekening saya sendiri.

Namun, nampaknya kesenangan mengantri di bank lambat laun memudar sesuai pertambahan usia saya. Semakin gede, semakin males. Apalagi sekarang… Bukan apa-apa, namanya juga sudah besar, sudah kerja, punya kesibukan yang padat (jiyee padat) jadi susah banget kalo mau ke bank. Mesti izin kantor dulu, nyari bank nya, riweuh, keburu males. Padahal tujuannya paling cuma buat ngeprint rekening koran.

Selain itu tren di kalangan pergaulan saya, apa-apa mainnya sudah transfer. Contohnya pas makan siang:

X: “Eh gue nggak bawa cash nih, bayarin dulu dong, gue transfer sekarang”
Y: “Gue juga juga bayarnya pake kartu sih, yaudah ntar lo transfer ke gue aja ya”

Percakapan di atas sering banget saya alami. Bukan karena males bayar, tapi lebih males bawa cash dan males ngambil duit di ATM (buset, ke ATM aja males). Jadinya, sejak semua punya smartphone, dan kartu debit atau kartu kredit, makan aja maunya tinggal gesek (apalagi kalau ada promo diskon. Hihihi). Di smartphone saya paling nggak ada 3 aplikasi perbankan yang mempermudah kegiatan transfer-transferan. Dan ini juga terjadi sama teman-teman saya lainnya. Masalah transfer-transferan ini pun akhirnya menimbulkan problematika baru: beda bank! Akhirnya, saya perlu nambahin Rp. 5000 – Rp. 7500 perak lagi buat bayar biaya transfer antar bank. Kalau diitung-itung dalam sebulan kan lumayan banget.

Terus saya bilang, “lo buka rekening di bank yang kayak gue dong, biar transfernya gratis”. Malah nyuruh-nyuruh, hahaha. Eh doi malah nyamber dengan anggun “makanya pakai bank yang kalau mau transfer antar bank, sama transaksi lainnya gratis”.

Emang dasarnya saya nggak mau rugi, saya malah fokus sama bank yang dikasih tahu teman saya ini. Emang ada? Atas rekomendasi teman saya yang bilang kalau bank nya bebas biaya transaksi kalau saldo minimal sejuta, browsing lah saya tentang CIMB Niaga. Terus cari tahu bank ini punya tabungan apa aja. Awalnya agak males sih, karena mikir harus pergi ke bank dulu untuk buat rekening baru. Tapi… JRENG! Ada 1 tabungan yang bikin buat saya tertarik banget, namanya ON Account. Soalnya bisa buka rekening TANPA HARUS KE BANK dan nggak ada biaya adminnya! Oke, saya baca syarat dan langkah-langkahnya. Nggak ribet kok. Tinggal registrasi online, trus ntar bakal didatengin sama pegawai bank nya. Singkat cerita, setelah saya daftar, besoknya saya ditelfon sama CIMB Niaga, trus janjian ketemu petugasnya buat ngasih dokumen dan ngasih setoran awal. Ketemuannya bisa di kantor, atau di kafe, atau di mana aja (nggak mungkin di jalan sih). Kemudian, besoknya bener lho, si petugasnya datang ke Pizza e Birra, tempat kita janjian (ini jelas bukan blind date ya). Dan saya cuma tanda tangan, ngasih setoran tunai (yang bisa debit dari kartu ATM bank lain), trus langsung dapet kartu ATM nya deh. Canggih!

Sesuai janji masnya, katanya kalau buka On Account, kita langsung dapet Poin Xtra. Nah poin ini bisa dipakai buat macem-macem kayak bayar bill di kafe, atau nonton. Nah kemarin saya sudah pakai nonton di XXI, dan beneran bisa! Yay! Jadi intinya, saya sekarang punya rekening CIMB Niaga tapi belum pernah ke bank nya sama sekali karena buka account nya via online. Statement bulanan pun tinggal tunggu diemail saja. Yang penasaran sama ON Account, dan cara-caranya bisa klik www.cimbniaga.com

As a foodie, dan orang yang gemar makan bareng temen-temen yang punya kebiasaan nggak bawa cash atau ngandalin promo kartu kredit, jelas sih ini berguna banget. Apa boleh buat, namanya juga anak muda, perlu gaul dan senang makan. Kebayang kan kalo lagi tanggal tua bisa tetep jadi foodie dengan bermodal Poin Xtra itu asik banget? Ini pertama kalinya saya punya rekening bank baru yang nggak pake ribet, dan manfaatnya sesuai dengan yang saya butuhkan saat ini. Mudah-mudahan ke depannya CIMB lebih banyak menawarkan promosi dengan Poin Xtra dan fitur On Account jadi makin keren!

 

j j j

Bab Rasa dan Estetika

IMG_0566.JPG

IMG_9684.JPGIMG_0107.JPGIMG_0319.JPG

Begitu saya meninggalkan kota Jogja ada satu kekhawatiran yang muncul di benak saya: rindu kuliner-kuliner lokal lezat yang tersebar di penjuru kota.

Betul. Saya sangat rindu dengan semua masakan manis-pedas yang begitu otentik itu. Namun, di ibukota yang keras ini, saya menemukan petualangan lain untuk lidah saya. Petualangan kuliner yang mengawinkan keindahan estetika.

Saya memilih kata kawin, karena ini yang saya rasakan hampir di setiap restoran masakan Indonesia di Jakarta. Ketika kita berbicara hubungan 2 variabel, pasti akan berhadapan dengan toleransi, adaptasi, dan konsekuensi berkomitmen untuk saling menyeimbangkan.

Sewaktu melihat sajian-sajian cantik yang terhidang di meja, saya tidak berekspektasi menemukan kelezatan yang begitu orisinil, otentik, yang membuat kesepakatan sempurna antara lidah dan otak mengenai rasa. Lezat, tentu saja. Tapi ada batasan yang tak bisa dilewati karena menurut teori saya ini adalah bentuk toleransi rasa pada visual.

Berbeda dengan menu-menu lokal di Jogja (atau warung-warung pinggir jalan) yang begitu egois pada rasa, mengabaikan visual, sehingga kepuasan yang terjadi adalah kepuasan satu pihak.

Namun saya tetap menikmati perjalanan kuliner saya. Menikmati makanan lezat yang disempurnakan dengan presentasi cantik di ruangan bercitarasa interior desainer. Kecantikan yang mudah terekam oleh kamera, namun perlu sedikit effort agar terekam kuat di lidah dengan begitu banyaknya tempat sejenis.

Laksana budaya Jawa, selalu ada hikmah dari setiap cerita. Instagram feed saya semakin ramai berisi sejumlah foto pengguhah selera. Yumm!

j j j

Bab Sweet Dreams Walking Tour, Melbourne

Untuk ukuran kota Melbourne di musim gugur, cuaca cerah di hari Sabtu pagi adalah hal yang berharga. Karena semua orang tahu, kondisi cuaca ini bisa saja berubah dalam hitungan menit. Tapi saya beruntung, karena cuaca cerah hingga sore hari, dan menjadi hari yang tepat untuk saya mengikuti Sweet Dreams Walking Tour. (Ps: tur ini sangat saya rekomendasikan kalau kamu suka kuliner, terutama dessert)

Pergilah saya ke daerah South Yarra dan bertemu dengan tour guide sekaligus penggagas Sweet Dreams Walking Tour ini: Andrew Prior. Kalau kamu mengikuti acara reality show Master Chef Australia, Andrew ini adalah salah satu kontestannya. Perawakannya besar, dan sangat ramah. Andrew banyak menjelaskan bagaimana ia memulai bisnis tur ini pasca kepulangannya dari TV Show Masterchef, dan bagaimana ia didukung oleh pemilik kafe dan cake shop di Melbourne, bahkan didukung oleh Tourism Victoria hingga tur nya ini masuk dalam daftar list resmi situs Visit Melbourne.

Seperti namanya, di tur ini kami berjalan dari cake shop satu, ke cake shop lainnya sembari mencicip menu terbaik yang ditawarkan. Petualangan saya dimulai oleh satu cake shop mungil yang pemiliknya adalah kewaraganegaraan Malaysia: LuxBite. Apa yang saya temukan? Sederet macarons dengan gradasi warna super cantik, seperti melihat katalog kain, atau cat tembok, tapi semuanya bisa dimakan.

Selanjutnya kami beranjak ke Traiteur. Sebuah bakery shop kecil, tapi cantik banget tidak jauh dari LuxBite. Di sana saya disuguhkan eclairs aneka rasa dan semuanya enak. Saya paling suka rasa kelapa dan dark chocolate. Yummm…

Setelah makan eclairs yang nyaris bikin kenyang. Kamipun beranjak ke cake shop selanjutnya kami melanjutkan tur menuju Zumbo. Tempatnya cantik banget! Sayang saya terlalu kenyang untuk mencicip kudapan manis yang ada di sini. Akhirnya cuma foto-foto tempatnya aja. Setelah Zumbo, kami singgah di Burch & Purchese untuk membeli coklat kemasan, dan aneka camilan menggugah selera. B&P ini tempat yang cocok buat belanja oleh-oleh. Soalnya selain jenis coklatnya beragam, kemasannya memungkinkan untuk dibawa perjalan jauh, plus ini memang made in Melbourne.

Tidak membuang-buang waktu lagi. Kami secepat kilat sudah memasuki A La Folie Melbourne, salah satu cake shop di Melbourne yang sangat terkenal dengan macarons nya. Bahkan malam sebelumnya, Michael Buble sempat mampir untuk membeli sekotak macarons.

Nah, sampailah kita pada pemberhentian terakhir (perut rasanya sudah mau meledak, saking kenyangnya. Tapi anehnya mulut nggak capek-capek buat ngunyah). Tempat terakhir ini, memang cocok jadi tempat penutup: Ganaché Chocolate. Selain menawarkan coklat yang kayak diturunin dari surga, kita juga bisa belajar bikin coklat sendiri dengan standar kafe ini. Sayang, waktu saya tidak cukup untuk belajar bikin coklat karena saya sudah mendaftar tur lain yang jadwalnya sangat berdekatan.

Tapi saya sungguh puas dengan Sweet Dreams Walking Tour ini. Apalagi Andrew orangnya lucu dan sangat informatif mengenai kafe-kafe hits dan recommended di Melbourne.

Kalau lagi di Melbourne, dan mau reservasi bisa kunjungi webnya di sini.

 

j j j

Bab Open Door, Jakarta

Beberapa akhir pekan yang lalu, saya mencoba “kabur” dari rutinitas nongkrong saya yang seputaran Menteng, Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Senopati, dan Senayan. “Pengen nyoba sesuatu yang baru,” niat saya. Lalu, saya kabur ke daerah Jakarta Barat, daerah Central Park. Di sana saya menemukan 1 tempat lucu buat nongkrong: Open Door!

Tempatnya menyenangkan. Lokasinya ada di seberang lobby apartment Royal Mediterania Garden, samping Central Park. Tema interiornya lebih ke industrial dengan banyak spot foto lucu yang saya bilang sebagai “instagram material”. Walaupun tempatnya keren, saya tidak merasa saltum dan terintimidasi kalau datang dengan pakaian santai. Kenapa? Karena banyak penghuni apartment yang turun ke sini untuk makan siang, ngopi, bahkan cari hot spot. So homey! 

Makanannya? Saya paling suka crispy baby calamary (IDR 40). Calamary nya digoreng kering dan nggak berminyak, plus bumbu pedes yang bikin tangan saya nggak berhenti ngambil. Recommended.

Kalau makanan berat kemarin saya nyobain Kimchi Kalbi Burger (IDR 60). Kayak namanya, burger ini nggak pake daun selada, tapi pake kimchi sebagai sayurannya. Selain itu ada beef patty, dan sunny side up yang bikin menu ini cocok buat brunch atau lunch (ya nggak apa-apa juga sih kalau mau dinner).

Selain itu saya juga sempat nyicipin Grilled Spring Chicken (IDR 80). Langsung jadi favorit saya sebagai anak yang lagi giat-giatnya ke gym (yea rite) tapi pengen makan enak, di tempat enak, tapi sehat dan nggak terlalu ngerusak diet.

Dessert yang perlu kamu coba di sini adalah Tokyo Banana (IDR 42). Enggak tahu apakah beneran impor dari Jepang, atau bikin sendiri, tapi yang jelas rasanya ENAK! Will come back again for this dessert.

Kalau saya lihat menunya, ada banyak pilihan Asian atau Western (atau fusion Asian-Western) yang enak buat dicicip, seperti nasi goreng tengah kota (IDR 38), atau es campur Panna Cotta (IDR 32).

See! Nggak rugi kan jalan-jalan ke luar daerah “kekuasaan” kita. Paling nggak, sekarang saya tahu harus nongkrong ke mana kalau sedang di seputaran Central Park.

Info tempat:

Open Door
Apartment Royal Mediterania Garden Lobby
Jalan Letjen S. Parman Kav 28
Tanjung Duren, Jakarta Barat
+62 21 2942 7007
www.opendoorjkt.com

j j j