Bab Setjangkir Kopi dari Plaja

Setjangkir Kopi dari Plaja

“Because the love still exists…”

Itulah kata penutup dari pementasan teater boneka dari Papermoon Puppet Theater yang berjudul “Setjangkir Kopi dari Plaja”.

Sore itu saya mendapat kesempatan menonton pementasan teater boneka yang terkenal di Jogja, Papermoon. Sudah lama saya ingin menonton pertunjukan Papermoon, tapi selalu terlewat. Kali ini saya beruntung karena mendapat tiket lebih dari Sita, padahal tiket  sudah sold out dari beberapa hari sebelumnya.

Di undangan kami diminta untuk berkumpul di Kedai Kebun pukul setengah enam sore. Tertulis juga, bahwa mereka akan membawa kita ke lokasi vintage yang alamatnya dirahasiakan. Hmmm… menarik.

Di Kedai Kebun hanya ada meja penukaran tiket. Tidak ada tanda-tanda set panggung sama sekali. Saya semakin penasaran, di mana tempat pertunjukan ini sebenarnya?

Pukul 6 sore, setelah semua penonton berkumpul, kami diajak masuk kedalam bis yang ternyata sudah siap di tempat parkir. Sedikit kaget, karena saya kira lokasinya tidak jauh dari Kedai Kebun dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ternyata dugaan saya meleset.

Di dalam bis yang berisi 19 orang – total penonton sesi itu, kami disambut oleh seorang “guide” yang bernama mas Sunu. Mas Sunu dengan guyonan segarnya menjelaskan bahwa kita sedang menuju lokasi pertunjukan. Sepanjang jalan tak henti-hentinya ia menjelaskan seluruh lokasi yang kami lewati. Rumah-rumah cagar budaya, tempat-tempat wisata yang mungkin perlu kita kunjungi di kemudian hari, hingga kami berhenti di sebuah show room furniture.


Kami kemudian diperkenalkan kepada pemilik show room. Ia menjelaskan bahwa show room ini adalah menjual barang-barang antik. Kami sempat berkeliling sebentar dan melihat isinya. BANYAK YANG LUCU! Barang-barangnya vintage gitu. Cuma saya lagi nggak mood untuk menanyakan lebih detil tentang produknya, karena masih penasaran di mana lokasi pertunjukan berada.

Tak berapa lama, kami diajak keluar show room utama, menuju show room yang kata pemiliknya istimewa. Istimewa karena barang-barang di sana entah limited edition, entah didapat dengan perjuangan, dan memiliki cerita sejarah.

Masuklah kami ke dalam show room kedua. Di sana ternyata sudah siap kursi-kursi vintage berbagai bentuk dan ukuran, menghadap ke beberapa tumpukan barang yang langsung kami kenali sebagai set panggung. Pertunjukan Teater Boneka ini pun segera dimulai. Sayang, kami dilarang merekam, dan memotret, selama pertunjukan. Jadi saya hanya bisa memberikan ceritanya saja (yang menurut saya sudah sangat mengharukan):

Setjangkir Kopi dari Plaja. Kisah Tjinta Klasik di Toko Barang Antik. Begitu judul yang tertulis di buku panduannya. Bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk belajar dan bersekolah ke Rusia. Sebelum berangkat, ia sempat meminta dan berjanji kepada kekasihnya untuk menikah dengannya kelak.

Berangkatlah pemuda itu ke Rusia dan mengenyam pendidikan di sana. 

Beberapa tahun kemudian, terjadilah peristiwa itu. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30SPKI). Karena dikirim ke Rusia yang adalah negara komunis, paspor pemuda itu segera dicabut oleh pemerintah Orde Baru, yang berakibat hilangnya kewarganegaraan Indonesia. Ia tidak bisa menghubungi keluarga dan kekasihnya selama 40 tahun lamanya. Selama 40 tahun itu pula ia memutuskan untuk tidak menikah, karena ia ingin memenuhi janjinya kepada sang kekasih, yang entah kapan bisa ia temui. 

Mbak Ria, dengan keseriusannya melakukan riset dari cerita itu, dan menemukan fakta bahwa pemuda itu ada dan masih hidup hingga sekarang. Ia bernama Pak Wi. Seorang pria kelahiran Jawa Timur, 2 September 1940, alumni Fakultas Teknik Sipil UGM, dan lulusan S2 di Institut Metalurgi Baja di Moskow. Sedangkan kekasihnya adalah putri sulung dari Direktur Perusahaan Soda dan Garam Negara di Jakarta pada tahun 1960-an.

Laki-laki itu benar-benar ada. Sampai sekarang, di usianya yang ke 71, Pak Wi masih memilih untuk tidak menikah, dan tetap setia pada janjinya. Pak Wi kini bekerja sebagai salah satu ahli Metalurgi di Playa, Havana, Kuba. Dan sang kekasih, kini sudah berkeluarga dan memiliki 4 orang cucu.

Sebuah cerita yang membuat saya berkaca-kaca. Cerita tentang cinta dan kesetiaannya. Cerita tentang ketidakadilan dari G30SPKI. Saya yakin, Pak Wi adalah salah satu dari sekian kasus dan sekian cerita dari G30SPKI ini.

Cerita ini disampaikan dengan sangat apik oleh Papermoon Puppet Theater dalam kesederhanaannya. Saya bersyukur menonton cerita ini, menonton Tetater Boneka dari Papermoon Puppet Theater.

Update:

Mau tau lebih detil tentang Setjangkir Kopi Plaja ini? Kunjungi blognya di: http://playapuppet.blogspot.com/

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

5 Comments

  1. Sedih amaaattt ceritanya udah setia nunggu malah ditinggal kawin 😥 Btw, Pak Wi pernah ketemu dengan mantan pacarnya itu nggak ya?

  2. @Nonadita: Kalau menurut buku panduan teaternya, kayaknya belum. Soalnya ditulis begini: “Pak Wi mengaku turut berbahagia, dan suatu saat bisa bertemu sebagai bentuk silaturahmi semata.” :'( *sedih*

  3. Ceritaeka

    Brebes mili :((
    Itu si kekasih perempuan nya memutuskan menikah krn kehendak sendiri atau krn disuruh org lain ya.
    Huhu mau nonton juga

  4. teater boneka ya… kayak zuper keren ini
    *semoga mampir di malang

  5. yaampun papermoon puppet ini favorit banget, selain puppet nya yg khas, cerita nya juga menurut ku beneran menarik banget, meskipun belum pernah nonton, kalau mau tau soal informasi mereka naik panggung kemana ya?

Leave a Reply