Bab Kuliner Jakarta & Jogja: Antara Rasa & Estetika

IMG_0566.JPG

IMG_9684.JPG

kuliner jakarta rasa jogja

IMG_0107.JPG

Kuliner Jakarta rasa Jogja

IMG_0319.JPG

Kuliner Jakarta rasa Betawi Asli

Apa yang kamu rindukan dari kuliner Jogja? Apa yang kamu nikmati dari kuliner Jakarta?

Begitu saya meninggalkan kota Jogja ada satu kekhawatiran yang muncul di benak saya: rindu kuliner-kuliner lokal lezat yang tersebar di penjuru kota.

Betul. Saya sangat rindu dengan semua masakan manis-pedas yang begitu otentik itu. Namun, di ibukota yang keras ini, saya menemukan petualangan lain untuk lidah saya. Petualangan kuliner yang mengawinkan keindahan estetika.

Saya memilih kata kawin, karena ini yang saya rasakan hampir di setiap restoran masakan Indonesia di Jakarta. Ketika kita berbicara hubungan 2 variabel, pasti akan berhadapan dengan toleransi, adaptasi, dan konsekuensi berkomitmen untuk saling menyeimbangkan.

Sewaktu melihat sajian-sajian cantik yang terhidang di meja, saya tidak berekspektasi menemukan kelezatan yang begitu orisinil, otentik, yang membuat kesepakatan sempurna antara lidah dan otak mengenai rasa. Lezat, tentu saja. Tapi ada batasan yang tak bisa dilewati karena menurut teori saya ini adalah bentuk toleransi rasa pada visual.

Berbeda dengan menu-menu lokal di Jogja (atau warung-warung pinggir jalan) yang begitu egois pada rasa, mengabaikan visual, sehingga kepuasan yang terjadi adalah kepuasan satu pihak.

Namun saya tetap menikmati perjalanan kuliner saya. Menikmati makanan lezat yang disempurnakan dengan presentasi cantik di ruangan bercitarasa interior desainer. Kecantikan yang mudah terekam oleh kamera, namun perlu sedikit effort agar terekam kuat di lidah dengan begitu banyaknya tempat sejenis.

Laksana budaya Jawa, selalu ada hikmah dari setiap cerita. Instagram feed saya semakin ramai berisi sejumlah foto pengguhah selera. Yumm!

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

8 Comments

  1. Bener Van, estetika sangat berpengaruh terhadap persepsi kita terhadap makanan. Misalnya Aqua, entah kenapa Aqua dalam botol kaca itu terlihat jauuuh lebih menggoda untuk diminum.

    • @Kang Sandal: Hahaha iya kan. Ada yang bilang estetika itu penyempurna rasa. Tapi banyak yang lebih mementingkan estetika dari esensi masakan itu sendiri.

  2. Aku apa aja asal enak mau Van… *mauan Cuma emang kalau makanan penampilannya cakep tuh kita yg nggak laper pun jadi pengin makan :)

  3. Iya van tapi skrng lagi pengen membatasi makanan semenjak kadar trigiserol (spellingnya bener apa nggak ga tahu deh) tinggi. Jadi bye dulu lah sama makanan enak yg penuh santan dan karbo itu.

  4. Richie

    Van, parfum “Reve by Agnezmo” lo ketinggalan di mobil gwe. Kapan mau diambil ?

  5. Minni

    Iphaaan..foto2nya menggugah selera hihihi jadi laper.tp boleh ga dijelasin sedikit pengertian variable itu??yg menggabungkan 2 variable.maklum gw cm ngerti makannya aja ga ngerti maksudnya…

Leave a Reply