Bab Liburan di Sumbawa Barat

Masih banyak yang sering salah antara Sumbawa dan Sumba. Yang satu Nusa Tenggara Timur, yang lainnya Nusa Tenggara Barat. Kalau masih bingung juga, Sumba itu yang jadi lokasi syuting film Pendekar Tongkat Emas, dan Sumbawa yang jadi lokasi film Serdadu Kumbang. Nah kali ini saya liburan ke Sumbawa, tepatnya Sumbawa Barat. (pantau hashtag #KSBTrip di sosial media).

Ke Sumbawa Barat

Menuju Sumbawa Barat bisa dilakukan dengan beberapa cara. Saya memilih cara termudah yaitu naik pesawat sampai ke Lombok, kemudian lanjut naik mobil sampai pelabuhan Kayangan untuk kemudian menyeberang ke Sumbawa Barat.

Pelabuhan Kayangan ini sebenarnya khusus untuk karyawan perusahaan tambang Newmont yang bisa ditumpangi masyarakat umum kalau sedang tidak penuh. Sedangkan pelabuhan umum, ada Labuan Lombok yang terletak tak jauh dari Kayangan.

Di Pelabuhan Kayangan, saya naik speedboat menuju Pelabuhan Benete yang memakan waktu hanya 1,5 jam (normalnya dengan kapal biasa memakan waktu hingga 3 jam).


Ada apa di Sumbawa Barat?
Yang pasti banyak pemandangan indah! Begitu tiba di Benete menuju desa Taliwang, saya bersama Sasha, Nico, Tika, dan Naimah sering berhenti di tengah jalan karena menemukan banyak spot cantik yang tidak boleh luput dari jepretan kamera (dan pose-pose ala Instagram). Juga pantai-pantai indah berpasir putih yang sangat menggoda.

Pada kesempatan ini saya juga mampir ke Desa Taliwang, sepintas melewati pasar tradisional dan melihat roda perekonomian yang terjadi di sana. Tak jauh dari pasar, saya singgah di salah satu rumah warga. Di sana banyak ibu-ibu warga setempat berkumpul sembari membuat jajanan tradisional.

Palopo dan Gogos
Dua diantara jajanan tradisional yang saya cicip adalah palopo dan gogos. Gogos yang serupa dengan lemper, lebih banyak dijumpai di daerah lain, sedangkan palopo lebih “otentik” dari Sumbawa Barat. Terbuat dari susu kerbau, gula merah, dan para (semacam terong berduri). Karena aroma yang terlalu menusuk, saya kurang bisa menikmati makanan lokal ini.

Sembari makanan lokal yang lebih familiar seperti nagasari, saya berbincang dengan ibu-ibu setempat ini. Mereka sengaja membuat perkumpulan ibu-ibu untuk membuat jajanan lokal dengan tujuan dijual di pasar dan mendapat uang tambahan. Sedangkan modalnya, mereka dibiayai oleh Newmont, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan 100% tanpa modal.

Sop Sum-Sum Kerbau

Saya belum pernah ngeliat sop sum-sum yang tulangnya GEDE BANGET kayak gini. Awalnya sempat syok sama ukurannya. Pas nyicipin, ternyata enak. Perut pun kenyang. Usai makan, kami berbincang-bincang dengan mas Ari dan mas Yoyok – tour guide kita selama di Sumbawa, sembari berusaha mencari sinyal handphone yang agak malu-malu.

Banyak cerita menarik yang saya tangkap dari percakapan itu, seperti misalnya kalau di Sumbawa itu lebih terbiasa “memagari” sawah daripada mengandangkan kuda-kudanya. Walaupun berkeliaran bebas, sebagian kuda-kuda yang kita lihat di Sumbawa Barat sudah menjadi milik warga setempat.

Saya bertanya penasaran, “bagaimana kuda-kuda ini mengenali tuannya, dan kembali lagi kalau dibiarkan lepas di alam bebas?”

Mas Ari menjawab, “banyak peternak yang menggunakan metode seperti ini. Ketika muda, kuda-kuda itu diberi minum air garam. Kemudian setelah terbiasa, ketika kuda tersebut minum air yang rasanya berbeda, mereka akan bingung, dan kemudian kembali lagi ke tempat mereka minum air garam tersebut.”

Cara tradisional yang ampuh, menurut saya. Saya enggan googling lebih lanjut apakah air garam, aman bagi kuda atau tidak.

Ayam Taliwang
Tidak afdol kalau sudah ke desa Taliwang, tapi nggak makan ayam Taliwang. Bersama mas Ari dan mas Yoyok, kami menuju rumah warga Taliwang yang memang sering masak-masak. Di sanalah kami bertemu Bu Timah yang sedang memasak ayam taliwang untuk kami. Dari dapurnya yang sederhana, terciptalah makanan super enak dengan tingkat kepedasan luar biasa. Biasanya kalau di restoran taliwang, kita makan ayam bumbu taliwang menggunakan sayur plecing, maka di rumah Ibu Timah kami menikmati kepedasan ayam taliwang bersama sop panas yang segar.

Lembah Reklamasi
Sebenarnya nggak ada yang namanya lembah reklamasi. Dalam perjalanan kali ini, saya berkesempatan masuk ke dalam wilayah tambang Newmont dan melakukan wisata di dalam tambang. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah lembah reklamasi ini. Awalnya saya kurang paham kenapa kawasan reklamasi ini begitu istimewa, sampai saya melihat sendiri. Jadi perusahaan ini punya komitmen untuk mengembalikan ekosistem yang sebelumnya menjadi lokasi eksploitasi tambang seperti semula.

Nah di lembah ini saya bisa melihat bukit yang masih asli, bukit dari hasil reklamasi, lembah yang masih dalam proses reklamasi, dan daerah yang belum direklamasi. Dari perbandingan itu, saya melihat hampir nggak ada bedanya antara bukit asli, dan bukit hasil reklamasi, yang artinya upaya yang dilakukan cukup berhasil.

Cerita lain dari proses reklamasi ini adalah, perusahaan membutuhkan coconet untuk menguatkan tanah dan penyebaran bibit. Coconet ini terbuat dari jalinan sabut kelapa. Kemudian saya baru tahu kalau coconet ini dibuat manual oleh ibu-ibu daera sekitar pertambangan. Jadi dalam setahun, ibu-ibu ini bekerja mempersiapkan coconet yang kemudian dibeli oleh Newmont untuk dipakai dalam proses reklamasi. (Dan saya ikutan nyoba bikin coconet ini. Hihihi)

Pit Tour
Salah satu kesempatan langka adalah berkunjung ke pit, dan melihat haul truck yang segede robot transformer berseliweran ke sana ke sini. Untuk bisa di sini, kita wajib mengikuti semua peraturan yang berlaku demi keselamatan sendiri

DSCF0789

 

DSCF0881

 

 

 

Concentrator Visit
Setelah melihat proses penambangan, saya berkesempatan melihat proses pengolahan hasil tambang demi menghasilkan konsentrat. Saya belajar banyak sekali (sesekali teringat pelajaran jaman sekolah dulu) tentang proses pengolahan tambang. Perusahaan tambang ini mengolah konsentrat hingga 95% di Batu Hijau, Sumbawa Barat.

DSCF0888

Pantai Maluk
Pasir putih, laut biru dengan perairan tenang, latar belakang bukit-bukit hijau, dan sederet warung lokal yang menjajakan es kelapa muda segar. Semua kriteria tempat favorit saya ada di sini! Di tambah posisi Pantai Maluk menghadap ke arah barat, sehingga bisa jadi spot yang keren buat lihat sunset.

 

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

2 Comments

  1. pernah ke maluk waktu mami masih punya kos2an disana, pantainya emang bagus2 banget,, ada satu spot yang kayanya bagus untuk nunggu sunset sambil ngemil2 cantik tapi gak boleh mampir sama mami, beliau takut ada apa2 kalo perjalanan pulang pas udah gelap..

    eh disana gak diajak nyobain susu kuda liar kah?

  2. @Nunik: Belom nyobain susu kuda liar. Nyobain palopo udah bikin kenyang sama susu kok :)))))

Leave a Reply