Bab Menjelajah Kawah Ijen

Keimpulsifan kami berlanjut dari Malang, Bromo, dan kini menuju Ijen.

Nah… Sebenarnya kami nggak tahu banyak tentang Ijen selain kawah yang cantik dan blue flame legendarisnya. Tapi dengan modal tekad dan kelengkapan informasi di internet, kami dengan mantap meluncur ke Bondowoso sekitar pukul 10 pagi. Langsung setelah keluar dari Bromo.

Sepanjang perjalanan kami mencoba browsing tentang Ijen, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang lokasi wisata tersebut. Kami baru menemukan fakta bahwa untuk menuju Ijen, harus trekking sejauh 3KM (sekitar 1 sampai 1,5jam menuju puncak).

Permasalahan awal dimulai dari teman saya yang hanya membawa sepatu loafer. Sekali lagi… loafer. Hahahaha! Saya sendiri pakai boots. Tapi yaudah, kami toh sudah terlanjur basah dan sudah terlalu bersemangat ingin melihat Ijen.

Sekitar pukul 4 sore, kami tiba di kawasan Bondowoso. Nah, berdasarkan informasi driver kami, ada 2 lokasi bermalam yang bisa dipilih. Salah satunya adalah Arabica Homstay. Saya langsung tertarik mendengar nama homestay tersebut.

Ternyata benar dugaan saya, Arabica Homestay berada di tengah-tengah perkebunan kopi Ijen (well kalau abis nonton Filosofi Kopi, mungkin perkebunan kopi ini yang dimaksud). Homestaynya sendiri murah banget, jadi jangan berharap banyak dengan tingkat kenyamanannya. Tempat tidurnya agak berdebu, kamar mandinya sedikit kotor (untung air panasnya berfungsi), dan kamarnya lembab. Tapi untuk kamar seharga 200 ribu rupiah di kawasan Ijen, ini nggak masalah bagi kami. Toh jam 1 pagi kami sudah check out.

Kawah Ijen, Jawa Timur

Kawah Ijen, Jawa Timur

Coffee Plantation Guest House Ijen

Coffee Plantation Guest House Ijen

Tapi pemandangan sekitar homestay bagus banget! Homestaynya bahkan punya lapangan basket! Kalau sempat, coba jalan-jalan ke rumah warga di depan homestay. Rumahnya mungil, bersih, apik, tapi kebunnya spektakuler. Mengingatkan saya sama game harvest moon. Rapi, cantik, dan cukup lengkap. Saya suka sekali dengan kebun-kebun mereka. Mungkin asal ada wifi kencang, saya bisa tinggal di rumah sini selama beberapa hari. Tapi sayang sinyal XL benar-benar mati total di sini. Sedangkan telkomsel, sinyalnya ada hanya untuk telfon dan SMS saja alias sinyal internetnya juga nggak berfungsi.

Pukul 1 pagi, kami bangun dan berangkat ke Kawasan Wisata Ijen. Di sana kami bertemu dengan pemandu trekking kami, yang baik banget namanya mas Luki. Setelah cerita-cerita tentang medan yang akan kami tempuh, berangkatlah kami menuju puncak Ijen berbekal tas backpack.

Pukul 2 lewat, kami tiba di blue flame yang terkenal itu! Wow bagus banget asli! Sayangnya foto-foto saya ngeblur semua :( Tapi bagus banget.

Setelah puas melihat blue flame, maka saya dan teman saya turun ke bawah. Melihat lokasi tambang yang terletak di sisi kawah. Bau belerang yang begitu kuat, membuat saya sedikit pusing. Tapi pemandangan di Ijen bagus banget. Nggak rugi saya impulsif sampai ke sini. Kami menghabiskan waktu hingga 3-4 jam di atas menikmati pemandangan Ijen yang luar biasa. Pukul 9 pagi, kami sudah kembali ke bawah.

Pemandangan Kawah Ijen

Pemandangan Kawah Ijen

Kawah Ijen di Pagi Hari

Kawah Ijen di Pagi Hari

Tambang Belerang di Kawah Ijen

Tambang Belerang di Kawah Ijen

Tambang Belerang di Kawah Ijen

Tambang Belerang di Kawah Ijen

Tips:

Olahraga sebelum mendaki gunung itu wajib hukumnya untuk menjaga stamina.

Pakai sepatu trekking yang bener. Atau paling nggak, sepatu olahraga.

Jaket tebel boleh, tapi ntar pas trekking kita bakal keringetan, terus gerah, akhirnya jaket cuma jadi pemberat aja.

JANGAN BAWA LAPTOP DI DALAM TAS. Berat banget! Iya, kebodohan saya sebagai city boy adalah memasukkan laptop 14 inch ke dalam tas gunung saya yang akhirnya malah seperti batu bata karena berat.

Satu setengah jam berlalu dengan penuh perjuangan, akhirnya kami melihat blue flame ijen yang terkenal itu! BAGUS BANGET!

Setelah puas foto-foto, kami lanjut turun ke bawah. Menunggu langit terang, dan ngeliat cantiknya kawah ijen yang warna biru kehijauan.

Cerita Penambang Ijen

Yang menarik dari perjalanan Ijen sebenarnya bukan bagaimana saya berjuang mendaki gunung 3KM, tetapi sepanjang saya mendaki dan turun gunung, banyak sekali mas-mas, bapak-bapak, hingga kakek-kakek yang memikul keranjang berisi batu belerang.

Cerita miris pun saya dengar dari mas Luki yang memang kalau tidak ada tamu, kerjaannya adalah penambang belerang. Para pria di kawasan ini banyak yang berprofesi sebagai penambang, sekali angkut mereka mampu membawa 60KG batu belerang. Perlu diketahui, memanggul batu belerang seberat itu dengan medan pegunungan seperti Ijen tidaklah mudah. Ditambah, mereka hanya memakai pengaman seadanya yaitu masker biasa untuk meminimalisir efek aroma belerang.

Perjuangan keras mereka hanya dihargai sekitar 900 rupiah per KG (bahkan 1000 rupiah pun nggak sampai). Dalam sehari, mereka hanya mampu bolak-balik 2 kali, sehingga maksimal batu belerang yang mereka dapatkan per hari adalah 120KG. Dalam sehari bapak-bapak ini mengantongi sekitar 108 ribu rupiah.

Mungkin bapak-bapak ini sudah terbiasa naik turun gunung dengan memikul 60KG di bahu mereka, tetapi jika terjadi kecelakaan (amit-amit) siapa yang akan menanggung? Karena saya baru tahu mereka adalah pekerja lepas yang tidak terikat kontrak.

Bapak-bapak ini menambang belerang hampir tiap hari kecuali Jumat, karena terpotong Sholat Jumat, dan hari istirahat bersama keluarga. Cerita mereka sudah pernah terekam dalam video dokumenter Perancis yang membuat kawasan ini banyak dihadiri turis dari Eropa tersebut.badge

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

2 Comments

  1. Pesonanya banyak ya, Kawah Ijen ini. Sebagai anak Jawa Timur gagal banget gak pernah main ke sini :(

    • Iya kak Rusa. Ijen bagus sekali. Saya mau lagi datang ke sana, tapi nggak dalam waktu dekat =)))

Leave a Reply