Bab Lombok Day Trip

Banyak yang mulai membanding-bandingkan Pulau Dewata dengan “sister islands” nya: Lombok dan Gili. Kedua pulau itu sering jadi bahan perbincangan turis yang ingin mencari suasana baru dan menyepi dari hiruk pikuk pulau Bali yang semakin metropolis.

Itu pula yang membulatkan niat saya untuk traveling ke sana saat longweekend lalu bersama teman-teman blogger yang lain: Ndorokakung, Mbak Ainun, Mas Burhan AbeDimas Novriandi, Mamsky, dan Alle.

Saya berangkat ke Lombok dari Jakarta pukul 5 pagi naik Lion Air. Sebenarnya saya tidak suka pesawat pagi karena sering sekali terlambat bangun, dan akhirnya ketinggalan pesawat. Sedangkan penerbangan ke Mataram tidak sebanyak ke Bali, atau Yogyakarta yang ada hampir tiap jam. Jadi, jika saya ketinggalan pesawat, penerbangan selanjutnya itu sekitar jam 10 pagi. Maka saya memutuskan untuk tidak tidur semalaman dan berangkat ke airport pukul 3 pagi.

Penerbangan dengan Lion cukup lancar, dan (untungnya) tanpa delay, jadi bisa sampai tepat waktu. Namun ada satu catatan penting yang menurut saya perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah Lombok dan Angkasa Pura 1 yaitu perawatan airport. Sudah menjadi rahasia umum kalau airport di lombok itu sering bau pesing, atau AC nya mati. Saya sendiri selalu mengalami pengalaman kurang menyenangkan ini ketika sedang berada di bandara yang terbilang cukup baru itu.

Tapi suasana bandara yang kurang kondusif tersebut tidak mengurangi semangat saya menjelajah Lombok selama 1 hari. AKHIRNYA LIBURAN LAGI!

Desa Pengrajin Tenun Sukarara

Menikah itu tidak mudah. Bagi perempuan suku Sasak, Lombok jika ingin menikah maka ia harus mahir menenun. Sebab menghasilkan 3 kain tenun adalah satu syarat mutlak bagi perempuan Sasak agar bisa menikah. Tiga kain tenun tersebut akan diperuntukkan bagi calon suami, calon ibu mertua, dan sang mempelai wanita sendiri.

Perempuan suku Sasak sudah belajar menenun sejak usia 10 tahun! Satu lembar kain tenun baru selesai dalam waktu 1 – 3 bulan tergantung tingkat kerumitannya. Selain sebagai syarat menikah, kain yang mereka kerjakan juga dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan harga 300-500 ribu per lembarnya. Saran saya, jangan menawar terlalu sadis. Percayalah pengerjaannya masih handmade, sulit, dan lama. Ayo bantu dan dukung lestarikan budaya-budaya seperti menenun ini dengan tidak menawar harga kain dengan sangat rendah.

Menenun

Menenun

Proses menenun

Proses menenun

Desa Adat Sade

Di Lombok terdapat 1 desa adat yang menjadi obyek wisata untuk memperkenalkan budaya Suku Sasak kepada turis, yang bernama Desa Sasak Sade. Desa Sade ini masih ditempati oleh suku asli Sasak hingga sekarang.

Rumahnya sangat sederhana, terdapat 2 undakan: atas dan bawah, dan terdiri dari 3 bagian. Ruang pertama yaitu terletak di bagian bawah depan dekat pintu utama bernama Sesangkok. Ruangan ini digunakan sebagai ruang tidur para orang tua dan anak-anak laki-laki. Bagian kedua yang terletak di bagian atas bernama Dalem Bale. Ruangan ini digunakan sebagai ruang tidur anak perempuan dan juga dapur. Nah dibagian atas terdapat satu bilik bambu kecil yang bernama Bale Dalem. Bagian ini biasa dipakai untuk pengantin dan juga tempat melahirkan.

Lantai rumah suku asli ini terbuat dari tanah. Untuk membersihkan lantainya, orang-orang Sasak menggunakan kotoran sapi sebagai “obat pel” nya karena dipercaya dapat menjaga dan memperkuat lantai tanah tersebut. Bau? Pasti bagi yang tidak biasa, namun bagi Suku Sasak ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Saya hanya concern dengan masalah kesehatannya. Tapi kata tour guide yang juga warga setempat, sejauh ini mereka tidak pernah mengalami masalah kesehatan karena lantai rumah mereka dibersihkan dengan kotoran sapi.

Desa Adat Sade Lombok

Desa Adat Sade Lombok

Desa Adat Sade Lombok

Desa Adat Sade Lombok

Desa Adat Sade Lombok

Desa Adat Sade Lombok

Desa Adat Sade Lombok

Desa Adat Sade Lombok

Pantai Kuta – Tanjung Aan

“Seperti pantai dreamland ketika saya masih SD.” Itu yang ada di benak saya ketika melihat Pantai Kuta Lombok dan Pantai Tanjung Aan yang terkenal sebagai lokasi foto instagram yang super keren. Tempat ini seperti pantai di Bali pada tahun 1980an: Pasir putih, bersih, dan masih alami, juga belum ada pusat perbelanjaan dan bangunan permanen di sepanjang bibir pantai. Indah sekali Pantai Tanjung Aan ini, apalagi saya masih melihat banyak nelayan lokal yang memancing ikan dan melabuhkan kapalnya di pantai ini.

Selesai daytrip, saya bermalam di Favehotel Langko, Mataram Lombok. Smart hotel yang nyaman untuk saya beristirahat setelah tidak tidur dari hari sebelumnya dan sibuk berkeliling pulau Lombok seharian. *tarik selimut*

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Pantai Tanjung Aan Lombok

Fave Hotel Langko, Lombok

Fave Hotel Langko, Lombok

Fave Hotel Langko, Lombok

Fave Hotel Langko, Lombok

Hari Selanjutnya: Gili Trawangan! (to be continue)

Travel Tips:

  1. Kalau punya waktu lebih, tidak ada salahnya menjelajah lombok 2 atau 3 hari, karena ada banyak wisata alam yang sayang untuk dilewatkan.
  2. Jika punya rencana ke Gili Trawangan, sebaiknya hindari membawa koper untuk kemudahan di pulau tersebut.
  3. Kain tenun, somehow lebih murah di desa Sade daripada di desa tenunnya sendiri.
Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

4 Comments

  1. Sayang ya gue cuman ke Gili doang kemaren

    • Besok-besok coba mampir Lombok sama Gili Hopping. Saya juga penasaran mau nyoba mampir ke Gili yang lain.

  2. Kamu beli gak kain tenunnya?

Leave a Reply