Bab Secangkir Kopi Pagi di Sentani

Sebutir Resochin (obat anti malaria), dan racikan kapsul obat sinus menjadi hidangan pencuci mulut malam itu di sebuah restoran cepat saji Bandara Soekarno-Hatta. Satu koper berukuran kabin, dan sebuah backpack hitam bertuliskan Mahakarya Indonesia berhasil melewati ruang pemindai keberangkatan domestik. Salah satu perjalanan impian saya sebentar lagi akan terlaksana.

Momen malam ini berawal dari pertengahan Juni lalu, ketika saya menulis sebuah cerita tentang seorang nenek dan kain tenun Lombok dan apa yang menjadi perbincangan saya di atas meja kafe seputaran Senayan. Cerita itu ternyata berhasil mengantarkan saya menjadi salah satu pemenang lomba blog Mahakarya Indonesia, dan memberikan kesempatan terbang ke… Wamena!

Mahakarya Indonesia

Mahakarya Indonesia

Mahakarya Indonesia

Mahakarya Indonesia

Mahakarya Indonesia

Mahakarya Indonesia

 

Setelah 4 jam membelah langit Indonesia, saya tiba di Sentani, Jayapura esok paginya. Perjalanan belum berakhir. Untuk menuju Wamena masih diperlukan 45 menit penerbangan lagi dengan pesawat yang lebih kecil.

Secangkir kopi hitam terhidang di meja sebuah kedai kopi di Bandara. Tentu itu bukan punya saya yang lebih memilih teh panas untuk memulai hari. Kopi hitam pekat beraroma nikmat itu milik mas JJ Rizal, seorang budayawan yang ikut dalam cultural trip ini. Sembari menunggu connecting flight selanjutnya, saya berbincang dengan pria ber-topi fedora hitam tersebut.

“Papua itu pulau yang terluka karena kecantikannya. Seperti film Malena,” ceritanya. Pernyataan itu tentu menarik saya bertanya lebih lanjut. Kita tahu bahwa Papua adalah pulau paling kaya di Indonesia. Pulau yang mengandung batuan mineral berlimpah. Pulau yang memiliki lebih dari 200 suku dan bahasa, pulau eksotis hingga menjadi rebutan banyak kepentingan. Masuk akal jika pulau ini kemudian “tersiksa” karena keindahannya sendiri akibat banyak kepentingan yang ingin menguasainya.

Sentani dari atas

Sentani dari atas

Sentani dari atas

Sentani dari atas

“Perjuangan Indonesia mempertahankan Papua, itu bermula dari era Soekarno.” cerita mas Yeye – panggilan akrab beliau. Soekarno percaya ada hubungan historis antara Nusantara dan Papua hingga yakin bahwa pulau paling timur ini memang harus masuk dalam wilayah Republik Indonesia.

Mas Yeye mengungkapkan bahwa hubungan historis antara Nusantara dan Papua sudah tertuang dalam kitab Nagara Kertagama. Bahwa sudah ada interaksi antara kerjaan Majapahit, dengan kepala-kepala suku di Papua. Inilah yang membuat the founding father of Indonesia itu berjuang keras mempertahankan Papua dari Belanda yang punya pandangan berbeda. Belanda melihat Papua tidak punya keterikatan dengan Indonesia karena melihat Papua dihuni oleh ras Melanesia yang sangat berbeda dengan masyarakat Nusantara lainnya. Saya terhenyak di kursi. Obrolan pagi di kedai kopi ini semakin menarik.

Pria di kursi seberang menyulut sebatang rokok Dj Sam Soe. Teh manis panas saya sekarang sudah mulai dingin. Hening sesaat, sebelum rasa penasaran saya kembali menyeruak dan mulai pertanyaan baru.

Langit Wamena

Langit Wamena

Langit Wamena

Langit Wamena

Bagaimana dengan Wamena? Daerah ini sepertinya lebih banyak dikenal masyarakat luar karena biji kopi yang sohor di kedai kopi gaul pun hipster penjuru dunia. Ditambah dengan festival Lembah Baliem yang kini rutin diadakan setiap tahun. Bang Yeye pun kembali bercerita bahwa Wamena termasuk peradaban Papua paling muda yang berhubungan dengan dunia luar, yaitu sekitar abad ke 20. Kemudian menurut mas Yeye, banyak misi yang dikirim untuk meneliti temuan ini, termasuk misionaris Katolik mendatangkan tim ke Wamena dan membantu masyarakat lokal dengan pendidikan, dan obat-obatan. Sedangkan pemerintah Indonesia sendiri sedikit telat menunjukkan kehadirannya sekitar tahun 70an.

Fakta bahwa Wamena adalah peradaban tanah Papua yang paling akhir bersentuhan dengan dunia luar, membuat rasa penasaran saya semakin besar. Bagaimana budaya di sana? Seperti apa nilai-nilai lokal yang mereka punya. Karena sejujurnya, saya tidak terlalu banyak melakukan riset tentang budaya di Wamena. Tapi menurut jurnal yang ditulis oleh Lily Kong dari National University of Singapore, saya tahu bahwa Wamena atau Lembah Baliem merupakan daerah pedalaman yang penduduknya paling padat di Papua. Suku Dani, sebagai suku asli pedalaman Wamena juga telah mengembangkan sistem pengairan yang canggih, dipadu dengan peternakan babi yang cukup intensif menunjukkan peradaban tertinggi dari era sebelumnya sudah terjadi di sana.

Obrolan kami terpaksa harus terpotong. Pesawat baling-baling Wings Air sudah menunggu. Ini saat yang ditunggu-tunggu! Sebentar lagi kami akan menyapa Wamena!

Bersambung.

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

4 Comments

  1. Andai Iphan ngabari, dah kutemani minum teh pagi-pagi di Sentani tuh. Hehe..

    • Wah om Jensen, maafkan aku… Nggak enak kalo mau ngajak kopdar. transitnya cuma 2 jam doang soalnya. Next time aku bakal ke Sentani lebih lama. Hehehe.

  2. Ini lanjutannya mana phann??
    huft..

    • Hihihi lanjutannya hari ini, tungguin ya. Pokoknya setiap 2 hari sekali 😀

Leave a Reply