Cerita sebelumnya: Kopi Pagi di Sentani


Duduk di dekat jendela pesawat membuat tangan ini gatal untuk selalu memencet shutter. Hamparan hijau seperti lautan brokoli menjadi pemandangan saya dari Sentani ke Wamena.

Sepanjang perjalanan singkat ini saya berpikir betapa susah dan mahalnya untuk terkoneksi antar kota di Papua. Pembangunan infrastuktur yang tidak merata langsung saya rasakan sendiri untuk kerabat kita di Indonesia timur. Sebuah PR besar bagi pemerintah pusat.

45 menit berlalu dengan singkat. Kami mendarat dengan sedikit “ngepot” di Bandar Udara Wamena, cukup bikin saya yang ngantuk-ngantuk ayam langsung melek seketika.

Perjalanan dari Sentani ke Wamena

Perjalanan dari Sentani ke Wamena

Wamena dari atas pesawat

Wamena dari atas pesawat

Wamena Masih dari atas pesawat

Wamena Masih dari atas pesawat

Tim Mahakarya Indonesia

Tim Mahakarya Indonesia – Wamena

Kami turun dengan riang gembira. Selfie sana-sini, dari kamera serius sampai kamera handphone, yang pada akhirnya semua foto dan video dari hp saya tidak bisa diposting karena rusak di hari terakhir trip ini (iyaaa! Nyesek banget nggak siiih?!) Untungnya banyak temen-temen yang foto-foto juga, jadi bisa comot sana-sini.

Kembali ke Bandar Udara Wamena. Mungkin buat yang sering berpergian ke Indonesia Timur, apa yang saya lihat ini adalah hal yang lumrah. Tapi bagi saya ini cukup mengejutkan melihat airport Wamena yang tidak seperti airport kebanyakan.

Saya akan mencoba mendeskripsikan Bandar Udara Wamena tanpa melebih-lebihkan atau menguranginya.

Kalau saya membandingan bandara ini dengan warteg di belakang kantor saya, dengan cepat akan saya jawab bangunan warteg di belakang kantor saya jauh lebih bagus.

Gedungnya seperti semi permanen. Dinding-dindingnya terbuka. Satu sisi terbuat dari batu bata, sementara sisi lainnya terbuat dari papan kayu, dan kawat jaring yang sudah tidak sempurna lagi. Lantainya masih alami, alias belum dilapisi keramik. Cukup kontras jika dibandingkan dengan kantor polisi yang berbagi halaman parkir di sebelahnya. Gedung baru, berkeramik, dan yang pasti benar-benar terlihat seperti bangunan permanen.

Ketika hendak mengambil bagasi, prosesnya pun sangat manual. Kita menyerahkan boarding pass ke petugas, nanti mereka akan memberikan bagasi kita. Persis seperti tempat penitipan barang di mall.

Bandara di Wamena

Antrian mengambil bagasi di Wamena (1)

Antrian mengambil bagasi di Wamena (1)

Antrian mengambil bagasi di Wamena (2)

Antrian mengambil bagasi di Wamena (2)

Penumpang menukarkan stiker bagasi yang ada di boarding pass kepada petugas bandara.

Penumpang menukarkan stiker bagasi yang ada di boarding pass kepada petugas bandara.

Harriman Sihotang

Harriman Sihotang

“Halo perkenalkan nama saya Hariman, yang akan memandu teman-teman Mahakarya Indonesia selama di Wamena.” Lelaki separuh baya dengan kacamata bergagang tipis menyapa kami semua ramah dan terkesan sedikit lelah. Rambutnya berwarna keperakan menambah kesan bijaksana dari seluruh perawakannya.

Hariman Sihotang, pria Batak yang saya temui di Wamena adalah pemandu yang sudah paham sekali dengan kehidupan suku Dani, dan masyarakat lokal Wamena. Pria dari Barat Indonesia, yang entah bagaimana bisa tinggal di salah satu kota di Timur Indonesia.

Sebuah mobil safari yang disediakan hotel mengantarkan kami beranjak dari airport, melihat kota Wamena untuk pertama kalinya. Tidak seperti yang ada di bayangan saya bahwa kota ini akan “kosong”, nyatanya, kota Kota Wamena cukup sibuk dan sudah ada bangunan-bangunan modern yang digunakan untuk perkantoran, dan layanan umum seperti bank, supermarket, dan lain-lain  walaupun memang jumlahnya tidak banyak.  Rumah-rumah penduduk yang saya lewati cukup menyenangkan dipandang. Halamannya luas, bangunannya juga sederhana tapi indah. Ada yang memadukan rumah tradisional honai dengan sentuhan modern juga. Tidak ketinggalan ruko-ruko yang dimanfaatkan sebagai toko kelontong, bengkel, dan warung makan.

Hampir separuh jalan, saya melihat banyak anak-anak berseragam sekolah sedang berjalan pulang. Kebanyakan dari mereka berjalan beriringan, sedangkan lainnya ada yang berjalan sendiri dalam diam. Saya melihat orang-orang di Wamena gemar berjalan kaki. Setelah saya amati lebih detil lagi, sebagian besar dari mereka berjalan dengan bertelanjang kaki. Pasti kaki mereka kokoh-kokoh, batin saya.

Sepanjang jalan saya sibuk menyapa orang-orang yang lewat sambil tersenyum bahagia. Iya bahagia karena akhirnya saya bisa menyapa Wamena! Sapaan saya pun dibalas dengan lambaian tangan, dan senyum sumringah dari wajah mereka, penduduk lokal. Halo Wamena!

Mobil safari yang disediakan hotel. Tidak disangka, mobil ini sungguh tangguh!

Mobil safari yang disediakan hotel. Tidak disangka, mobil ini sungguh tangguh!

Rumah Honai di Kota Wamena

Rumah Honai di Kota Wamena

Jangan salah, di Wamena juga ada becak!

Jangan salah, di Wamena juga ada becak!

Pusat Kota Wamena

Pusat Kota Wamena

Rumah di Wamena halamannya luas-luas

Rumah di Wamena halamannya luas-luas

Anak Wamena

Gadis kecil ramah ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dari sekolah.

Gadis kecil ramah ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dari sekolah.

Swag style! high school girls of Wamena

Swag style! high school girls of Wamena

Masih banyak sawah luas dan sapi yang merumput.

Masih banyak sawah luas dan sapi yang merumput.

Warga Wamena

Warga Wamena

Rumah Makan Blambangan Wamena

Rumah Makan Blambangan Wamena

Pemberhentian kami selanjutnya adalah rumah makan Blambangan. Iya Blambangan, saya tidak salah tulis! Sebuah restoran Jawa di tanah Wamena di mana pemiliknya bernama Ibu Dewi berasal Jawa yang menetap di sini selama puluhan tahun. Konon rumah makan ini kerap menjadi persinggahan mantan Presiden Megawati, dan SBY ketika sedang ke kota ini. Rumah makan Blambangan berhasil membawa cita rasa Jawa ke Wamena dengan mengolah kekayaan alam Papua. Baru pertama kali saya makan ayam goreng tapi ayamnya gede banget!

Dalam postingan saya selanjutnya, akan terjawab kenapa ayam goreng yang saya makan bisa besar-besar.

Bersambung.

Be Sociable, Share!