Cerita sebelumnya: 
Kopi Pagi Sentani
Menyapa Wamena


Mobil safari yang disediakan hotel mengantarkan kami dari rumah makan Blambangan, menuju Pasar Jibama, salah satu pasar modern yang ada di Wamena.

Sebelum tiba ditujuan, Pak Hariman kembali mengingatkan kami agar berhati-hati dalam mengambil foto. Ia menjelaskan bahwa di Pasar Jibama akan ada banyak suku dari berbagai daerah di Wamena dan luar Wamena untuk berdagang, dan berbelanja. Sebagian besar dari mereka kurang suka akan kehadiran wisatawan yang datang hanya untuk memotret dan mengganggu aktivitas jual beli. Bahkan ada yang terang-terangan meminta bayaran ketika pelancong yang ingin mengambil gambar. Mereka mengenal uang biru (Rp50,000,-) dan uang merah (Rp100,000,-).

Sedikit tips untuk menghindari hal-hal yang kurang diinginkan adalah meminta izin terlebih dahulu sebelum memotret, berinteraksi dengan mereka, atau bila perlu membeli barang dagangan mereka sebelum meminta izin foto. Adanya interaksi personal, secara tidak langsung membangun kepercayaan mereka dengan para wisatawan. Walaupun demikian, tips tadi tidak selamanya akan berhasil. Akan tetap ada yang enggan difoto, atau tetap meminta bayaran. Jika mereka sudah menunjukkan ketidaksukaan, lebih baik urungkan niat, dan mencari spot foto lainnya.

Processed with VSCOcam with hb2 preset

Memasuki Pasar Jibama

Pasar Jibama

Ada Becak di Pasar Jibama

Pasar Jibama

Pasar Jibama

Pasar Jibama

Pasar Jibama

Kami memasuki pintu masuk pasar yang berdekatan dengan terminal bus. Peringatan dari pak Hariman mau tidak mau sedikit mempengaruhi saya. Tapi rasa semangat saya jauh lebih besar dari rasa khawatir.

Orang-orang di sekitar pasar memandang mobil kami dengan tatapan penasaran. Mungkin kami terlalu mencolok sebagai pelancong. Beberapa melambaikan tangan dan memasang senyum ke arah mobil kami, dan entah kenapa ada dorongan ikut melambaikan tangan seperti Miss Universe pas lagi kerja di depan kamera. Bedanya ini nggak ada kamera yang menyorot – dan saya bukan finalis beauty pageant.

Ketika mobil berhenti, serombongan anak-anak menghampiri kami, saling dorong, dan menatap kami dengan rasa penasaran. Ada sedikit sorot mengharapkan sesuatu yang tertangkap di mata mereka. Saya mencoba menerka, apa yang mereka mau. Dari informasi yang saya dapat sebelum berangkat, bahwa anak-anak Wamena gemar sekali dengan permen, maka saya coba mengeluarkan permen yang sengaja saya beli di Jakarta dan menawarkan ke mereka. Wow! Anak-anak itu berhambur mendekat, dan rebutan mengambil permen. Cukup kaget dengan serbuan mendadak tersebut saya langsung mengingatkan mereka “Pelan-pelan ya! Semua kebagian!”. Tapi namanya anak-anak di mana-mana sama, ucapan saya hilang secepat tumpukan permen di tangan. Raut wajah senang mereka mendapat permen itu sungguh tak ternilai harganya.

Saking senangnya, saya sampai lupa mau foto mereka. Menginggalkan anak-anak Wamena yang lebih dulu meninggalkan saya, bersama rombongan, kami melipir memasuki lorong-lorong pasar. Bawang, cabe, jeruk, markisa, sayur kol sebesar bola bowling, buah merah, dan beragam hasil bumi lain yang saya lupa terjaja di sepanjang lorong pasar, dan di luar bangunan pasar.

Menurut saya, beberapa ukuran hasil bumi di sini memang jauh lebih besar dari yang biasanya ada di supermarket di Jawa atau di Bali. Dan beberapa pedagang bilang ini hasil bumi dari kebun mereka sendiri.

Pasar Jibama

Suasana luar bangunan Pasar Jibama

Lorong Pasar Jibama

Lorong Pasar Jibama

Penjual Pasar Jibama

Penjual Pasar Jibama

Hasil Bumi Pasar Jibama

Hasil Bumi Pasar Jibama

Sayur mayur hasil belanja dibawa dengan noken

Sayur mayur hasil belanja dibawa dengan noken

Di satu sudut pasar, yang sedikit lebih gelap membuka lapak berbeda. Bukan sayuran hijau segar, atau buah-buahan berwarna cerah, tetapi sekumpulan perangkat berbahan metal dan plastik berwarna legam. Beragam telepon genggam segala merek tergeletak berantakan di meja lapak. Beberapa calon pembeli terlihat sedang mengutak atik handphone. Saya tanpa berpikir panjang berjalan ke arah berlawanan, dan menghindari lorong tersebut.

Begitu keluar bangunan pasar, titik-titik air jatuh dari langit. Gerimis! Bergegaslah saya kembali ke mobil dan duduk nyaman di dalam. Tidak berapa lama, seorang lelaki separuh baya, mengenakan koteka, menghampiri mobil kami. Menyapa dengan ramah, dan mengajak berbicara dengan bahasa isyarat. Ya bahasa isyarat.

Dia membuat dua jari kanannya berjalan pangkal lengan sebelah kiri ke arah siku, lalu memberi isyarat angka 2. Kami lalu berusaha memahami “oooh bapak sudah berjalan 2 hari?” Kemudian ia kembali menegaskan dengan kedua jarinya kalau ia berjalan naik turun. “Oh bapak sudah berjalan menyeberangi gunung selama 2 hari…” dan ia menangguk. Sepertinya usaha kami berhasil memahami si bapak.

Kemudian, ia memberi isyarat merokok yang kami pahami sebagai, “Oh bapak mau ngerokok… Ini saya ada rokok.” Uthie salah satu rekan perjalanan yang sudah ada di dalam mobil dari tadi mengeluarkan sebungkus Dji Sam Soe dan memberikan beberapa batang ke si bapak. Si bapak menerima rokok itu, dan memberi isyarat “minta korek dong” ke kami. Uthie pun dengan sigap mengeluarkan korek dan menyalakan rokok si bapak. Si bapak tertawa lebar, kami juga tertawa lebar… dan awkward.

Melihat situasi yang semakin cair, saya pun berinisiatif. “Pak, selfie yuk!”. Saya sangat yakin sekali, si bapak nggak ngerti selfie. Lalu saya mengeluarkan ponsel dan tongsis. Ayo foto pak! “Ah foto! Foto!” Si bapak mau diajak foto bersama kami. “Satu… Dua… Tiga..!” Klik… klik.. klik… beberapa kali tombol tongsis saya pencet dan berhasil memotret kami semua. Oh iya, tongsis milik Uthie ada tombol shutter di gagangnya, jadi kita nggak perlu pakai self timer. Selesai selfie, si bapak langsung memberi isyarat lagi. Kali ini kelima jarinya terbuka lebar dan dihadapkan ke kami.

“5..?”

“Lima apa pak?”

Ekspresi kami bingung karena tidak paham. Dengan sigap, si bapak mengeluarkan lembaran uang 50 ribuan. Dan dia memberikan gerakan-gerakan isyarat yang kami terjemahkan dengan:”ayo bayar… bayar…”

DHUAR! Kami pikir hubungan yang kami bangun, canda tawa yang kita lalui sesaat tadi tulus adanya. Mungkin memang tulus, tapi uang tetap berbicara. Ia tetap meminta uang 50 ribu dari kami karena sudah berfoto pakai handphone. Karena tidak ingin hal ini jadi masalah, kami beri uang biru kepada beliau. Tapi… Saya tetap tidak mau rugi-rugi banget. Saya keluarkan kamera mirrorless. Sembari si bapak menerima uang 50 ribu dari Uthie, saya berkata “pak foto pakai ini ya.” Lalu si bapak dengan sangat sigap mengeluarkan uang merah alias 100 ribu! Spontan saya langsung ngomong “Eh.. Nggak jadi deh pak! Saya nggak jadi foto”. Walaupun jari saya sudah keduluan memencet shutter kamera bersamaan dengan saya ngomong barusan.

Hal yang kami pelajari dari si bapak: Tidak seperti di Jawa yang terbiasa dengan permainan pasif agresif, di Wamena sini kita harus bertanya dan memastikan dengan jelas boleh apa tidak kalau mau sesuatu, dalam konteks ini foto.

Wajah Papua

Si Bapak yang saya lupa namanya

anak wamena

Si bapak melambaikan tangan ke kami ketika mobil melaju keluar pasar. Sepanjang jalan ke luar kota Wamena, orang-orang menyoraki dan melambaikan tangan ke arah mobil kami. Senyum merekah dari penduduk setempat yang melihat kami melambaikan tangan dari dalam mobil. Ada perasaan nyaman di antara perasaan asing di negeri sendiri. Sebagai orang yang baru menginjakkan kaki di Indonesia Timur, dan di Papua, tentu suasana ini masih sedikit asing bagi saya. Tapi keramahan penduduk kota, baik tua atau yang masih kecil membuat saya seperti bertemu saudara jauh. Perasaannya mirip ketika saya sedang mudik lebaran, dan bertemu dengan sepupu-sepupu yang sudah lama sekali tidak bertemu.

Be Sociable, Share!