Bab Rumah Honai di Wamena

Cerita Sebelumnya:

Bab Secangkir Kopi Pagi di Sentani
Bab Menyapa Wamena
Bab Pasar Jibama


Mobil kami berhenti di pinggir jalan menghadap bukit indah yang luas (pakai banget). Pak Hariman bilang kita akan ke rumah honai di sebuah desa tak jauh dari sini. Udara segar masuk keluar masuk dengan bebas di rongga pernafasan. Anak-anak Wamena berlarian sembari menggelindingkan ban motor bekas. Sedangkan segerombolan lainnya memanjat bukit bebatuan dan duduk singgasana tertinggi melihat pergerakan kami menjauh dari tempat mobil parkir.

Bumi Wamena sungguh luar biasa. Hamparan brokoli yang saya lihat dari atas pesawat ternyata wujud kecil dari sekumpulan pohon-pohon besar yang jenisnya pasti sangat banyak dan tidak saya tahu. Gerimis masih sesekali menyapa kami selama melewati jembatan sungai, jalan setapak, hutan pinus, padang rumput, sebelum akhirnya sampai di kampung rumah Honai. Di sana ada 2 anak kecil yang duduk malu di depan pintu. Saya mendekati mereka dan kembali menyuguhkan permen. Bocah-bocah itu mengambil dengan malu dan mengucapkan terima kasih. Mata kumbang mereka menyorot kami dengan hangat. Mungkin baginya kami adalah Sinterklas yang punya setas penuh permen.

Anak-anak di Wamena bermain ban bekas

Anak-anak di Wamena bermain ban bekas

Anak-anak Wamena

Anak-anak Wamena

Anak-anak Wamena

Anak-anak Wamena

Saya menghampiri rombongan yang sudah berbincang dengan warga lokal. Mereka sedang bercerita tentang rumah Honai yang mereka tinggali dengan bahasa lokal. Pak Hariman seperti biasa menerjemahkan setiap kalimat agar kami mengerti.

“Rumah di Honai biasanya terdiri dari 3 bagian: honai laki-laki, honai perempuan, dan dapur,” kata pak Hariman. Posisi Honai Laki-laki harus berhadapan langsung/satu garis lurus dengan pintu gerbang. Sedangkan Honai perempuan dan dapur ada di sisi kanan dan kirinya. Karena, menurut budaya setempat posisi Honai laki-laki yang berada lurus dengan pintu gerbang itu menunjukkan kekuatan dan kekuasaan para lelaki.

Di dalam Honai laki-laki terdapat perapian kecil, dan jerami kering membuat ruangan kecil namun bisa menampung 25 pria itu hangat. Jangan bayangkan rumah honai itu seperti rumah pada umumnya untuk suami, istri, dan anak. Karena di sini sistemnya tidak seperti itu.

Honai laki-laki diisi oleh laki-laki yang ada di kampung itu. Baik yang sudah punya istri atau belum. Para laki-laki tinggal dalam satu atap berhimpitan untuk tidur, dan mengobrol satu sama lain.

Sedangkan Honai Perempuan biasanya diisi oleh para perempuan, ibu, dan anak mereka. Biasanya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah untuk ruang tidur, sedangkan lantai atas biasanya digunakan oleh suami istri bercengkrama. Yes! Kalau suami ingin melakukan hubungan intim, sang pria akan datang ke Honai perempuan dan pergi ke lantai atas. (Hingga kini saya masih bertanya-tanya tentang bagaimana mereka menjaga privacy antar masyarakat di sini)

Bangunan lain yang lebih memanjang adalah dapur… dan kandang babi. Seluruh kegiatan masak memasak dan rumah tangga terjadi di sana. Beratapkan tumpukan jerami.

Pekarangan luar rumah Honai

Pekarangan luar rumah Honai

Rumah Honai laki-laki

Rumah Honai laki-laki

Rumah Honai dari atas

Rumah Honai dari atas

Rumah Honai Perempuan dan anak-anak

Rumah Honai Perempuan dan anak-anak

Pintu masuk kampung Honai

Pintu masuk kampung Honai

Satu permasalahan yang saya perhatikan dari rumah Honai ini adalah perapian di dalamnya yang tidak didukung dengan ventilasi udara yang cukup. Satu-satunya pintu pertukaran udara di rumah Honai adalah pintu masuknya saja. Model seperti ini membuat rumah Honai menjadi hunian hangat sekaligus rawan penyakit pernafasan akibat asap yang dihasilkan perapian. Pak Hariman membenarkan kekhawatiran saya. Banyak masyarakat Wamena yang tinggal di Honai tradisional seperti ini punya penyakit pernafasan — sebagian besar ISPA.

Air langit tidak lagi malu-malu menunjukkan kehadirannya. Kunjungan kami kali ini diwarnai dengan hujan yang sering datang dan pergi seperti perasaan rindu. Kami memutuskan untuk menyudahi trip hari pertama dan menuju hotel tempat kami bermalam 4 hari ke depan.

Sepanjang perjalanan pulang saya berpikir, bagaimana mereka bisa menjaga privacy masing-masing jika hidup satu atap dengan warga satu kampung. Lalu diri saya yang lain mencoba menjawab pertanyaannya ini. Mungkin masyarakat sini tidak menganggap warga kampung seperti tetangga mereka laiknya masyarakat di kota. Justru mungkin mereka menganggap warga kampung adalah keluarga, di mana mereka bisa berbagi, membangun kebersamaan, dan gotong royong melakukan sesuatu. Pada dasarnya, hubungan mereka satu dengan yang lainnya pasti akan lebih erat daripada kehidupan antar tetangga di perkotaan. Ada rasa memiliki, kebersamaan, persaudaraan, yang secara tidak langsung mereka tanam membuat desa hidup dalam harmoni. Nilai yang mungkin sudah sedikit luntur bagi masyarakat urban.

Mobil melaju menjauhi bukit yang cantik. Meninggalkan sisa-sisa pertanyaan yang tidak lenyap seperti matahari senja di Wamena yang lebih cepat datangnya dari dugaan saya.

Bersambung…

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

3 Comments

  1. Utee

    Mereka hidup kaya 1 kelurga buesar (pake banget) ya. Positifnya adalah menghidupi satu desa itu ya tugas dan tanggungjawab rame-rame. Mungkin ga mereka mikir keluargamu adalah keluargaku dan anak-anakmu adalah anak-anakku semua?
    Mereka mungkin bakalan ketawa dan bingung kalau ditanyain soal privasi kali ya. Mungkin mereka malah bakalan balik nanya kenapa kamu bisa hidup rame-rame?
    Trus soal perapian,aku pernah baca bangsa viking dulu pun rumahnya ga punya jendela dan api perapian selain buat penghangat juga tempat memasak dan berkumpul klan mereka. Karena cuaca disana selalu dingin mereka g bisa bikin rumah kaya di Inggris yg bisa berjendela jadi asap perapian juga selalu ada dirumah mereka. Mereka juga tinggalnya berkelompok persis kaya di rumah honai ini. Lucu ya betapa beda negara dan beda cuaca tetap bisa kita temukan kemiripan cara hidup.

    • Saya juga berpikir yang sama. Mungkin mereka akan menganggap saya aneh kalau menanyakan privacy. Terus soal bangsa Viking, saya baru tahu. Terimakasih infonya ya 😀

  2. Utee

    Erh, ralat. Maksudnya kenapa kamu mau hidup sendiri kalau bisa hidup rame-rame gitu. Mungkin juga mereka ga ngerti perasaan galau ato kesepian kaya anak muda jaman sekarang karena hidupnya selalu rame-rame.

Leave a Reply