Bab Baliem Valley Resort

Cerita Sebelumnya:

Bab Secangkir Kopi Pagi di Sentani
Bab Menyapa Wamena
Bab Pasar Jibama
Bab Rumah Honai di Wamena


Matahari sudah lama hilang, berganti bulan yang berpendar lemah. Udara dingin sudah menembuh lapisan pertahanan jaket saya yang basah karena kehujanan saat melihat rumah honai. Mobil safari hotel terus melaju bergerak ke atas dalam gelap yang saya yakin kami sedang menaiki bukit yang cukup terjal.

Tidak lama kami memasuki sebuah gerbang dengan penerangan seadanya. Suara mobil dari tadi meraung mengeluarkan kekuatannya akhirnya melemah. Kami tiba di Baliem Valley Resort, rumah selama beberapa hari ke depan.

Seluruh rombongan turun dari mobil safari menuju sebuah ruangan besar penuh patung dan ukiran dari suku Dayak. Lampu kuning temaram menjadikan lobby sekaligus restoran resort ini semakin dramatis dan bernuansa magis.

Jari kaki saya sudah mati rasa dari tadi. Segelas jus terong belanda sebagai welcome drink sedikit menyuntikkan tenaga ke badan yang sudah mulai menggigil. Tapi penyelamat malam itu adalah: pisang goreng, ubi bakar, dan sop ayam panas yang telah tersaji di meja buffet restoran. Tanpa ragu, saya menaruh tangan di atas panci, mencari kehangatan dari uap sop ayam. Cukup bertahan 10 detik saja sebelum aroma makanan lezat mengambil alih alam sadar saya mengambil piring dan mengisi penuh dengan makanan yang tersaji.

“Selamat datang di Wamena, selamat datang di Baliem Valley Resort,” Kata mas Bram membuka forum malam itu. Sambil menyantap sop panas, kami mendengarkan rencana perjalanan esok hari, serta segala informasi yang dirasa perlu tahu selama berada di Wamena. Forum diakhiri dengan pembagian kunci kamar. Saya berpasangan dengan Randy, seorang jurnalis detik travel yang penuh semangat meliput perjalanan ini.

Ternyata… Petualangan kami hari itu belum berakhir! Saya baru menyadari bahwa bentuk resort ini berbukit mengikuti struktur tanah. Lobby yang saya singgahi dari tadi ada di bagian terbawah, dan semua kamar ada di bagian atas. Itu artinya saya harus berjalan menanjak untuk sampai ke kamar.

Udara dingin semakin menusuk paru-paru, perlahan tapi pasti, saya mengeluarkan sisa-sisa tenaga berjalan menanjak menuju kamar. Untungnya saya dibantu petugas hotel mengangkat koper sampai atas. Kejutan! Kamar saya dan Randy ternyata nomor 2 tertinggi dari seluruh kamar di resort ini.

Angka 11 terukir di depan pintu bungalow berbentuk honai. Di sebelah pintu terdapat tembok kaca tertutup tirai. Kami masuk ke kamar yang seluruhnya terbuat dari kayu ini. NYAMAN!

Kamar di Baliem Valley Resorts

Kamar di Baliem Valley Resort

Kamar di Baliem Valley Resorts

Kamar di Baliem Valley Resort

2 tempat tidur twin size dengan masing-masing 2 buah selimut hangat terpasang rapi dan mengundang untuk diberantaki. Di sudut terdapat meja kursi kerja, lengkap dengan pemanas air, dan satu set kopi, teh kemasan.

Saya masuk ke dalam kamar mandi yang ternyata semi terbuka, tersusun dari bebatuan. Semua nampak nyaman sampai saya melihat… dinding showernya berupa kaca tembus pandang tanpa tirai menghadap kamar tidur! HAHAHAHA! Saya dan Randy seketika itu juga membuat kesepakatan, kalau salah satu dari kita mandi, yang lain jangan deket-deket kaca.

Persoalan selanjutnya ketika saya membuka keran air. Ternyata airnya kuning. Saya sudah diingatkan dengan petugas hotel kalau airnya kuning. Dan akan bening setelah keran dibiarkan terbuka selama beberapa saat. Ternyata tips itu tidak ampuh. Air tetap kuning walau keran sudah dibuka sekitar 20 menit. Saya berspekulasi air kuning tersebut terjadi akibat cor air tanahnya kurang dalam, apalagi ini di daerah bukit sehingga air bersihnya bercampur dengan tanah. Airnya tidak bau, hanya kuning dan ada endapan tanah kalau didiamkan di washtafel. Solusi dari persoalan ini adalah saat mandi lampu dimatikan untuk mensugesti diri bahwa air bersih dan bening, kemudian sikat gigi dengan menggunakan air mineral.

Dinding showernya terbuat dari bebatuan dan kaca transparan menghadap kamar

Dinding showernya terbuat dari bebatuan dan kaca transparan menghadap kamar

Usai mandi dengan air panas (untungnya ada air panas, karena udara cukup dingin), saya masuk selimut dan tidur hanya dalam hitungan detik. Kemudian terbangun begitu tirai di kamar mendadak terang karena ternyata sudah pagi.

Saya dan Randy membuka jendela kamar, dan mendapati pemandangan cantik dari dalam kamar, tepatnya dari tempat tidur saya. Wow!

Pohon-pohon tropis liar begitu cantik bersanding dengan birunya langit pagi. Pucuk bunga merekah membuka diri kepada dunia. Tetes embun memeluk erat helai-helai daun hijau yang tumbuh subur.

Pemandangan Baliem Valley Resorts

Pemandangan Baliem Valley Resort

Pemandangan dari lobby dan restaurant

Pemandangan dari lobby dan restaurant

Bunga di Wamena

Bunga di Wamena

Bunga di Wamena

Bunga di Wamena

Lobby Baliem Valley Resorts

Lobby Baliem Valley Resort

Ukiran Suku Dayak

Ukiran Suku Dayak

Usai menyiapkan segala perlengkapan, kami keluar menuruni jalan setapak yang cukup miring menuju lobby. Melihat resort ini di pagi hari sungguh menyenangkan! Bunga-bunga liar cantik bermekaran di sepanjang jalan setapak. Bunyi burung bersahut-sahutan. Udara yang tidak perlu dipertanyakan lagi kesegarannya. Semuanya sempurna untuk mengawali petualangan kami di Wamena.

“Selamat pagi,” sapa saya kepada rekan-rekan Mahakarya Indonesia yang lain. Sepotong roti bakar dengan selai strawberry menjadi pengganjal perut hingga siang. Secangkir teh panas menghangatkan badan saya yang sedang mengagumi keindahan bumi Wamena dari teras luar restoran.

Bukit-bukit hijau berselimut kabut putih seakan menyimpan banyak rahasia yang sungguh menggoda untuk dikuak. “Sebentar lagi…” “Sebentar lagi saya akan mengungkap secuil keindahan Lembah Baliem yang mahsyur dengan mata saya sendiri,” batin saya sambil menyesap tetes terakhir teh yang sudah dingin.

Bersambung…

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

2 Comments

  1. Mantap banget hotelnya.. ini rate permalam berapa ya van?

Leave a Reply