Bab Cap Go Meh di Singkawang: Prologue

Malam sudah berganti menjadi dini hari. Saya membuka sepatu, meletakkan tas, dan membaringkan badan. Merasakan lelah yang menjalar dari telapak kaki hingga ke seluruh badan. Rutinitas menyambung hidup di ibukota memang berat, komandan. Tapi sebuah gelombang semangat bangkit menenggelamkan peluh seharian. Kurang dari 10 jam lagi saya akan berangkat ke Kalimantan!

Khawatir rasa lelah ini melelap raga, saya langsung mengemas peralatan liburan yang dibutuhkan di kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Pakaian, jas hujan (atau payung), kamera, power bank, laptop (yeah, just in case ada kerjaan dadakan), semua saya jejalkan di tas backpack dan travel bag ukuran kabin. Pukul 03.00 pagi saya berangkat menuju bandara.

Pak Akbar, supir Uber mengantar dalam diam di mobil Avanza hitam. Semenit kemudian (atau yang saya rasa seperti itu) kami sudah sampai di terminal 1C. Saya orang pertama yang tiba dari rombongan #PesonaSingkawang.

Seiring dengan adzan subuh yang berkumandang, satu persatu wajah petualang ini bermunculan. Simbok Venus, blogger yang saya kenal sejak tahun 2007 silam. Kemudian mas Him petualang ulung dari Kemenpar, Teteh Nita Selya yang selalu berseliweran di timeline saya, Rere, Ochoy, dan genk “anak-anak muda”: Satya, Vira dari Indohoy, Sefin. Semua lengkap dalam suka dan gembira. Siap terbang ke Pontianak dengan Citilink.

Grup #PesonaSingkawang

Grup #PesonaSingkawang

Halo Pontianak

Bagai sihir, begitu duduk di kursi pesawat, saya terlelap. Tanpa jeda. Ketika terjaga, pesawat ini telah tiba di Bandara Supadio, Pontianak.

Bandara Supadio tergolong bandara baru dan modern (sepertinya semua bandara di daerah lain terlihat modern jika dibandingkan dengan terminal 1 dan 2 Soetta).

Eksplor Pontianak atau Langsung Singkawang?

Berhubung di Singkawang tidak ada airport, maka untuk menuju sana harus ke Pontianak dulu. Dari Pontianak, kita bisa memilih sewa mobil atau naik Damri yang mengantarkan langsung ke Kota Amoy. Jika pergi berombongan opsi sewa mobil mungkin lebih menyenangkan karena di Singkawang tidak ada angkutan umum yang memadai. Tapi kalau jadi pelancong tunggal, naik Damri jauh lebih hemat dengan biaya Rp90,000/sekali jalan.

Dalam trip kali ini, saya mengambil opsi pertama: sewa mobil dengan estimasi budget (400-500ribu/mobil/hari). Alasan saya sungguh praktis: mempermudah mobilitas selama di Pontianak dan Singkawang.

Dua mobil avanza hitam dan silver telah menunggu kami di luar airport. Wanita paruh baya dengan rambut keabuan sudah berdiri menunggu kami. Ibu Nina, pengasuh komunitas kuliner Langsung Enak menjadi peserta terakhir dalam trip ini. Kami semua siap menjelajah kota Singkawang (plus Pontianak).

 

*bersambung*

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

6 Comments

  1. senang bisa jalan denganmu lagi. sampai bertemu di trip yang lain, ivan! 😀

  2. ditunggu lanjutannya, Van!

  3. waaaaa jalan2 kereeeen

  4. *menunggu lanjutan*

  5. Dan gw sampe konfirmasi ke Bu Nina, “ini rombongan anak kuliahan, Bu?”. Ternyata komunitas famous blogger. :)

  6. Ditunggu seri berikutnya kak!

Leave a Reply