Bab Cap Go Meh di Singkawang: Festival Tatung

Hujan kecil menyapa kami begitu tiba di Kota Singkawang. Matahari sudah lama pergi. langit kelam, seakan menularkan sendu. Tertolong oleh semburat kemerahan menembus kaca mobil menawarkan romantisme sekaligus kecantikan yang mistis.

Cahaya kemerahan itu bersumber dari lampion yang tergantung di jalanan pusat kota. Memberi tanda bahwa mayoritas penduduk kota ini sedang bersuka cita merayakan tahun baru imlek yang kini menuju detik-detik puncak perayaan. Singkawang sebagai salah satu kota dengan komunitas Hakka terbesar, tentu punya perayaan yang istimewa. Alkulturasi budaya Tiong Hoa dengan Dayak dan Melayu pastinya akan membuat perayaan ini berbeda dengan perayaan Cap Go Meh di kota-kota lain. Inilah tujuan saya datang ke kota ini. menyaksikan salah satu festival paling mistis yang pernah ada: Festival Tatung.

Lampion SIngkawang di malam hari

Apa itu Tatung?

Saya berdiri di pintu depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Dari kejauhan sebuah Gema tabuh genderang terdengar riuh mengiringi mobil bak yang semakin mendekat.

Saya melihat seorang keturunan Hakka separuh baya mengenakan kaos polo kuning berada di antara sekumpulan orang yang memeganginya di atas mobil. Lelaki itu tidak nampak sadar 100%, atau paling tidak begitulah kesimpulan saya. Matanya terpejam, gerakan tubuhnya sedikit aneh, sekujur badannya penuh dengan keringat. Ia adalah calon Tatung yang sedang melakukan ritual meminta restu agar diberi “kekuatan” di puncak acara.

Tatung adalah orang-orang terpilih (biasanya secara turun temurun atau memang punya kemampuan khusus) yang secara sengaja mengizinkan tubuhnya dirasuki oleh spirit sehingga tubuhnya bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia normal pada situasi normal.

Sebelum puncak acara biasanya para Tatung melakukan beberapa ritual diantaranya puasa sebelum acara, dan meminta restu klenteng-klenteng yang ada di kota Singkawang ini. Yang sedang saya saksikan saat ini adalah ritual meminta restu agar diberi “kekuatan” tersebut.

Rombongan Tatung

Melepas harapan

Mohon Restu menjadi Tatung

Mohon Restu menjadi Tatung

Prosesi Tatung minta restu di Klenteng

Prosesi Tatung minta restu di Klenteng

Seribu pertanyaan muncul dibenak saya ketika melihat seorang Tatung. Apa rasanya? Bagaimana dia tahu akan kerasukan? Bagaimana awal mula ia menjadi Tatung? Itu semua belum terjawab sebab saya belum berkesempatan bertemu dengan para Tatung dalam kondisi sadar untuk mengobrol langsung dengan mereka. “Suatu saat nanti saya akan kembali,” batin saya. Namun dari apa yang saya lihat, mereka dengan rela dan bangga bisa menjadi seorang Tatung. Saya mendapat kesan bahwa menjadi Tatung memberikan status sosial yang lebih tinggi di mata masyarakat. Sebuah pengakuan bahwa mereka adalah orang terpilih.

Lantas apa yang terjadi ketika para Tatung ini sudah mendapat “restu” dan “kekuatan” seperti yang diminta? Saya tercengang melihat sendiri dengan nyata semua kesaktia para Tatung ini keesokan harinya, hari puncak perayaan Cap Go Meh di kota seribu Klenteng ini.

 

Festival Tatung

Langit Singkawang pagi itu sungguh cerah. Langit biru dengan aksen awan putih tipis memayungi Festival Tatung yang menjadi puncak perayaan Cap Go Meh di Singkawang. Sederet panggung berundak terpasang kokoh di kanan dan kiri jalanan yang menjadi pusat acara.

Panggung VIP tempat para tamu penting sudah terisi penuh. Tampak Gubernur Kalimantan Barat, Wali Kota Singkawang, perwakilan Kementrian Pariwisata, beserta jajaran pemerintah daerah duduk di tempat masing-masing. Kemudian… muncullah Julia Perrez hadir dan duduk di tengah-tengah mereka, sebagai tamu undangan sekaligus shooting film terbaru yang mengambil setting Festival Tatung.

Lupakan Jupe. Segerombol polisi dan petugas keamanan tampak membaur dengan awak media dan pengambil gambar di sepanjang jalan utama. Turis domestik dan internasional sebagian duduk di podium-podium yang telah disediakan. Yang lainnya berdiri di pinggir jalan membaur bersama masyakarat lokal. Para pemilik properti di sekitar acara punya privilege lebih: menyaksikan keseluruhan acara hanya dari balkon ruko mereka.

Pukul 09.00 sambutan dari VIP silih berganti menjadi appetizer. Puncak acara yang ditunggu sebentar lagi hadir: parade Tatung. Dari kejauhan, rombongan Tatung yang berdiri di atas tandu telah menunggu giliran untuk tampil. Tatung pertama mendekat. Ia berdiri di atas tandu yang berisi golok dan pisau! Berdiri tanpa kesakitan pun berdarah. Bola matanya putih. Tatung itu pun “beratraksi” menggesekkan golok di tangan, di leher, yang semua itu tidak memberi efek apa-apa di tubuhnya. Tidak ada goresan, dan darah setetespun.

Seorang Tatung lain menggigit bangkai ayam dan berlumuran darah tanpa rasa mual dan jijik, berdiri di atas bak mobil terbuka, diiringi dentuman genderang dan bunyian musik tradisional. Kenapa ayam? Beberapa masyarakat lokal mengatakan bahwa ayam tersebut adalah “tumbal” yang disyaratkan oleh beberapa spirit yang merasuki tubuh sang Tatung.

Tatung-Tatung yang beratraksi ini adalah mereka yang telah “direstui” oleh para leluhur dan dewa-dewa. Mendapat kekuatan supranatural untuk dipertunjukkan kepada masyarakat.

Atraksi Tatung

Festival Tatung

Festival Tatung

Festival Tatung

Tatung "makan" ayam

Tatung Muda

Tatung Singkawang

Apakah semua Tatung mendapat restu? Tidak. Ada beberapa tatung yang tidak mendapat restu dan tidak mendapat “kekuatan” yang diharapkan. Tapi beberapa tetap ikut parade berjalan di bawah dan tidak melakukan atraksi.

Disebutkan sebanyak 600 Tatung turut berpartisipasi dalam Festival ini. Tidak hanya pria dewasa, Tatung wanita dan anak-anak juga nampak dalam barisan manusia-manusia sakti ini. Menariknya, walaupun mereka istilahnya “kerasukan”, mereka tetap terkontrol. Tidak ada Tatung yang tiba-tiba lari/loncat ke arah penonton. Semua Tatung diam di atas tandu, dan sepertinya menikmati menjadi bahan tontonan.

Pukul 11.00 siang, semua Tatung sudah tampil dan kembali ke kediaman masing. Saya? Masih takjub dengan apa yang barusan saya lihat. Mereka nyata, mereka ada. Festival Tatung ini menurut saya contoh kebudayaan yang telah dikemas dalam paket pariwisata untuk mengenalkan kepada masyakarat di luar kota Singkawang.

 

Travel Tips:

  1. Jika ingin menyaksikan Festival Tatung di Singkawang, sebaiknya memesan kamar hotel dari jauh-jauh hari. Karena jika memesan last minutes pasti akan penuh dan sangat susah mendapat penginapan yang strategis.
  2. Sewa mobil adalah kewajiban. Di sini transportasi umum sangat minim, menyewa mobil adalah opsi efisien jika ingin mengeksplor kota Singkawang dengan nyaman.
  3. Bikin itinerary terutama untuk wisata kuliner, dan wisata klenteng. Di Singkawang ada banyak sekali kuliner menarik yang sayang untuk dilewatkan. Ini kesalahan dalam trip #PesonaSingkawang: tidak menyusun itinerary dengan benar sehingga saya kurang mengeksplore tempat dan mencicip kuliner dengan maksimal. Saya sendiri sempat mengalami miss communication dengan pihak EO perjalanan karena permasalahan itinerary trip ini. Sungguh disesalkan. Semoga di trip selanjutnya kesalahan kecil yang fatal ini tidak terulang kembali (self reminder).
Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

4 Comments

  1. Aku pernah lihat video-video atraksi Tatung. Asli itu muka ditusuk-tusuk serem abiiiis. Btw kamu kok gak ada foto yang serem-seremnya? :)))

    • Foto-fotonya sudah aku seleksi Chik, biar nggak bikin orang trauma =)))

  2. ((Lupakan Jupe)) Hahahaahaha… Foto-fotomu keceh ya Kak. Aku harus berguru lebih banyak. Ke Singkawang lagi kita tahun depan? 😉

  3. foto-fotonya bikin iri. hahaha

    travel tips nomor 3, well put, Ivan. aku kecewa karena kita melewatkan banyak sekali hal unik yang seharusnya bisa dieksplor maksimal, kalau saja the whole trip direncanakan dan dieksekusi dengan proper dan… yah, profesional, if you know what i’m saying.

Leave a Reply