Bab Halo Labuan Bajo

Tanah Dewata menyambut jiwa yang rindu dengan rumah. Tapi kali ini saya tidak melabuhkan pelukan ke ibunda di beranda, karena sebuah tiket pesawat lanjutan akan menerbangkan saya kembali menuju Timur Indonesia, tempat di mana pertiwi masih menyimpan pesonanya yang bersahaja: Labuan Bajo.

Teriknya matahari timur begitu tegas menyambut saya, Barry Kusuma, Susan .‘Pergi Dulu’, Cumilebay, Gria, dan Pudel yang tiba di Bandar Udara Labuan Bajo, NTT dengan menggunakan pesawat kecil dari Bali. Sinyal handphone yang penuh dengan jaringan 4G cukup melegakan. Beberapa urusan duniawi mengharuskan saya tetap terhubung dengan pikuknya ibukota walau tengah menikmati alam Labuan Bajo.

Seorang perempuan seumuran saya dengan garis muka tegas menghampiri kami menyunggingkan senyum sumringah di pintu kedatangan. Kulit coklat eksotisnya terekspos jelas dan terlihat kontras dengan kaos longgar putih tanpa lengan yang ia kenakan. Tinae Siringoringo, perempuan berdarah Batak yang punya cerita tidak terlalu panjang hingga akhirnya bisa menetap di sini dan mengajak kami menjelajah NTT.

Penuh sigap, Tinae memanggil 2 mobil yang sudah menanti kehadiran kami, memuat semua barang bawaan, dan melaju menuju pelabuhan Labuan Bajo. Petualangan kami siap dimulai.

Senja di Aqua Luna

Kapal semi pinisi, Aqua Luna menjadi rumah indah kami selama 2 hari ke depan. Ada 5 kamar dengan kapasitas masing-masing 2 orang yang bisa dipakai untuk tidur. 3 diantaranya sudah dilengkapi dengan AC. Lebih dari cukup untuk mengakomodir saya menaruh barang dan beristirahat di malam hari. Hati ini langsung kepincut dengan deck depan kapal yang sudah dilengkapi dengan matras dan bantal-bantal warna-warni. Tidak menunda waktu, Aqua Luna perlahan menjauhi dermaga menuju lautan Flores.

Masakan rumah ala awak kapal menjadi sajian yang lezat selama kami tinggal di kapal. Menyenangkan sekali makan seafood dan menu rumahan lainnya sembari memandangi birunya laut Indonesia. Cumilebay selalu berhasil menghangatkan suasana dengan gurauan manjanya. Pudel dan Tinae sibuk berbagi cerita kehidupan setelah mereka berpisah berbulan-bulan yang lalu dalam sebuah trip yang mengubah kehidupan mereka. Cerita-cerita mereka sungguh menarik untuk di simak. Sambil menguping, sesekali saya membuka handphone, memeriksa email dan media sosial lainnya. Maklum, bagaimanapun juga saya masih anak kota yang belum bisa lepas dari sentuhan teknologi dan internet. Semakin jauh kami dari daratan, sinyal semakin fluktuatif. Ada beberapa spot di mana kita masih bisa mengakses data dengan kecepatan 4G, tapi ada beberapa daerah yang hanya bisa melakukan panggilan telepon saja. Sejauh ini, cuma Telkomsel yang sinyalnya paling bisa diandalkan di pelosok timur Indonesia.

Hari semakin sore, kapal kami berlayar menuju Pulau Kalong.

Saya dan Tinae duduk di atas deck kapal sebelah ruang nahkoda. Gadis berkuncir kuda itu sesekali menggoda awak kapal dengan guyonan lokal. Saya duduk mengamati mereka sambil menikmati lembayung laut Flores.

“Jadi setelah kuliah di Kupang, kamu pindah ke sini?” Tanya saya membuka perbincangan. “Nggak langsung. Saya sempat kembali ke Jakarta dulu sebelum akhirnya memutuskan jalan-jalan ngegembel bersama teman-teman ke Labuan Bajo. Hingga akhirnya saya stuck di sini karena nggak ada duit pulang,” Kenang Tinae. Sepanjang sore ia bercerita bagaimana ‘panggilan hidup’ ini bisa membawanya kembali ke sini, meninggalkan segala modernitas di pulau Jawa, menolak kenyamanan masyarakat urban, dan memilih lebih dekat dengan alam.

“Sekarang kerjaan aku kan bawa tamu yang datang ke Labuan Bajo, dan terbantu banget sejak ada instagram,” tambah Tinae. Tren ngebolang memang semakin populer sejak instagram selalu menampilkan foto-foto pemandangan cantik dari penjuru dunia, seolah memaksa kita untuk bisa menghasilkan foto yang serupa. Labuan Bajo ini termasuk salah satu “korban” instagram. Sejak Pulau Padar tiba-tiba booming di jejaring sosial sebagai “hot spot” buat fotografi, banyak wisatawan domestik dan internasional datang untuk melihat langsung keindahannya. Tinae dan kawan-kawan pun melihat momen ini sebagai potensi bisnis pariwisata yang bisa dikembangkan. Bermodalkan internet dan instagram bertajuk @eastrip, mereka memasarkan jasa paket wisata menikmati keindahan timur Indonesia. Awalnya Tinae membuka bisnis ini agar bisa survive di Labuan Bajo dan bisa lanjut mengeksplor NTT untuk beberapa bulan ke depan. “Modalnya benar-benar 0 rupiah. Saya hanya bermodal hitchhiking dan tidur di hammock saja,” kata Tinae. Sekarang ia bisa menyambung hidup sekaligus liburan di salah satu daerah terindah di NKRI.

Pulau-pulau hijau perlahan berubah siluet kehitaman. Aqua Luna melambatkan lajunya. Kami tiba di Pulau Kalong, tempat di mana ratusan (mungkin ribuan) kalong yang bermukim di pulau tersebut keluar dari peraduaannya. Awan kelabu menjadi latar mahluk-mahluk malam ini terbang di udara. Membangkitkan imajinasi kalau saya ada di markas Batman. Matahari berpamit pulang tanpa memamerkan pesona sunset yang kami nantikan. Yang tersisa hanya cahaya lampu-lampu kapal yang bermalam di sekitar pulau.

Padar, dan Pendar Merah Jambu

Gelombang laut pagi menggoyang Aqua Luna. Membangunkan saya yang lelap dalam bunga tidur. “Menuju Pulau Padar ini memang agak menantang, karena banyak arus laut,” terang Tinae menjawab ekspresi khawatir saya. Selama beberapa waktu kami  berusaha melewati gelombang yang tidak bersahabat sebelum akhirnya sampai di perairan tenang dan tiba di Pulau Padar.

Ternyata sudah ada 2 atau 3 kapal pelancong yang lebih dulu tiba sebelum kami. Tapi menurut awak kapal, ini masih sepi karena biasanya lebih banyak lagi kapal yang tiba.

Setelah menjejakkan kaki di pasir pantai, kami disambut oleh tangga-tangga kayu yang dibangun belum lama ini untuk membantu turis menaiki bukit terjal. Namun tangga kayu itu hanya beberapa puluh meter saja dari bibir pantai. Untuk menuju puncak, kami perlu trekking dengan medan yang tidak terlalu sulit. Saya, Pudel, dan Gria berhasil sampai puncak tertinggi Pulau Padar! Genk lainnya sibuk berfoto di bawah sana. Segeralah kami mengeluarkan kamera, berfoto, dan posting di media sosial. Dari kesuluruhan pulau hanya daerah Puncak Padar saja yang ada sinyal. Pulau ini memang sangat photogenic dalam banyak angle. Wajar, jika kini orang-orang datang untuk berfoto-ria. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, kalau di sini ada beberapa ekor komodo yang sengaja dibuang dari habitat aslinya karena terlalu ganas. Ya, sebelum terkenal oleh turis, pulau Padar memang dijadikan pulau pembuangan komodo yang ganas dan berbahaya. Sampai sekarang spesiesnya masih ada entah di bagian pulau yang mana.

Setelah puas menikmati Pulau Padar, kami kembali ke Aqua Luna untuk sarapan dan bergerak menuju Pink Beach. Sayangnya, pantai yang terkenal itu sudah ramai dikunjungi turis lainnya sehingga kami memutuskan untuk pindah ke pantai berpasir merah jambu yang masih sepi. Ini alasan kenapa saya merekomendasikan mengajak pemandu lokal seperti Tinae untuk trip semacam ini, karena dia tahu “hidden gem” yang belum banyak diketahui oleh pelancong sebagai alternatif destinasi.

Tinae mengajak kami ke Pulau Mauwang di kawasan Taman Nasional Komodo. Tidak ada orang lain selain kami di pulau ini! Dan oh iya… pasirnya berwarna putih dengan butiran-butiran merah sehingga kalau dari jauh berwarna pink! Saya sibuk foto-foto dan berjemur hingga sore, sebelum kami pindah ke hidden spot lainnya: Pulau 9!

Penghuni Pulau 9

Tidak seperti pulau lainnya, Pulau 9 ini terdiri dari tumpukan karang yang jika dilihat dari atas berbentuk angka 9. Nah bagian lubang tengahnya, terdapat “kolam” air asin berisi lumut, ganggang laut dan ubur-ubur yang terisolasi dari lautan sekitarnya. Untuk berenang dan snorkeling di dalamnya pun sedikit tricky. Kita tidak dianjurkan untuk terlalu banyak bergerak karena dasarnya yang dangkal. Sehingga kalau terlalu banyak gerak, air akan menjadi keruh karena lumut  akan naik ke permukaan menyamarkan pandangan kita. Selain itu, badanpun akan terasa gatal-gatal oleh air yang keruh. Tapi… kenapa snorkeling di sini sangat sepadan? Sebab kita akan melihat ratusan ubur-ubur mungil dengan warna biru menyala. Kalau Tinae bilang ‘blue fire’. Saya sendiri jarang melihat ubur-ubur secara langsung. Begitu melihat ubur-ubur ‘blue fire’ ini perasaan saya senang luar biasa. Puas dengan ubur-ubur, kami semua kembali ke Aqua Luna dan berlayar menuju Pelabuhan Labuan Bajo.

Malam Manja di Labuan Bajo
Lampu-lampu pelabuhan menyambut kepulangan kami dari lautan. Sebuah restoran Indonesia di sekitar pelabuhan menjadi penyelamat perut yang sudah mulai protes. Sinyal Telkomsel kembali penuh menjanjikan. Semua orang sibuk dengan layarnya masing-masing. Sebuah dunia baru bernama telepon genggam itu begitu lekat tak terpisahkan dari kehidupan kami, manusia-manusia kota. Membalas pesan dari kerabat, kolega kantor, membalas email kerjaan, memposting beragam keriaan kami di media sosial, hingga memutar musik melalui spotify. Kami bisa berasa tetap dekat dengan dunia kami di Jakarta walaupun sebenarnya terpisahkan ribuan kilometer.

Di salah satu sudut meja, Tinae sibuk menelepon beberapa orang yang saya yakini sedang mengurus persiapan perjalanan esok. Bersyukur sekali di sini tidak terlalu susah sinyal untuk berkomunikasi. Masyarakat jadi semakin mudah terhubung satu sama lainnya. Beragam peluang juga lebih banyak terbuka untuk mereka.

Hidangan pertama datang. Seporsi bakwan jagung sebagai pembuka makan malam ini habis dalam sekejap.

“Because You know I’m all about that bass
‘bout that bass, no treble
I’m all about that bass
‘bout that bass, no treble
I’m all about that bass
‘bout that bass, no treble
I’m all about that bass
‘bout that bass… bass… bass…”

Dari arah belakang saya, sebuah group band bervokalis pria menyanyikan lagi Meghan Trainor. Sontak kami memutarkan badan semua ke arah datangnya musik. Beruntungnya kami, ternyata di malam-malam tertentu, restoran menyediakan live band sebagai hiburan. Kemudian, makanan pesanan kami mulai berdatangan menantang untuk disantap. Malam ini pun semakin ramai… dan terlalu manja untuk segera diakhiri.

*Bersambung*

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

1 Comment

  1. Ya ampun kata-kata manja ini mengingatkan aku pada cumilebay :)))

Leave a Reply