Bab Halo Desa Todo

Cercah cahaya menembus tirai hotel, tanda hari baru telah tiba. Perjalanan kami menjelajah Flores kembali berlanjut. Halo Todo, kami datang! (Baca juga: Bab Halo Labuan Bajo)

Lika-Liku Cunca Rami
Sudah lebih dari 30 menit kami melalui jalan berliku-liku membelah pegunungan Flores. Sesekali matahari bersembunyi di balik awan kelabu. Setelah beristirahat penuh semalam, kami tengah menuju sebuah air terjun Cunca Rami yang dalam bahasa lokal berarti air terjun di tengah hutan.

Rombongan mobil memasuki jalanan lebih kecil, pohon-pohon yang lebih rapat. Anak-anak kecil berlarian di samping mobil kami. Menyapa dengan lambaian yang mengayun antusias dan senyum lebar tanpa beban. Cahaya-cahaya matahari bersusah payah menerobos pepohonan tinggi, memberikan harapan kepada siapapun yang terlindung di bawahnya. Gemercik air dari anak-anak sungai seolah menyempurnakan keindahan lanskap pedesaan Flores yang kami datangi ini.

Setelah beberapa lama, kami berhenti di sebuah rumah penduduk yang seberangnya terdapat jalan setapak menuju air terjun. Dengan tambahan 2 penduduk lokal, rombongan sirkus kami pagi ini berjalan mantap menuju lokasi air terjun. Jalannya mudah-mudah sulit. Karena baru habis hujan, seringkali kami melintasi jalan setapak becek dan licin. Membuat kami jadi lebih ekstra hati-hati dalam melangkah. Sesekali kami melewati anak sungai yang jernih. Ajang untuk membasuh kaki penuh lumpur dan tanah, walau kita semua tahu kaki-kaki ini akan kembali kotor dalam beberapa langkah saja. Tidak sampai 1 jam perjalanan penuh perjuangan itu pun terbayar dengan sangat mahal! Sebuah air terjun cantik tersembunyi di balik hutan-hutan dan bebatuan. Udara segar, air sedingin es, menjadikan suasana saat itu persis seperti gambaran sebuah pedesaan di buku pelajaran Bahasa Indonesia semasa kecil. Tidak, kami tidak pecicilan meloncat ke dalam air terjun karena bebatuannya begitu licin, dan kami tidak tahu pasti berapa dalam air di bawah ini.

Hijau Royo-Royo Lembor & Cancar

Lagu-lagu campur aduk dari playlist Pudel menemani perjalanan kami ke Lembor. Mulai musik-musik Indonesia 90an, Sweet R&B awal 2000an, sampai top 40 yang hits beberapa dekade silam. Sepanjang jalan kami karoke (dan juga tidur) hingga saya tertegun ketika menatap ke luar jendela. Hamparan sawah yang nyaris tidak bisa dilihat ujungnya menyapu pandangan saya di kanan dan kiri jendela mobil. Mendorong saya untuk berhenti sejenak dari mobil demi mengambil beberapa gambar. Itu adalah sawah daerah Lembor, salah satu persawahan terluas di Flores sini. Bentuknya menyerupai sawah subak di Bali cuma dalam kapasitas yang lebih masif.

Beda halnya dengan persawahan Cancar yang saya lihat keesokan harinya. Anak tangga yang terjal mengawali pagi saya untuk mencapai puncak bukit. Bukit dengan lokasi pemandangan terbaik melihat petak persawahan di Cancar. Apa bedanya dengan kompleks sawah di Lembor yang kemarin saya lihat? Persawahan di Cancar ini berbentuk lingkaran-lingkaran raksasa yang menyerupai jaring laba-laba. Setiap sekat dimiliki oleh keluarga yang berbeda-beda dari desa sekitar. Ini adalah upaya pemerintah untuk melakukan pemerataan kesejahteraan. Setiap keluarga bertanggung jawab atas petak sawah miliknya. Nanti hasil buminya akan dijual untuk keuntungan pribadi.

Halo Todo

Masih menyisakan buai kagum dengan hijaunya Lembor & Cancar, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Todo sebelum kembali ke Labuan Bajo. Desa Todo ini termasuk desa tua di Manggarai, Flores. Ini adalah pusat dari semua kebudayaan Manggarai sebelum pindah ke Ruteng saat penjajahan Belanda. Awal mulanya, Manggarai dikuasai oleh 3 kerajaan: Kerajaan Goa dari Sulawesi, Bima dari NTB, dan Todo. Tapi kemudian, Todo berhasil menguasai seluruh Manggarai.

Di desa Todo ini terdapat 3 warisan penting yang berasal dari kerajaan Todo: Rumah Niang yang merupakan rumah induk dan sudah ada sejak ratusan tahun silam, yang kedua adalah gendhang yang terbuat dari kulit perut manusia (iya kulit perut manusia!), dan yang ketiga adalah Gong yang dikenal dengan sebutan Wuka.

Ada cerita legenda tentang gendhang yang terbuat dari kulit manusia ini. Dulu ada seorang raja yang menyukasi satu gadis cantik di desa. Si raja hendak mempersunting perempuan tersebut, tapi sang hawa menolak. Rajapun murka, dan memerintahkan untuk membunuh perempuan tersebut karena tidak rela jika sang idaman jatuh ke dalam pelukan laki-laki lain. Akhirnya kembang desa tersebut dieksekusi, yang kemudian kulit perutnya diambil untuk dijadikan gendhang yang kini masih ada sebagai barang warisan penting desa Todo.

Cerita ini cukup membuat badan saya hangat. Berusaha mengalihkan bayangan akan kulit perut manusia yang disobek, fokus saya kini tertuju pada pedagang bakso keliling asal Solo yang kebetulan sedang melewati desa ini untuk berjualan. Dengan berbekal sebuah motor dan featured phone, sang penjual bakso (yang saya lupa namanya) berani merantau dan berkeliling desa di Flores untuk berjualan bakso. “Setiap lebaran saya pasti balik Solo kok mas. Kalau kangen keluarga ya tinggal telepon. Kan sekarang gampang kalau mau telepon” ungkap si mas penjual bakso. Semangkuk bakso lengkap seharga 15 ribu rupiah, menjadi penghangat bagi dinginnya suhu Desa Todo.

Matahari semakin condong ke Barat. Kami berpamitan dengan Desa Todo untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo.

Setiap perjalanan pasti membawa cerita yang berbeda. Kadang kita harus kehilangan sesuatu, di waktu lainnya kita menemukan yang lebih berarti. Perjalanan ke Labuan Bajo ini memberikan saya sebuah pandangan lain. Tinae mengajarkan saya bahwa keberanian itu bukan sekadar berani mengarungi lautan dan tinggal di pulau lain jauh dari kampung halaman. Tapi juga keberanian itu tercermin ketika kita berhasil mengambil keputusan serta memanfaatkan peluang yang ada. Teman-teman perjalanan saya juga mengajarkan bahwa peluang itu bisa muncul dari sebuah tali silaturahmi. Tidak ada yang tahu, teman kita ternyata punya teman atau kerabat yang mungkin akan berhubungan dengan kita suatu hari nanti. Betapa silaturahmi dan menjaga komunikasi itu penting untuk tetap terhubung dengan satu sama lain.

Bintang-bintang Flores sudah tidak lagi malu menunjukkan dirinya. Angin laut semakin kencang, dan saya tiba di hotel Bintang Flores, tempat peristirahatan terakhir malam ini. Sampai berjumpa lagi Flores di lain kesempatan. Mata ini sudah terlalu berat untuk melanjutkan kerjanya.

Be Sociable, Share!

← Previous post

Next post →

1 Comment

  1. Saya seringkali berpikir, mereka yang masih tinggal di daerah seperti ini termasuk beruntung. Masih bisa menikmati yang serba hijau, udara segar. Asik banget

Leave a Reply