Ribuan mata kuning merayap lambat di jalanan ibukota yang kian sesak. Lampu-lampu kendaraan seakan menatap bosan dengan rutinitas Jakarta setiap hari Jumat: macet!

Saya duduk di kursi belakang mobil avanza hitam yang bergerak lambat di Gatot Subroto ke arah Pancoran. Layar handphone berukuran 5 inchi menjadi jendela saya untuk melihat dunia luar selain ribuan mobil parkir di jalan protokol ini. Sialnya saya… Lini masa sedang memanas. Aroma politik saat-saat ini sekuat aroma duren di musimnya. Para paslon dan pendukungnya ribut berkicau sebelum memasuki masa tenang menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta.

List spotify menyelamatkan saya dari peperangan verbal yang kian lumrah terlihat di timeline social media.

I had high hopes for us, baby
Like I was on dope for us, baby
Chasin after a high that Id never get back again
So we turn into three long years
And it became painfully clear that we,
We would never see those days again

Forever Dont Last – Jazmine Sullivan

Lagu galau pelipur lara menjadi pelarian saya dari realita maya di lini masa. Sampai akhirnya suara Pak Syach, supir Uber saya malam itu menarik saya kembali ke alam sadar. Bapak mau mampir toilet? Atau beli makanan? Soalnya perjalanan kita masih jauh dan lama, tanya si bapak dengan ramah.

Boleh pak, nanti kita mampir rest area di tol aja ya pak, jawab saya.

Tujuan kami masih sekitar 70KM lagi dari lokasi saya berada. Malam itu saya naik Uber menuju Purwakarta, kota kecil yang berada di antara Jakarta dan Bandung. Sebuah liburan singkat untuk menghabiskan akhir pekan yang sayang kalau hanya dihabiskan di kamar saja.

Sebenarnya untuk ke kota Purwakarta ini ada beberapa opsi yang lebih murah: naik bis, travel, atau kendaraan pribadi. Hanya saya baru saja menghabiskan 8 jam di kantor dengan seluruh kegiatannya merasa tidak sanggup jika harus menyetir sendiri. Akhirnya demi efisien waktu (bukan uang), saya memilih naik Uber ke Purwakarta dan menghabiskan IDR 303,000.

Saya tiba di tujuan setelah menempuh 3 jam perjalanan. Raga sudah terlalu lelah untuk terus terjaga. Kasur empuk dengan selimut hangat sulit untuk ditolak. Saya tertidur dalam hitungan detik…

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Giri Tirta Kahuripan

Suara alarm handphone menyadarkan saya dari perjumpaan singkat dengan Emma Watson di Yogyakarta. Mimpi indah yang harus berakhir karena itu mustahil untuk terjadi. Setelah berkemas, saya berangkat menuju sebuah tempat yang direkomendasikan penduduk setempat untuk mencicip durian langsung dari tempatnya: Giri Tirta Kahuripan. Dari namanya, justru terdengar seperti tempat pemandian, bukan kebun wisata. Persepsi itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Ternyata, Giri Tirta Kahuripan adalah kompleks wisata di Purwakarta yang menawarkan keindahan alam kota Purwakarta dari ketinggian. Dan kita bisa menikmatinya sambil… berenang! Yes, kebayang kan rasanya berenang melihat bukit hijau dan kabut tipis di sekitar kita. Kemudian durennya di mana? Ternyata selain kolam renang, Giri Tirta Kahuripan juga ada kebun berhektar-hektar dengan beragam jenis buah yang bisa dipetik dan dimakan langsung di tempat. Yang paling terkenal di sini adalah duriannya. Sayang, ketika saya datang ternyata tidak sedang musimnya. Kandas sudah impian saya makan durian hari itu. Walau demikian saya tetap terhibur dengan petugas taman yang mengantarkan saya keliling kebun dengan menggunakan bemo yang sudah dimodifikasi layaknya mobil safari. Kreatif!

Belajar Keramik
Destinasi yang menjadi favorit saya siang itu adalah berkunjung ke workshop keramik (gerabah). Saya berjumpa dengan pengelola workshop dan berkesempatan langsung melihat pengerjaan keramik yang ternyata memakan waktu tidak sebentar.

Di satu sudut gubuk penuh hasil kerajinan, duduk seorang kakek yang matanya sudah rabun. Rambut putihnya menceritakan betapa ia telah lama mengarungi hidup yang fana ini. Namun usianya yang sudah lanjut tidak membuat tangannya melambat. Gerakannya dalam mengolah tanah liat menjadi benda yang lebih fungsional. Sayapun terperanjat ketika mengetahui bahwa laki-laki yang saya perhatikan dari tadi ini telah bekerja sebagai pengrajin keramik sejak tahun 1970an. Selama itu pula ia berkarya hampir setiap hari membuat keramik-keramik untuk dijual kembali baik untuk pasar domestik ataupun internasional. Saya mungkin tidak bisa menyebutnya sebagai sebuah pekerjaan, tetapi sebuah identitas.

Kelak, saya ingin seperti kakek ini. Hingga tua melakukan apa yang ia suka. Baginya membuat keramik bukanlah sebuah pekerjaan, tapi sebuah passion yang terus ia lakukan dengan tekun hingga menjadi seorang master.

Air Mancur Terbesar se-Asia Tenggara
Hari menjelang senja. Saya beranjak menuju pusat kota Purwakarta. Beruntung karena hari itu bertepatan dengan peresmian air mancur terbesar se-Asia tenggara! Saya sungguh takjub, di kota kecil seperti Purwakarta ini ternyata terdapat sebuah ikon pariwisata yang sangat penting dan membanggakan! Saya mencoba peruntungan untuk melihat seperti apa peresmian yang mengundang sejumlah seniman ibukota dan seniman lokal Purwakarta ini.

Matahari telah hilang, masyarakat lokal membanjiri kawasan pusat kota. Penjaja makanan terlihat berjejer dengan aneka makanan yang menggoda. Semakin malam orang-orang mulai membanjiri lokasi. Polisi bersiaga di pos masing-masing. Anak-anak kecil tertawa riang, sebagian menangis karena kepanasan. Pasangan-pasangan muda bergandengan tangan seakan takut jika mereka terlepas dengan belahan jiwanya. Saya duduk di tikar menikmati ayam goreng dan nasi uduk sembari mengamati betis-betis berseliweran di hadapan saya.

Setelah perut terisi, saya bergegas menuju pintu masuk tempat acara di mulai. Sempat tertegun sebentar. Ratusan orang memadati pintu masuk yang nampaknya tidak dibuka oleh petugas. Saya dengan gesit menyelinap masuk kerumunan, hingga entah bagaimana caranya berhasil sampai depan pintu. Namun pintu tertutup rapat. Terlihat petugas memasang muka tegang. Ratusan masyarakat bersikukuh ingin masuk melihat keindahan air terjun yang dijanjikan termegah se-Indonesia. Antusiasme yang begitu besar benar-benar terasa di masyarakat Purwakarta yang haus akan hiburan berskala internasional.

40 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Sayapun pasrah dan berbalik arah kembali ke hotel. Kemudian saya memantau timeline social media dan mendapati acara peresmian air mancur ini sungguh luar biasa meriah. Patah hati rasanya, belum bisa menyaksikan langsung peristiwa bersejarah ini. Tapi saya cukup senang, Purwakarta punya satu destinasi penting di Indonesia yang membuat kota ini bisa merebut perhatian pelancong lokal dan internasional untuk berlibur. Sebuah destinasi wajib untuk pelancong yang ingin mengagumi keindahan air mancuir ini.

Be Sociable, Share!