Hari sudah nyaris berakhir. Saya menyusuri lorong panjang berwarna putih pucat dengan jendela yang memamerkan kelip-kelip cahaya pesawat yang sedang parkir. Schipol begitu dingin malam itu.

Sebuah jaket tebal dan seuntai syal melindungi saya dari suhu 4 derajat yang menyambut anak tropis ini ke negeri kincir angin.

Saya menyembunyikan tangan ke balik kantong jaket. Sesekali memeriksa handphone menanti pesan dari yang paling saya tunggu saat ini: adik perempuan semata wayang.

Setahun lebih saya tidak berjumpa dengan dia. Program studi yang padat, memaksanya untuk tetap di Belanda kendati rindunya pada sambal matah dan nasi ayam kedewatan tidak tertahankan.

Starbucks menjadi titik temu kami. Segelas hot latte membantu saya menghangatkan badan.

Baru beberapa sesapan, seseorang mencolek punggung saya. Perempuan setinggi 172cm berpipi tembam, tersenyum lebar menatap saya dengan mata berbinar. Adik kesayangan ada di depan mata. Sebuah pelukan erat menjadi sambutan kami berdua.

Perjalanan itu memberikan saya pertemuan lainnya. Pertemuan dengan orang yang tidak kalah istimewanya.

Pernahkah kamu menanti seseorang begitu lama? Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sampai kamu tidak tahu harus bereaksi seperti apa jika bertemu dengannya karena takut lepas kendali dan menjadi norak.

Itu yang saya rasakan. Jantung berdegup seperti sedang treadmill di gym, tapi sekujur tubuh kaku ketika ia ada di depan saya. Aroma tubuhnya sungguh familiar. Suaranya kini tidak lagi berasal dari speaker handphone. Wajahnya tidak lagi berukuran 5 inch. Dia nyata. Dia ada. Kerinduan itu meluap dalam pelukan dan air mata. Akhir dari sebuah penantian lama.

Be Sociable, Share!