Rotterdam, 2016.

Temaram lampu kamar mengantar sadar pada pendar-pendar kenangan.

Kamar loteng rumah Tante menjadi benteng terakhir saya dari suhu dingin yang menusuk tulang. Meringkuk di dekat heater, berbalut selimut tebal berwarna abu, saya menatap keluar jendela, menyapu pemandangan yang tersisa oleh lampu jalan.

“Tidur kali,” suara kakak semata wayang di sudut kamar memecah hening yang sudah khusuk ini. “Sebentar lagi, belum ngantuk.” Jawab saya singkat. Menit kemudian, bunyi dengkur pelan merespon jawaban saya. Sang kakak sudah larut dalam bunga tidurnya.

Menyisakan saya di kamar itu. Sendiri. Terjaga.

Ini waktu favorit saya. Waktu di mana saya mandiri dalam sunyi.

Pernahkah kamu merasakan lebih hidup dalam ketenangan?

Melakukan hal-hal yang kamu suka tanpa perlu kompromi dengan manusia lainnya. Bebas berekspresi lantang tanpa terganggu dengan hiruk pikuk dunia. Nalar-nalar liar seperti meraung lepas dari jeruji norma.

Bukankah ini menyenangkan? Merasa ramai dalam kesendirian. Paling tidak lebih baik daripada kesepian dalam keramaian.

Ini mengapa saya suka ketika terjaga seorang diri. Karena saya bisa menjadi raja bagi imajinasi saya sendiri.

Be Sociable, Share!