Ada satu hal yang lumrah dalam sebuah perjalanan, tapi bukan hal yang mudah setiap kali dijalankan. Perpisahan.

Suhu 1 derajat Celcius itu cukup menusuk tulang, menembus jaket tebal dan pertahanan dari empat lapis baju. Kami mempercepat langkah masuk ke dalam Albert Heijn. Langit kelabu Rotterdam tidak melulu memberi suasana yang saya harapkan.

Pelan-pelan trolley belanja kami terisi oleh sayur mayur, daging, dan aneka bahan masakan lainnya. Malam ini kami memilih memasak di rumah bersama orang-orang terdekat. Menu yang kami pilih adalah perpaduan Asian-Italian, dua hal yang familiar dan tergolong mudah dimasak.

Beberapa jam kemudian, dapur di rumah riuh dengan bunyi minyak panas, panci berdentang, dan diskusi serius antara memasukkan telur atau daging terlebih dahulu, disusul dengan ribut mengenai besar kecilnya api kompor untuk memasak curry.

Beda di dapur, beda dengan ruang tengah. Separo keluarga yang lain sibuk mengobrol ditemanin wine. Bercerita tentang topik-topik yang sangat acak. Diawali berita demo karena isu agama yang terjadi di tanah air, disusul panasnya pemilu negara adi daya yang akan dilaksanakan dalam hitungan hari. Atau sesimpel siapa yang akan nyuci piring setelah makan malam selesai. Pemandangan yang tidak ternilai harganya untuk saya.

Makan malam kami mungkin tidak semeriah fine dining di restoran berbintang. Tapi itu adalah makan malam paling mewah untuk saya dalam beberapa tahun terakhir. Keluarga saya lengkap ditambah dengan orang-orang istimewa. Saya tahu, saya tidak bisa meminta lebih dari ini.

Setiap pasang mata yang beradu memancarkankebahagiaan. Senyum-senyum lebar tersungging di sekeliling meja makan kecil ini. Cara paling manis untuk sebuah perpisahan. Karena esok, kami akan pergi untuk perjalanan yang berbeda. Andai situasi ini dapat terulang kembali suatu saat nanti.

Be Sociable, Share!