Aroma croissant hangat menyeruak ke seisi ruangan. Tidak ada yang lebih enak daripada pastry buatan Perancis.

Matahari masih sembunyi dari peraduannya. Kami menyantap roti panas ditemani secangkir teh sambil berdiskusi tentang sesi foto hari ini.

Sebelum restoran hotel didatangi tamu kamar lain, kami melipir mengejar metro terdekat.

Gelap. Dingin. Sepi. Tidak banyak orang di dalam metro yang kami naiki. Hanya duduk seorang pria paruh baya di ujung gerbong. Separuh tertidur dengan tangan terlipat di dada.

Tentu dengan jaket tebal berlapis, kami berjalan keluar lorong berangin menuju udara musim gugur yang menusuk.

Hanya beberapa belokan saja dari pintu keluar metro, saya melihat siluet hitam simbol romantisme manusia, menara Eiffel. Beberapa orang telah datang ke lokasi itu untuk tujuan yang sama: mengejar cahaya pagi. Satu bucket list sudah terpenuhi.

Kami sibuk mencari sudut cantik untuk berfoto. Membidik kamera masing-masing untuk sebuah gambar yang sempurna. Hingga saya menyadari keindahan yang sebenarnya bukanlah sekadar estetika cahaya.

Dia yang indah tidak sadar bahwa Eiffel akan berbeda makna tanpanya. Dia yang indah tidak melihat kehadirannya memberikan bunga untuk jingga.

Berlebihan? Bisa jadi.

Tapi menurut saya tidak ada yang berlebihan ketika kamu sedang kasmaran. Sampai membenarkan kesalahan adalah kewajaran.

Be Sociable, Share!