Sebelum membaca lebih lanjut, ketahuilah bahwa tulisan ini tidak runut. Saya mencoba menceritakan apa yang saya pikirkan sebelum tidur, dan menjadikannya sebuah tulisan. Saya akan memulai dengan sebuah pertanyaan besar hari ini:

Jika kamu dihadapkan oleh sebuah kenangan, apa yang akan kamu lakukan: Berenang dalam nostalgia? Atau menaruhnya dengan rapi untuk dibaca sesekali di kemudian hari?

Saya… saya termasuk orang yang mudah terseret dalam cerita masa lalu. Bukan hal yang membanggakan, tapi bukan pula hal yang memalukan. Banyak hal detil yang saya ingat di mana itu menarik saya kembali pada momen-momen yang pernah terjadi.

00.31

Satu malam yang hening di kota Jakarta. Kamar bernuansa putih dengan lampu temaram ini bagaikan taman eden untuk saya menyendiri dari bingarnya ibu kota.

Jam tangan tanpa jarum hitam yang tergeletak di meja. Garis-garis memori menyedot kesadaran saya ke beberapa waktu silam.

Mesin waktu membawa saya ke Italy di 2016.

Semburat kuning matahari nampak menerobos jendela kereta yang mengantarkan saya ke Verona. Sebuah kota kecil di mana cerita cinta Romeo & Juliet berasal.

Di hadapan saya duduk seorang perempuan berambut coklat membaca koran dengan segelas kopi di samping kursi. Ia tinggal di pinggiran Milan dan pagi ini sedang bertugas di sebuah kota kecil sebelum Verona.

Usai percakapan singkat dengan Lisa (iya, namanya Lisa) selama sisa perjalanan saya sibuk mencari apa yang sebaiknya saya lihat di Verona. Hingga saya terhenti pada cerita Shakespeare yang legendaris. Akhirnya saya memutuskan membaca lebih jauh tentang Romeo-Juliet yang berujung pada sebuah pertanyaan baru: bagaimana sebuah kematian bisa memisahkan sekaligus menyatukan sepasang kekasih dan membuat cerita mereka melegenda selama berabad-abad.

Ini yang ada di benak saya (kamu bisa menyanggahnya karena pemikiran ini tidak mutlak): tragedi!

Banyak cerita cinta yang terkenal di dunia ini justru tidak memiliki akhir yang bahagia. Rose & Jack, atau Roro Jonggrang. Semua cerita terkenal itu selalu mengawinkan cinta pada kematian. Tidak ada yang seindah Cinderella.

Saya melangkah menulusuri lorong-lorong cantik di Verona. Melihat toko-toko kecil yang semuanya indah apa adanya. Ada hal-hal yang tidak perlu dipoles untuk terlihat cantik.

Arthur Schopenhauer pernah menulis ini:

“If the immediate and direct purpose of our life is not suffering then our existence is the most ill-adapted to its purpose in the world.”

Dengan kata lain: pesimisme adalah Optimisme yang baru. Orang mungkin menyukai tragedi karena itu yang menunjukkan manusia adalah manusia… Rapuh, kecil, dan tidak luput dari kesalahan. Tragedi memohon orang yang menyaksikannya untuk berempati. Rome & Juliet adalah contoh paling benar bagaimana kita bisa berempati atas kematian dua sejoli yang tengah mencinta.

Karena kita tahu bagaimana rasanya kehilangan. Dan saya yakin setiap orang pernah merasakan sakit saat sedang jatuh cinta.

Seorang kawan dulu pernah bilang: “kalau kamu siap untuk jatuh cinta dengan seseorang, berarti kamu juga harus siap untuk sakit karena orang tersebut. Karena cinta itu pasti berujung pada rasa sakit. Sengaja ataupun tidak.”

Tidak ada yang salah dengan apa yang disampaikan kawan saya itu. Kapan terakhir kamu patah hati? Saya membawa kepedihan itu dalam perjalanan di Verona. Menyimpan duka yang kelak akan menjadi sebuah cerita. Walaupun tidak mungkin akan lebih semegah cerita Romeo & Juliet.

Be Sociable, Share!