Aroma tak sedap menyerang hidung ketika saya berjalan keluar stasiun kereta api. Langit sudah gelap, tapi samar-samar pendar lampu kuning memberikan cahaya pada lorong-lorong tak berujung. Selamat datang di Venezia.

Di sini, benteng pertahanan saya nyaris luruh hanyut dalam aliran sungai. Sesekali saya menghentikan langkah. Bimbang. Kemudian dengan penuh keraguan, kaki ini melanjutkan tapaknya. Terseret waktu yang sudah tidak muda lagi. Saya sangat berharap gelapnya malam ini juga mampu menyerap darah yang tak terlihat. Menjadi Lidocaine untuk luka yang masih menganga.

Sebuah pintu kayu berusia puluhan tahun berdiri kokoh tak bergeming. Setelah memencet bel dua kali, pintu angkuh itu bergerak ke dalam. Mempersilahkan kami masuk. Kepala saya langsung mendongak ke atas, mencari ujung dari sulur-sulur tangga terjal di hadapan saya.

Tangga kayu itu berderit menahan beban badan dan koper. Kamar saya ada di lantai 5. Iya lantai 5. Tanpa lift, perjalanan singkat dari bawah ke atas ini tentu terasa lama.

Tapi perjuangan itu setimpal dengan apa yang saya dapat ketika tiba di atas. Sebuah kamar apartment mungil nan cantik, dengan pajangan warna warni, kamar ini sungguh instagrammable. Sayang, saya sudah terlalu lelah untuk melakukan aktivitas lain selain tidur.

Garis-garis cahaya matahari terbit berhasil menembus lapisan tirai bunga yang melindungi ruangan ini dari dunia luar.

Dua potong pizza dan cappuccino menjadi sarapan kami pagi itu. Labirin kota seribu sungai ini siap menjadi daerah petualangan kami.

Gondola kanal kini terlihat jelas dan cantik. Angsa-angsa hitam tersebut bersenandung riang dalam bahasa Italia. Yang kami lakukan hari itu hanyalah berjalan-jalan mengagumi seisi kota ini dengan jepretan lensa.

Segala sudut nampak terlalu indah untuk dilewatkan sebagai tempat berfoto. Toko-toko kecil nan cantik tersebar di mana-mana memanjakan turis yang tak bosan tersesat di antara bebatuan dan sulur-sulur tanaman rambat.

Makan siang kami cukup sederhana. Pasta panas dan lezat, soda dingin, dan hamparan laut yang luas. Burung pelikan sesekali menghampiri untuk minta berbagi. Adalah hari tanpa ambisi menjadi agenda utama kami. Mengikuti kemana insting ini melangkah tanpa peduli salah arah. Waktulah yang menjadi pengendali kami.

Siang yang begitu cantik ternyata belum mengalahkan senja. Perpaduan langit kebiruan dengan temaram lampu kuning dan hiruk pikuk Jembatan Rialto adalah favorit saya di selama perjalanan ini.

Venezia yang cantik, Venezia yang magis, meninggalkan hati yang bersenandung. Biarlah aku mengenangmu dengan indah, dan menutup cerita ini layaknya dongeng anak-anak.

Be Sociable, Share!