Bab Saya, Menulis dan Peran Seorang Guru

Coba pejamkan mata kamu. Rasakan.

Setiap jantung yang berdetak.

Setiap oksigen yang bertukar dalam paru-paru.

Setiap beban yang membuat hari-harimu panjang.

Setiap luka yang membuat matamu berkaca-kaca.

Setiap momen yang membuatmu tersenyum sendiri.

Rasakan itu semua, dan coba tuangkan dalam tulisan..

Saya suka menulis sejak kelas 3 SD. Kegemaran itu tidak lepas dari jasa guru yang akan selalu saya sebut kapanpun ketika saya ditanya orang: Bapak Yakobus Ketut Suratna. Ia adalah wali kelas saya di kelas 3, di SD Santo Yoseph 1, Denpasar, Bali (dahulu namanya Swastiastu). Kenapa beliau?

Waktu kecil saya itu serba “terlambat”. Tidak lancar membaca & menulis sampai kelas 3 SD. Pun hampir tidak naik kelas karena itu. Guru-guru lain dulu melabeli saya sebagai anak bodoh. Bahkan orang tua saya sempat frustasi mengajari saya baca & tulis. Kenapa beliau?

Ia terkenal sebagai guru yang galak. Tentu, sekolah Katolik mana yang gurunya tidak galak-galak? Hahaha… Namun, sebagai anak yang punya ketakutan menghadapi pelajaran sekolah, ia tahu bagaimana membuat saya memahami apa yang tidak saya ketahui, dan pelan-pelan membuat saya menyukai pelajaran yang dulu saya takuti. Ia tidak pernah meremehkan saya. Dia tidak membuat saya ngeri dengan ancaman-ancaman seperti guru lain, tapi ia justru membuat si kecil Ivan merasa akrab dan membuka diri dengan pelajaran itu.

Dalam satu caturwulan, saya bisa baca tulis dengan lancar. Senangnya bukan main! Kemudian saya membaca apapun yang bisa dibaca. Komik, novel, buku pelajaran, majalah, semua habis dalam hitungan hari. Setahun kemudian mata saya harus dibantu kacamata karena minus 2.

Hingga sekarang, kegemaran itu belum hilang. Bahkan sempat menjadi mata pencaharian utama. Bagaimana saya tidak berterima kasih kepada beliau yang telah dengan sabar dan tanpa sadar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa untuk hidup saya.

Beberapa waktu lalu, ada seorang pembaca dari dunia maya bertanya: “bagaimana kamu bisa menulis seperti itu? Deskriptif & sering melankolis.” Bukan sebuah pertanyaan baru untuk saya. Sepersekian detik saya hendak membalas dengan sebuah template yang sudah ada. Tapi jari ini diam sejenak.

Dahulu saya bukan orang yang ekspresif. Saya menulis untuk mengutarakan isi hati. Semakin berat hari-hari saya, semakin lancar saya menulis. Mungkin itu alasannya saya lebih banyak menulis dengan nada-nada mellow.

Terapi menulis selalu berhasil membantu saya melewati masa-masa berat di dalam hidup. Masa-masa kehilangan, kala berduka dan sedih. Apa jadinya saya tanpa guru SD saya itu? Bagaimana saya bisa melewati masa sulit? Saya mungkin tidak seperti saya yang sekarang.

Itu yang selalu mengingatkan saya untuk bersyukur dan berterimakasih untuk setiap pertemuan dan perpisahan. Sebab mereka yang hadir dalam hidup kita pasti punya tugasnya masing-masing, sadar ataupun tanpa mereka sadari.

Be Sociable, Share!

← Previous post

1 Comment

  1. Aku jadi ingat dengan guruku sewaktu kelas 6 SD. Beliau juga wali kelasku. Aku dulu tidak pernah suka Matematika. Tapi, dengan beliau aku jadi suka Matematika dan nilaiku selalu bagus. Di nilai ujian kelulusan saja nilai Matematikaku bisa 10. Sayangnya, begitu SMP dan sampai sekarang, aku tidak lagi berjodoh dengan Matematika. Aku kembali benci dan takut. Juga kembali merasa bodoh di pelajaran yang satu ini.

Leave a Reply