Jari saya terhenti pada satu foto di instagram. Fotonya. Kemudian, memori saya terbang ke beberapa waktu lalu, ketika hidup sedang melucu. Mempertemukan saya dan dia untuk pertama kalinya di sebuah coffee shop jam 8 pagi. Saat itu percakapan kami begitu formal. Tidak ada yang istimewa.

Pertemuan kedua kami terjadi hampir 5 bulan kemudian. Di sebuah ruangan besar, berisi ratusan orang, ia muncul mencuri perhatian. Bukan karena ia menarik, tapi karena ia eksentrik. Terlalu berkarakter untuk bisa diabaikan begitu saja.

Apa yang istimewa tentang orang ini? Saya mengamati dari kejauhan. Tentu ia tak mengenali saya yang hanya bertemu sekali dalam sebuah pagi yang biasa. Memudahkan saya untuk berbaur bersama ratusan jelata lainnya dalam keriuhan yang biasa. Detik kemudian kehadirannya tak lagi menjadi sorotan. Saya hilang dalam arus lini masa. Sosoknya hilang dari perhatian secepat kilatan lampu tustel. Tak ada yang istimewa.

Seporsi burger tersaji di hadapan saya. Gelas-gelas bir kemudian menyusul menemani. Suasana mencair di bawah lampu-lampu temaram. Tawa lepas, hentakan kaki yang seirama dengan musik membuat malam itu menjadi lebih panjang dari biasanya. Sebuah tangan asing meraih tangan kosong saya yang sedang tidak memegang gelas, kaget. Kejutan apa ini? Bagaimana dia bisa mengingat saya?

Dia hadir hanya dua jengkal dari kaki ini berdiri. Saya mundur perlahan, memberi jarak.

Kemudian malam itu lenyap dalam ingatan.

Itu awal mula ia tak lagi menjadi orang asing dalam hidup saya.

Be Sociable, Share!