About iphan
ordinary man with extraordinary attitude.
Hujan turun dengan lebat. Saya dan Fania naik motor menerobos hujan di jalanan Ring Road Utara, Yogyakarta. Dihadapan kami ternyata ada genangan air yang besar. Dan saya pun mengangkat kaki agar tidak kecipratan air. Blackberry yang saya kantong di celana ternyata tergelincir keluar dan jatuh dengan keras di jalan. Belum selesai, kemudian sebuah mobil melintas dan melindas blackberry itu. Saya pun segera turun dari motor dan mengambil handphone malang yang tergeletak di atas aspal. Agak deg-degan, karena jalanan lagi ramai, ditambah hujan lebat. Tapi untung handphonenya masih bisa diambil.
Tidak usah ditanya, blackberry saya sudah pasti rusak. Masih bisa nyala sih, cuma layarnya putih dan ada retakan besar berwarna hitam di dalamnya. Hampir dipastikan karirnya sebagai handphone aku berakhir malam ini… Besok saya akan memindahkan contact bbm dan segala macamnya, sebelum nanti kalau ada rejeki, beli bb baru. Atau adakah yang berbaik hati beliin saya bb?
)
Untuk beberapa saat saya tidak bisa dihubingi via BBM ya. Tapi masih bisa telepon, dan SMS, email, atau sosial media lainnya.
Ps: fotonya diambil barusan. Maunya difoto pas kondisi nyala, cuma masih basah…
Suasananya, aromanya, orang-orangnya, makanannya, pakaiannya, cara menyapanya, semuanya tentang India persis seperti yang saya bayangkan. Rasanya seperti masuk ke dalam film Bollywood berdurasi 2,5 jam yang dulu sering tayang di TPI.
saya mendapat kesempatan untuk menjelajah India dalam 6 hari berkat program IT Travelers Go. Ketika wartawan-wartawan (yaelah, berasa seleb ya mas?) menanyai saya, negara mana yang paling berkesan selama perjalanan kemarin, saya menjawab dengan diplomatis: “Semua negara berkesan, karena saya baru pertama kali mengunjungi negara-negara itu. Tapi saya ingin sekali kembali ke India, tepat setelah saya berada di atas pesawat.”
Saya duduk di hamparan pasir berwarna putih kekuningan. Memandang langit berwarna jingga yang berawan. Debur ombak yang bergulung kecil di tengah laut, lengkap dengan warna keemasannya karena terpantul cahaya matahari. Saya berada di salah satu tempat favorit saya di dunia: Pantai! Saya menemukan sebuah ketenangan yang tidak bisa saya dapat di tempat lain. (bahkan saat pantai sedang ramai!)
Di tepi pantai, berdiri dua anak kecil yang tengah bermain air. Dua anak kecil laki-laki dan perempuan. Entah apa yang mereka imajinasikan, tapi mereka berdua seakan memiliki frekuensi sendiri – yang hanya mereka yang mengerti.
Apa yang saya pikirkan saat itu? Tidak ada. Hanya menikmati betapa indah dan cantiknya pemandangan yang ada di depan saya ini. Mengingatkan saya untuk terus bersyukur, tentang segala sesuatu yang saya miliki sekarang, sehingga masih bisa menyaksikan hal yang indah seperti senja di pantai selatan ini, beserta isinya.
Lokasi: Pantai Indrayanti (well, nama pantai Indrayanti ini sebenarnya bermasalah. Karena Indrayanti adalah nama pengelola penginapan di pantai tersebut. Sedangkan nama pantai [katanya] nggak boleh dari nama pengelola pantai milik swasta. Aslinya, pantai Indrayanti masih satu garis dengan pantai Sundak, yang dipisahkan oleh batu karang yang besar).
Tapi memang, menurut saya pantai Indrayanti termasuk pantai yang pengelolaannya paling bagus untuk kawasan pantai selatan Yogyakarta. Mulai dari penginapan, sampai tempat makannya. Tahun lalu saya pernah menginap di sini bersama teman-teman cahandong.

8 tahun silam, film ini menyuguhkan cerita segar tentang kehidupan para sosialita ibu kota, lengkap dengan intrik-intrik yang ada. Tidak hanya drama dari para ibu-ibu kaya raya yang suka arisan, Nia Dinata – sang sutradara, dengan berani mengangkat salah satu isu yang tabu saat itu: hubungan sejenis. Dari sana, nama Nia sebagai sutradara Indonesia yang berkualitas mulai dikenal. Kesuksesan film Arisan pun berlanjut ke serial televisi di ANTV pada pertengahan tahun 2000an. Dan sekarang, cerita itu berlanjut lagi di layar lebar. Arisan 2 lebih menekankan pada 5 sahabat (sekaligus sepasang kekasih) Sakti, Nino, Andien, Mei-Mei dan Lita dengan prahara masing-masing.
Ulasan film? Mungkin bisa dilihat dari para reviewer yang lebih ahli. Saya hanya mau memuji. Tidak hanya ceritanya yang menarik, tapi ada banyak pesan yang berhasil disampaikan Nia dalam film itu. The story is not always about drama. That’s why i like this movie. Porsi cerita, akting, sinematografi, semuanya disajikan nyaris tanpa cela. Hampir sepanjang film, saya tidak terlalu banyak “berkomentar” seperti yang biasa saya lakukan untuk film Indonesia lainnya. Menurut saya, selain memperlihatkan kehidupan sosialita yang bagaikan mimpi, film ini bercerita bagaimana umur sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka. Kesehatan yang ternyata sangat berharga, penampilan kulit yang ternyata perlu perawatan extra karena sudah berumur, hingga bentuk tubuh yang perlu perjuangan lebih keras untuk tetap sama seperti 8 tahun yang lalu. Dengan halus, Nia menampilkan kenyataan bahwa masyarakat menengah ke atas saat ini tengah berlomba-lomba untuk mengikuti berbagai perawatan, agar mereka bisa “mengontrol” penampilan fisik mereka, selain pakaian tentunya.
Berbincang tentang penampilan mereka, detil fashion dalam film Arisan 2 sungguh diperhatikan dengan cermat. Bagaimana Birkin bisa berkeliaran hampir di sepanjang film yang memperkuat label “sosialita” para ibu-ibu arisan, hingga berbagai rancangan desainer lokal yang turut menyemarakkan penampilan setiap tokoh. Oh, saya suka koleksi dari PVOMO sama Jeffery Tan di film ini.
Keseluruhan, dari 10 saya beri nilai 8.5 – Apresiasi saya untuk Nia dan tim.
Satu lagi: saya jadi pengen pergi ke Gili dan Snorkeling. Aaaah!

Saya bukan ingin bercerita tentang blog yang ada di ivanloviano.com. Tapi, blog yang saya tulis selama 18 hari selama perjalanan di IT Travelers Go di sini. Untuk pertama kalinya sejak punya blog dari tahun 2007, saya berhasil menulis 18 post setiap hari berurutan lengkap dengan 4 videonya. Sebuah prestasi tersendiri buat saya.
Lalu karena terbatasnya ruang dan waktu (tsaaaah!), banyak cerita-cerita menarik selama perjalanan dan selama menulis blog yang belum saya tulis dan publish. Rencananya saya mau nulis dalam beberapa postingan. Dimulai dari postingan ini yang bercerita bagaimana keriweuhan menulis blog setiap hari yang ternyata tidak mudah.
Ketika menulis adalah sebuah keinginan, bukan keharusan, akan ada rasa dalam setiap untaian kata yang terangkai. Begitupula ketika saya melihat seorang anak perempuan, berusia 9 tahun, di sebuah desa di pinggiran Yogyakarta. Ia bahkan tidak menyadari saya yang tengah mengamatinya dari jauh. tangannya sibuk meliukkan pulpen yang ia pegang. Ada sedikit kerut di dahinya. Ia sedang menulis sesuatu. Saya mendekatinya. Ingin mengetahui apa yang ia tulis. Tugas sekolah? Ternyata bukan. Ia sedang menulis catatan harian. Catatan harian pada sebuah buku cantik yang sedikit lusuh. Saya sempat membaca sebagian kalimatnya:
“…aku lupa membawa pensil tadi. Ayu ngasih pinjem pensilnya ke aku biar bisa nulis catatan di kelas. Ayu baik banget ya…”
potongan tulisan bocah dalam buku hariannya. Hal detil yang menyentuhnya hari itu, dicatatnya untuk terus mengingat momen sepele yang menurut dia penting: Ayu meminjamkan ia pensil.
Saya seolah tertampar. Gadis ini menulis dengan hati sebuah cerita sederhana dalam hidupnya. Dan cerita itu mungkin akan ia kenang dalam waktu yang lama. Kemudian di waktu lain, saya “kembali” mengunjungi blog yang telah lama saya tinggalkan berbulan-bulan. Membaca tulisan-tulisan lama saya. Lucu. Bagaimana saya bisa menulis seperti itu?
Dengan energi baru dan semangat baru, saya mencoba menulis kembali di ivanloviano.com ini. Semoga saya bisa terus membuat blog yang tidak seberapa ini hidup terus dalam waktu yang lama. Dalam postingan-postingan baru. Dalam bab baru yang saya mulai sekarang.
Akhir pekan ini aku bersama Rudy yang akhirnya berkembang ke anak-anak komunitas fotografi UPN ngadain acara workshop fashion fotografi yang menghadirkan fotografer kondang Luki Ali. Karya-karyanya banyak menghiasi majalah-majalah fashion ibu kota, yang beberapa juga dapat dilihat di www.lukimages.com.
Acaranya diselenggarakan pada:
Sabtu, 12 Maret 2011
Pukul 13.00-16.00 WIB
di Kampus FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta
Yang tertarik, buruan daftar. Karena tempat hanya tersedia 70 kursi.
Pendaftaran hubungi:
Tata (081903771392)
Bramanti (085643333501)
Novi (085729000523)
*klik foto untuk memperbesar gambar*
Malam Jumat biasanya timeline rada horor dengan munculnya #memetwit. Tapi tumben nih, semalem malah jadi #galau berjamaah gara-gara #10lagugalau. Trus iseng deh, mengabadikan kegalauan dadakan malam itu di sini. *siap-siap negak baygon* kita mulai ya…