»
S
I
D
E
B
A
R
«
Bab Perjalanan Pencarian Panjang (Part 3 – end)
Dec 31st, 2009 by iphan

Disclaimer : Full Curhat!

Baca juga : Part 1, Part 2.

Friendship

Senang rasanya tau dia baik-baik saja. Ada rasa ingin membesuk.

Tapi mencari waktu yang pas untuk bisa berangkat ke kota kembang sungguh sulit. Hampir mustahil.  Jadi sementara waktu alamat yang sangat tidak lengkap itu aku simpan baik-baik, jangan sampai hilang.

Dan akhirnya kesempatan itu datang juga. Bulan november, tepatnya ketika selesai mengantar orang tua pergi haji, aku tidak langsung kembali ke Jogja. Tapi dengan nekat dan tanpa persiapan yang lengkap aku berangkat ke Bandung. Sendiri.

Disana aku disambut sama @ichanx_euy. Di jemput, dan menginap di rumahnya (thank you ichaaanx). Berhubung ichanx ini anak gaul bandung yah, aku tanyalah alamat itu ke dia. Lalu ichanx nanya, tau gak tempatnya seperti apa. Aku menggeleng.

Dan dia menjelaskan bahwa nama daerah yang aku punya itu luas, besar, panjang, bercabang, dan complicated. Bakal sulit sekali menemukan rumah seseorang dengan modal nama kos dan nama jalan yang ternyata nama daerah bukan nama jalan yang spesifik.

krik..krik..krik.. mendengar itu aku seperti ditampar. Gila aja, apa sih yang diharapkan ketika dateng ke kota orang, mencari orang yang lama hilang, dengan alamat seadanya. Dan ternyata alamat itu tidak menjelaskan apapun selain besar dan luas untuk dicari seorang diri dalam satu hari.

Tapi entah dateng dari mana, jiwa petualang dan semangat ku untuk menemukan kembali seorang sahabat muncul. Aku memutuskan tetap untuk mencarinya.

Dan ichanx mengantarku lokasi daerah tersebut sambil menjelaskan daerah-daerah yang termasuk di dalam alamat tersebut. Guess what, tempatnya itu kalo di jogja kayak Pogung! Bercabang cabang. Dan rumit, dan panjang, belom lagi naik turun, dan itu diluar gang-gang kecil yang ternyata punya gang lagi.

Ichanx tidak ikut. Karena harus kembali ke Jakarta. Jadilah aku berdiri sendiri di pinggir jalan itu.

Pertama, strateginya bertanya ke setiap orang yang dilewati. Satu jam pertama, menemukan jalannya pun tidak. Tapi gak nyerah begitu aja. mulai bertanya dengan orang-orang tertentu. Misalnya mahasiswa, atau yang kelihatan seperti mahasiswa. Akhirnya aku menemukan nama cekeloa dalam. Dan itu dimana ya? gak tau juga sih. 15 menit kemudian aku menemukannya sendiri. Yaaaay!

Eh jangan seneng dulu. ternyata cekeloa dalam itu ya panjang dan bercabang cabang lagi di dalamnya. *glek*

Tapi baiklah, sekarang menanyakan nama kos-kosannya ke setiap penduduk yang ada disana. Menyusuri jalan utamanya adalah yang bisa dilakukan terlebih dahulu. Akhirnya aku jalan dari pangkal jalan cekeloa dalam sampai ujungnya sambil nanya-nanya nama kos-kosan itu.

Berasa di Reality show mana gitu. nanyain orang, tapi ada yang acuh, ada yang judes, ada juga yang kepo (nanya mau cari siapa, keperluannya apa, padahal ya dia gak tau juga nama tempatnya), sampe sepertinya semua orang yang lewat aku tanya gak ada yang ngerti. Habis sudah jalan cekeloa dalam, dan tidak ada satupun yang tau nama kos tersebut. Itu jam 1 siang…

Well, mungkin aku harus mencobanya sekali lagi. Aku berpikir keras, kira-kira siapa yang tau nama kos-kosan daerah situ. Anak-anak kos? Pak RT? atau siapa? Lagi-lagi keajaiban muncul. hahaha.. waktu lagi mikir-mikir dipinggir jalan. ada tukang antar air minum galon. Ya tukang air minum galon itu lagi nganterin Air Galon ke rumah yang ada di depan aku berdiri. Berdasarkan pengalaman nge kos di jogja, bahwa orang yang tau nama-nama kos itu antara lain tukang laundry antar jemput, dan tukang galon! Aku pun langsung mendatangi si Bapak begitu keluar dari rumah tersebut. Bertanya dengan sisa harapan yang masih ada (tsaaaah).

Seperti dapet air di gurun! Dia tau nama kos yang aku maksud! Dia pernah beberapa kali nganter Galon kesana. Hampir aja aku loncat-loncat saking senengnya (dan ini gak lebay). Trus akhirnya si bapak itu nganterin sampai depan gang sempit yang ternyata aku lewati tadi. Dia bilang kos nya itu ada di gang tersebut.

Setelah mengucapkan beribu terima kasih sama bapak itu, aku masuk kedalam. dan benar, gak jauh masuk kedalam, kos-kosan dengan nama yang dimaksud ada dihadapanku.

Well, sekarang aku hanya bisa berdoa. semoga alamat yang dikasih sama orang yang bahkan gak aku kenal beberapa bulan lalu via FS itu alamat asli bukan alamat palsu. Kedua, kalaupun alamatnya benar, semoga temanku itu tidak pindah. Dan kalaupun tidak pindah, semoga dia tidak pergi karena aku tidak membikin janji sebelumnya. Tapi aku lupa berdoa untuk kemungkinan lainnya..

Aku masuk ke dalam, mulai bertanya ke penghuni kos. entah kenapa mereka gak kenal satu sama lain. agak aneh. Tapi ada yang tau, dan bilang temanku tinggal di lantai 2.

Aku naik ke atas. menemukan satu kamar yang terbuka, dan bertanya ke orang itu dimana kamar temen kos ku. dan dia menjawab ada di seberang kamar ini. Aku membalikkan badan.

Melihat pintu tertutup rapat. Apa dia pergi? Aku hanya bisa mengetuk pintu dengan penuh harap. beberapa kali ngetuk pintu tidak ada jawaban. Trus orang yang tadi aku tanyain, nyamber : “gedor yang keras. dia tidur tuh”. Oke aku nggedor pintu itu seperti mau menggrebek orang yang ketauan selingkuh. buset dah…

Dia keluar… Sambil ngantuk-ngantuk baru bangun tidur. ya sahabatku itu ada di depan mataku. orang yang bertahun-tahun gak ada kabarnya itu berdiri disana. Terharu, senang, semuanya kacau saat itu. Aku begitu diliputi luapan emosi. Dan dia kaget setengah mati kenapa ada aku di depan kamarnya. Sempat beberapa waktu dia linglung, dia pikir masih mimpi. hahahaha…  :D

Tidak ada kata yang bisa menggambarkan situasi tersebut. (paling nggak aku gak bisa menggambarkannya dengan benar lewat kata-kata).

Dan kami pun bernostalgia dalam waktu yang singkat.

(tamat)

*ini postingan terakhir di tahun 2009*

Happy New Year all :)

Bab Perjalanan Pencarian Panjang (Part 2)
Nov 25th, 2009 by iphan

Disclaimer : Full Curhat!

Sebelumnya, silahkan baca postingan sebelumnya.

missing-piece

Keesokan harinya, setelah pembicaraan ditelepon dia pindah ke ibu kota tanpa ketemu dan pamitan dulu.

Kita masih sering telfon-telfonan dan SMS-an, hingga kecelakaan teknologi itu terjadi. Salah satu telfon seluler meluncurkan produk baru yang gratis SMS setiap hari. Semua orang seperti ganti nomer telfon. Termasuk aku dan dia. Kami kehilangan kontak satu sama lain.

Aku mencoba menghubungi nomer lama nya, tidak aktif. nomer ibunya (saking akrabnya aku sampe punya nomer ibunya) hilang bersama sim card yang satunya. sayang, teknologi friendster hadir ketika kami sudah lose contact.

Beberapa kali mengubrek-ngubrek friend list temen-temen lama di FS, tidak juga ketemu. Hingga teknologi berganti menjadi facebook. Aku pikir aku bisa menemukannya di FB, dimana sejuta umat memakainya. tetapi tidak ketemu. Google tak luput dari perhatianku. Segala keyword tentang dia aku tulis. dari nama lengkap, sampai tanggal lahir, mantan sekolahnya dulu, tetap tidak ketemu. Heran. Jangan-jangan anak ini gaptek banget sampai namanya gak muncul di google. Tapi enggak juga, secara dari SMP dia sudah punya email (dulu jarang banget ada anak SMP punya email). Dan emailnya pun sepertinya juga ganti. karena beberapa kali aku kirim email, tidak mendapat balasan.

Sampai akhirnya keajaiban itu datang. Pertengahan Oktober 2009. Aku iseng mencari namanya di Google, seperti sejuta kali yang pernah aku lakukan selama beberapa tahun terakhir. KETEMU! Ada satu page Friendster muncul dihalaman pertama google. Dan berisi tulisan namanya dia di profile. Begitu aku buka. Itu bukan dia. Tapi temannya. Aku liat last log in nya 24hr. Berarti orang ini baru buka FS. Tanpa meninggalkan kesempatan, aku mengirim privat message ke account tersebut. memberikan sedikit perkenalan, dan menanyakan tentang dia yang aku cari.

Aku tidak berharap banyak. berhubung jaman Friendster telah berakhir, aku pikir berapa sering sih orang buka FS secara intens sekarang?

Tapi keajaiban itu masih berlangsung. Orang yang aku kirimin message di FS itu membalas. Dan entah kenapa pemilic account ini mau memberikan alamat dia yang aku cari. tidak lengkap sih. hanya nama jalan saja tanpa nomer rumah, dan juga nama kosnya. Ya, info ini sedikit mencerahkanku. Setidaknya aku tau, Sekarang dia ngekos dan kuliah, di Bandung. Kota kelahirannya.

*bersambung*

Bab Perjalanan Pencarian Panjang (part 1)
Nov 24th, 2009 by iphan

disclaimer : Full curhat!

friendship

Cerita ini berawal dari tahun 2001.

Seorang perempuan sebaya, melangkahkan kakinya memasuki ruang kelas II.4, sebuah SMP Negeri di Bali. Satu kelas yang awalnya berisik, mendadak senyap. Semua memandangi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Termasuk aku. Disanalah pertama kali aku melihatnya.

Duduk persis dibelakangku. Senyum basa-basi sekaligus grogi karena belum kenal siapa-siapa. Istirahat pertama, aku sok-sokan berani kenalan sama dia. Untungnya dia baik.

Tapi gak semua orang nganggep begitu…

Berhubung dia pindahan dari ibukota, dan sempat juga besar di kota kembang, dialeknya masih “Jakarta” sekali, lengkap dengan lo-gue nya. Sialnya, di sini orang-orang masih tertutup untuk menerima hal berbeda semacam itu. Akhirnya munculah diskriminasi. Banyak yang bilang dia sombong, sok gaul, belagu, sok Jakarta, suaranya dibuat-buat, dan lain sebagainya. Sebuah adaptasi yang cukup sulit untuk perempuan kecil seusianya.

Beruntung aku dibesarkan disekolah swasta yang banyak pendatangnya. Setidaknya aku bisa menerima apa yang tidak bisa diterima kebanyakan temen-temenku di SMP Negeri itu.

Dalam waktu singkat, kami jadi sangat akrab. Dia ikut ekskul yang sama seperti aku, karate. Trus aku juga ngajak dia ikut ekskul KIR (hahaha, dari dulu, aku ini tukang hasut yang ulung). Begitulah sampai kami lulus sekolah menengah pertama ini.

Kami pisah sekolah. Aku di SMA Negeri itu, dia di SMA Swasta itu.

Kami masih kontak-kontakan (kebetulan rumah kami juga satu kompleks, tapi beda blok). Sampai awal kenaikan kelas 2 SMA, tahun 2004.

Malam hari dia menelepon.. Nanya kabar seperti biasa. Lalu, mulailah pembicaraan itu. Dia bilang harus pindah ke Jakarta. Aku masih tenang, karena aku pikir masih beberapa bulan lagi. Tapi ternyata, dia bilang besok. Iya benar-benar besok dia berangkat.

Senyap.

*bersambung*

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa