Bab Film

Bab Buried

 

Bagaimana perasaan kamuh dan apa yang kamuh lakukan kalo terjebak di dalam peti mati?

Kira-kira itu yang ingin digambarkan film Buried (2010) yang disutradarai sama Rodrigo Cortez. Bersetting di sebuah peti mati yang terbuat dari kayu tua, Paul Conroy (Ryan Reynold) sebagai pemeran utama dan satu-satunya berusaha keluar dari peti itu dengan menghubungi orang-orang yang sekiranya bisa membebaskan dia. Mulai dari 911 (biasalah ya, Amercian kalo ada apa-apa ngadunya ke 911. Lha kalo di Indonesia, gimana? Wong Presidennya aja suka curhat juga kok. *eh), sampai kantor FBI, keluarga, dan kantor tempat dia kerja sebagai supir di Iraq. Iya Iraq.

Tidak ada yang bisa dieksplor dari setting lokasi yang hanya berukuran 2×1 itu (sok tau bener sih, emang ngukur pow?!). Permainan cahaya disepanjang film adalah upaya penyelamatan yang dilakukan untuk membuat gambar menjadi lebih dinamis. Kemampuan akting Ryan juga diuji disini. Selain karena dia tidak punya lawan main, penonton akan terus-terusan berkonsentrasi pada dirinya yang mimik serta gesturnya selalu diambil dengan angle close up dan extreme close up.

Satu kesalahan fatal yang akuh lihat dari film ini adalah setting waktunya. Di dalam dialog saat merekam video dari ponsel, Paul mengatakan bahwa saat itu adalah tahun 2006. TAPI, dari awal film sampe akhir, dia telepon-teleponan ples ngambil video pake Blackberry Curve 8900 a.k.a Javeline yang kalo menurut press release dari RIM, baru diluncurkan pada tanggal 8 Maret 2009. Trus kalo mau lebih teliti lagi, Javeline sudah dilengkapi dengan GPS dan seharusnya, si Paul bisa ngirim titik koordinatnya ke orang yang sedang dihubunginya. Gak perlu peralatan canggih FBI sih untuk melacak hal sesimple itu. Kenapa bisa kecolongan gitu ya? Padahal handphone merupakan properti sangat penting di dalam cerita Buried.

Jadi menurut akuh, film ini nilainya 6,5 dari 10 bintang. Not Bad but not close to good.

Standard