asiatri
Bab Eksis, Bab Seni

Bab AsiaTri (1)

Salah satu keinginan saya sebelum meninggalkan Jogja adalah nonton AsiaTri. Sebuah dance festival yang diselenggarakan oleh 3 negara: Jepang, Korea, dan Indonesia.

Setiap tahun, AsiaTri selalu diselenggarakan di 3 negara itu dengan mengundang seniman-seniman dari berbagai negara. AsiaTri untuk Indonesia hampir selalu diadakan di Jogja, tepatnya di Museum Ullen Sentalu. Nah, ini pengalaman pertama saya menonton event internasional itu. Semangat, pasti! Apalagi setelah menyaksikan performance hari pertama ini. Sebuah hiburan gratis yang berkualitas. Oh iya, ini acara gratis. Cuma butuh effort lebih aja untuk menempuh 24KM menanjak ke arah Merapi. Tapi apa yang kita tonton sungguh sepadan.

Kalau kamu ada di Jogja sampai tanggal 4 Oktober 2012 besok, jangan lupa untuk nonton acara ini, gratis. Mulai dari jam 7 malem sampe selesai.

Foto-foto ini adalah pertunjukan terakhir hari pertama. Saya lupa nama-namanya. Yang jelas mereka adalah seniman dari Jepang yang mengajak 2 penari kita untuk berkolaborasi (Salah satunya Mila Rosinta, kenalan saya). Mereka layak dijadikan penutup. Luar biasa keren!

 

Standard
Bab Eksis, Bab Film

Bab Setjangkir Kopi dari Plaja

Setjangkir Kopi dari Plaja

“Because the love still exists…”

Itulah kata penutup dari pementasan teater boneka dari Papermoon Puppet Theater yang berjudul “Setjangkir Kopi dari Plaja”.

Sore itu saya mendapat kesempatan menonton pementasan teater boneka yang terkenal di Jogja, Papermoon. Sudah lama saya ingin menonton pertunjukan Papermoon, tapi selalu terlewat. Kali ini saya beruntung karena mendapat tiket lebih dari Sita, padahal tiket  sudah sold out dari beberapa hari sebelumnya.

Di undangan kami diminta untuk berkumpul di Kedai Kebun pukul setengah enam sore. Tertulis juga, bahwa mereka akan membawa kita ke lokasi vintage yang alamatnya dirahasiakan. Hmmm… menarik.

Continue reading

Standard
Bab Kuliner

Bab Chocolate Lava

Tengah malam.

Saya membutuhkan tempat yang berkoneksi, dan nyaman untuk mengerjakan tugas. Dengan mencoret kantor, dan kos sebagai tujuan saya malam ini, berarti pilihannya adalah kafe. Sayapun teringat pada seorang teman yang kini sedang membuka kafe di Jogja. Belum opening sih, tapi di sana sudah ada kursi, meja, dan internet yang saya butuhkan. Ternyata, ia tidak hanya memberikan saya fasilitas internet gratis, tapi juga membuatkan saya cake coklat di tengah malam buta. Chocolate Lava.

Continue reading

Standard
Bab Curhat

Bab Senja di Selatan

sunset

Saya duduk di hamparan pasir berwarna putih kekuningan. Memandang langit berwarna jingga yang berawan. Debur ombak yang bergulung kecil di tengah laut, lengkap dengan warna keemasannya karena terpantul cahaya matahari. Saya berada di salah satu tempat favorit saya di dunia: Pantai! Saya menemukan sebuah ketenangan yang tidak bisa saya dapat di tempat lain. (bahkan saat pantai sedang ramai!)

Di tepi pantai, berdiri dua anak kecil yang tengah bermain air. Dua anak kecil laki-laki dan perempuan. Entah apa yang mereka imajinasikan, tapi mereka berdua seakan memiliki frekuensi sendiri – yang hanya mereka yang mengerti.

Apa yang saya pikirkan saat itu? Tidak ada. Hanya menikmati betapa indah dan cantiknya pemandangan yang ada di depan saya ini. Mengingatkan saya untuk terus bersyukur, tentang segala sesuatu yang saya miliki sekarang, sehingga masih bisa menyaksikan hal yang indah seperti senja di pantai selatan ini, beserta isinya.

Lokasi: Pantai Indrayanti (well, nama pantai Indrayanti ini sebenarnya bermasalah. Karena Indrayanti adalah nama pengelola penginapan di pantai tersebut. Sedangkan nama pantai  [katanya] nggak boleh dari nama pengelola pantai milik swasta. Aslinya, pantai Indrayanti masih satu garis dengan pantai Sundak, yang dipisahkan oleh batu karang yang besar).

Tapi memang, menurut saya pantai Indrayanti termasuk pantai yang pengelolaannya paling bagus untuk kawasan pantai selatan Yogyakarta. Mulai dari penginapan, sampai tempat makannya. Tahun lalu saya pernah menginap di sini bersama teman-teman cahandong.

Standard
Bab Curhat

Tukang Parkir dan Tukang Palak

Tukang parkir yang beneran :)

Tukang parkir yang beneran :)

Job desk tukang parkir sejati versi iphan :

  1. bantuin nyari tempat parkir.
  2. bantuin markirin motor / ngarahin parkir mobil
  3. bantuin ngeluarin motor dari tempat parkir / ngarahin mobil keluar dari tempat parkir.
  4. menjaga keamanan area parkir.
  5. karcis parkir asli. Punya pemkot setempat.
  6. harga parkir sesuai dengan karcis parkir
  7. tukang parkir asli, pake seragam, dan memang ditempatkan untuk bertugas disana.

Job desk tukang parkir yang sebenernya adalah tukang palak versi iphan :

  1. cuman nyuruh markir di suatu tempat.
  2. ngasih karcis parkir palsu, (atau bekas pakai)
  3. bantuin markir aja enggak.
  4. bantuin ngeluarin motor aja enggak.
  5. pas mau keluar cuman berdiri disamping sambil minta karcis dan minta duit.
  6. harga parkir suka-suka dewe. Seribu buat yang kayaknya sering kesitu, seribu limaratus yang punya muka cakep ato keliatan berduit, dua ribu kalo ada event atau mau hari raya atau lagi nggak punya duit.
  7. biasanya bukan tukang parkir beneran, alias preman setempat, atau tukang becak, atau pengangguran yang pengen dapet duit tanpa usaha yang berarti.

Continue reading

Standard
Uncategorized

Malioboro dan Mbak XXX

malioboro

Malioboro. Salah satu ikon Yogyakarta yang terkenal. Punya banyak nilai dan kenangan, untuk setiap orang yang sempat singgah ke kota yang dijuluki Never Ending Asia ini. Juga, sebagai salah satu tempat perekonomian bagi pedagang kerajinan khas Yogyakarta. *udah EYD blom bahasaku?*

Malioboro… dan nggak perlu deh disebutin ada apa aja di sana.

Tapi yang aku mau cerita pengalaman teraneh selama aku mondar mandir di lorong Malioboro yang terkenal itu.

Jadi kemaren malem, pas lagi nyari blangkon merah ukuran orang dewasa dengan harga dibawah 15 ribu, ada mbak-mbak datang menghampiri. Ciri-cirinya berbaju gelap ketat, rambut dikuncir kuda, umur sekitar 25 an, memakai lipstik warna senada dengan bibir, pemerah pipi warna kecoklatan, parfum dari bibit umbi-umbian, rok batik selutut tinggian dikit, anting-anting gelang besar yang sering dipake alicia keys itu, gak ketinggalan tas selempang batik. Segi wajah, Bukan tipe aku sama sekali. tinggi? Lebih tinggi dikit dari tika. Tapi tetep lucuan tika (menjura ke tika).. :D

Lalu terjadilah percakapan seperti ini :

mbak X : “permisi mas, lagi nyariin apa?”
aku : *masih jalan, gak sadar kalo dipanggil*
mbak X : “mas, mas…” *nyolek aku*
aku : “eh.. ah… iya mbak?” *kaget beneran, sudah berani maen colek-colekan nih…*
mbak X : “masnya, disini nyari apa?”
aku : “nyari blangkon, mbak” *sopan,sesopan-sopannya*
mbak X : ” Kesini sama siapa?”
aku : *otakku tiba-tiba ter upgrade ke umur 21 tahun +* “sendirian mbak”
mbak X : “masnya, dari mana?”
aku : “oh, saya dari bali.” (gak boong kan?)
mbak X : “ada nomer hape?”
aku : “buset, blom kenalan udah nanya hape nih” *meladeni mbaknya dan melupakan blangkonnya mode on*
mbak X : “ah, masnya bisa aja… kenalin aku A***”
aku : “aku, Pri” (keceplosan, make nama samaran pas kenalan sama blogger virus tak ganteng sama sekali itu. terinspirasi dari nama aprikot yang sangat universal itu, tapi disingkat Pri. Padahal aprikot itu cewek. maapkan aku jeung Pri…)
mbak X : “Jadi, nomer hape masnya?”
aku : “buat apaan mbak?”
mbak X : “buat menghubungi masnya, kalo masnya perlu guide di jogja”
aku : “oh… gini mbak, aku lagi mau nyari blangkon”
mbak X : *sangat agresif menjawab* “saya temeni! Masnya, kalo capek bisa saya pijetin ntar.”
aku : “berapa memangnya?” *aseli, iseng banget nanya beginian*
mbak X : “nggak enak ngomong disini mas, kita duduk dulu gimana. itu ada dankin donat *nunjuk dankin donat yang ada di ramai mol itu*
aku : “makasih, mbak… tapi saya ini kuliah di jogja mbak. bukan turis”
mbak X : *sadar dari kekhilafannya* “oh, maaf” *ngeloyor pergi*

Beh, aku tengak-tengok kanan-kiri. Ternyata ibu-ibu, mas-mas, mbak-mbak, mbah-mbah yang lagi jualan pada merhatiin dan cengar-cengir, ketawa-ketiwi, bisik-bisik ndak jelas… Sepertinya mereka tau dan ngerti siapa si mbak itu dan pembicaraan apa yang kita obrolin… Argh, Mbak X, dirimu merusak citraku sebagai anak baek-baek dimata pedagang Malioboro!!!

Aku masih perlu waktu beberapa menit untuk harus menyadari, kalo aku lagi di Malioboro bukan Pasar Kembang… ato jangan-jangan pasar kembangnya udah melebarkan sayapnya hingga malioboro?!

Trus blangkonnya? hahaha… lupa… jadi malah jalan-jalan ke maliobor mol. melarikan diri dari mbak X, dan pedagang-pedagang yang cekikikan nggak jelas itu…

Standard